Oleh: Entang Sastraatmadja
Layak bila kita memberi apresiasi kepada Perum Bulog. Dalam upaya menyerap gabah petani sebesar-besarnya, Bulog menunjukkan terobosan yang cerdas dan komitmen tinggi dalam mendorong kinerjanya. Tak ingin para Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang dicopot akibat kinerja buruk, Bulog terus berupaya membangun citra baru di tengah masyarakat.
Sebagai anak bangsa, kita patut angkat topi. Di saat umat Islam merayakan Idulfitri, Bulog tetap melaksanakan tugas menyerap gabah dan beras petani. Artinya, manajemen Bulog, baik di pusat maupun daerah, mampu mengatur waktu dan sumber dayanya agar proses penyerapan tetap berjalan meskipun bertepatan dengan hari libur nasional.
Langkah ini tentu tidak terlepas dari penugasan pemerintah kepada Bulog sebagai operator pangan nasional. Dalam menghadapi musim panen kali ini, Bulog ditargetkan mampu menyerap gabah kering panen (GKP) setara dengan 3 juta ton beras.
Menurut laporan pemerintah, hingga akhir Maret 2025, Bulog telah menyerap sekitar 725 ribu ton gabah atau beras. Ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, sejumlah pihak menyebut angka ini sebagai capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Namun, jika merujuk pada target awal, Bulog masih harus mengejar sekitar 2,2 juta ton atau 75 persen dari total target. Artinya, saat ini Bulog baru mencapai 25 persen dari target. Bila target diturunkan menjadi 2 juta ton, kekurangannya tetap berada di angka 63 persen.
Dengan sisa waktu sekitar dua bulan ke depan, perjuangan Bulog belum selesai. Kebijakan untuk tetap bekerja di saat Lebaran menjadi bukti nyata dari komitmen lembaga ini dalam memenuhi tanggung jawab yang diembannya. Bulog menunjukkan keseriusan dalam menyerap gabah petani, kapan pun dan di mana pun.
Kurun waktu dua bulan ke depan akan menjadi pertaruhan penting bagi Bulog untuk membuktikan kapasitasnya dalam memenuhi mandat pemerintah. Seiring dengan panen raya yang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia, Bulog tampaknya sudah menyiapkan strategi dan infrastruktur guna memastikan penugasan ini dapat terlaksana dengan baik.
Serapan gabah kali ini punya banyak tujuan strategis. Salah satunya, tentu saja, memperkuat cadangan beras pemerintah—yang selama ini kerap merisaukan. Produksi beras dalam negeri acapkali tak cukup untuk mengisi stok cadangan nasional.
Selain itu, serapan tinggi juga menjadi indikator penting bagi suksesnya kebijakan penghentian impor beras mulai 2025. Klaim bahwa Indonesia akan kesulitan tanpa impor kini mulai terpatahkan oleh produksi dalam negeri yang melimpah.
Bahkan lebih jauh, pencapaian ini membuka peluang untuk mewujudkan kembali swasembada pangan—terutama beras—seperti yang menjadi semangat Presiden Prabowo Subianto dan jajaran Kabinet Merah Putih. Maka dari itu, produksi dan produktivitas padi harus terus ditingkatkan.
Prediksi Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa produksi beras nasional kali ini diperkirakan akan meningkat signifikan. Situasi langka seperti ini harus dikelola dengan baik, apalagi Kepala Badan Pangan Nasional menyebut Indonesia berpeluang surplus beras hingga 3 juta ton pada panen raya kali ini.
Inilah salah satu alasan mengapa Perum Bulog tetap menyerap gabah meskipun saat libur Lebaran. Bulog secara proaktif menunjukkan dukungan nyata terhadap visi Presiden Prabowo dalam mencapai swasembada pangan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kini, Bulog jemput gabah petani menjadi ikon baru semangat kerja Bulog.
Harus diakui, baru kali ini Bulog menunjukkan kerja keras yang luar biasa dalam menyerap gabah saat panen raya. Bekerja di hari libur kini tampaknya menjadi tren baru para pejabat publik dalam meningkatkan kinerjanya. Beberapa waktu lalu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga menyatakan bahwa baginya tidak ada hari libur. Tanggal merah bukan alasan untuk berhenti bekerja. “Bekerja, bekerja, dan bekerja,” katanya.
Langkah Bulog bekerja di hari libur adalah cermin kecintaan yang mendalam terhadap tanggung jawab kebangsaan. Panen raya harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Bulog berharap tak ada satu petani pun yang kesulitan menjual hasil panennya. Bulog siap menyerap gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Dengan waktu dua bulan ke depan, kita optimis Bulog akan all out dalam menyerap gabah petani selama panen raya berlangsung. Pencopotan Pimpinan Wilayah Kalimantan Selatan dan Pimpinan Cabang Nganjuk, Jawa Timur, menjadi pelajaran penting bagi Bulog untuk terus melahirkan pemimpin daerah yang kompeten, bekerja serius, dan bertanggung jawab.
Semoga ke depan tak ada lagi pimpinan Bulog di daerah yang harus dicopot. Karena tugas utama kita kini adalah menjamin petani bisa menjual panennya, rakyat bisa mengakses beras, dan negara tetap berdiri dengan perut yang kenyang.
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)
























