Oleh: Entang Sastraatmadja
Dalam suatu kesempatan, seorang petinggi negeri mewanti-wanti potensi krisis air yang bisa berdampak pada sekitar 50 juta petani. Iklim yang semakin ekstrem menjadi tantangan berat bagi dunia pertanian dan kehidupan kaum tani. Peringatan ini perlu dicermati dengan serius, terlebih dunia sedang bergerak menuju “neraka iklim” dengan suhu tertinggi dalam lima tahun ke depan.
Kondisi ini jelas meresahkan, terutama jika dikaitkan dengan peringatan dari Badan Pangan Dunia (FAO) bahwa jika tak ada solusi konkret, pada tahun 2050 dunia berpotensi dilanda kelaparan massal. Maka, sangat penting bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk lebih cerdas membaca isyarat zaman yang tengah bergulir.
Fenomena El Nino, yang berbarengan dengan musim kemarau panjang, telah menyebabkan gagal panen di berbagai sentra produksi padi. Produksi beras nasional turun drastis, memicu terganggunya ketahanan pangan bangsa. Tragisnya, pemerintah tampak belum siap mengantisipasi kondisi ini. Pendekatan yang diambil cenderung reaktif, layaknya “pemadam kebakaran”.
Bayangkan jika sejak awal kita sudah menyiapkan program seperti pompanisasi, perluasan areal tanam, atau percepatan musim tanam. Tentu, kita tak perlu kelabakan menghadapi El Nino. Namun sayang, antisipasi itu tak disiapkan dengan baik. Pemerintah baru bergerak setelah bencana tiba.
Kini, El Nino telah membawa korban. Pemerintah sering menjadikan fenomena ini sebagai kambing hitam atas turunnya produksi beras. Akibatnya, impor beras pun jadi kebutuhan, bukan lagi sekadar pelengkap perdagangan internasional.
Yang patut direnungkan: bagaimana jika krisis pangan global benar-benar terjadi dan negara-negara produsen beras menutup keran ekspor mereka? Seperti India, misalnya, yang telah menutup ekspor gandum demi mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri.
Krisis pangan global sudah mulai terasa. Lebih dari 60 negara, dengan lebih dari 300 juta penduduknya, mengalami krisis pangan. Harga pangan melambung, dipicu oleh penurunan pasokan akibat pandemi COVID-19, perubahan iklim, dan perang Rusia-Ukraina. Akibatnya, banyak masyarakat dunia sulit mengakses pangan, bahkan mengalami stunting dan gizi buruk.
Beruntung, Indonesia masih memiliki cadangan beras yang cukup, hampir 2 juta ton di gudang-gudang Bulog. Sistem pertanian kita dinilai tangguh. Swasembada pangan pernah tercapai dalam kurun 2019–2021 tanpa impor beras komersial. Bahkan, BPS merilis bahwa pada awal 2025 produksi beras diprediksi meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Inilah yang menyelamatkan kita dari krisis global. Produktivitas padi per hektare meningkat, cadangan beras tersebar merata di tingkat nasional hingga rumah tangga. Untuk itu, semangat mempertahankan dan meningkatkan produksi harus digelorakan, khususnya saat musim paceklik. Varietas unggul yang tahan iklim dan serangan hama patut dikembangkan secara masif.
Saat ini dibutuhkan kehadiran teknologi pertanian cerdas, didukung oleh Penyuluhan Pertanian Cerdas (smart extension). Tanpa penyuluhan, pembangunan pertanian hanya omong kosong. Swasembada beras tak akan terwujud tanpa peran aktif penyuluh pertanian, yang mengajarkan sistem budidaya berbasis teknologi dan inovasi terbaru.
Para penyuluh inilah yang menjadi penggerak utama (prime mover) perubahan. Dari petani subsisten menjadi petani pengusaha yang mandiri dan profesional. Penyuluhan Cerdas adalah proses pendidikan nonformal yang mendorong perubahan perilaku dan peningkatan kesejahteraan petani beserta keluarganya.
Yang perlu dikaji lebih dalam adalah: apa perbedaan mendasar antara Penyuluhan Pertanian Biasa dan Penyuluhan Cerdas? Apakah penyuluhan selama ini belum cerdas? Ataukah kita perlu pembaruan paradigma?
Pernyataan “Penyuluh Kuat, Pertanian Hebat” bukan sekadar slogan. Kualitas dan kenyamanan kerja penyuluh pertanian akan menentukan keberhasilan program mereka. Maka, peningkatan kapasitas mereka harus menjadi prioritas serius.
Krisis pangan global perlu direspons dengan cermat. Mungkin saat ini kita masih bisa menghadapinya, tapi jangka panjangnya belum tentu demikian. Krisis semacam ini sering menjebak tanpa disadari. Kita perlu mengantisipasi segala kemungkinan, bahkan skenario terburuk sekalipun. Jangan sepelekan. Mari belajar dari krisis-krisis sebelumnya, dan temukan solusi terbaik untuk bangsa ini.
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)





















