FusilatNews – Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi politik dan kepemimpinan nasional dalam analisis terbarunya yang berjudul “Macan Asia Dimakan Kodok Solo”. Dalam kajiannya, Sutoyo menyoroti bagaimana Indonesia, yang pernah dijuluki Macan Asia, kini menghadapi kemunduran akibat praktik politik yang melemahkan negara.
Sutoyo menggunakan metafora Macan Asia untuk menggambarkan potensi besar Indonesia di bidang ekonomi dan geopolitik kawasan. Namun, menurutnya, kekuatan itu kini terkikis oleh kebijakan politik yang lebih menguntungkan elite dibandingkan rakyat.
“Istilah Kodok Solo bukan tanpa alasan. Ini menggambarkan bagaimana kepemimpinan yang berasal dari Solo justru menggerogoti kekuatan bangsa daripada memperkuatnya,” ujar Sutoyo dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (1/3/2025).
Meski tidak menyebut nama secara langsung, banyak pihak menafsirkan kritik ini mengarah pada Presiden Joko Widodo dan dinasti politik yang berkembang di sekitarnya, termasuk putranya yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka.
Dalam analisisnya, Sutoyo menilai kepemimpinan saat ini semakin menjauh dari kepentingan rakyat dan justru memperkuat oligarki serta kepentingan asing. Ia menyoroti ketimpangan ekonomi yang semakin melebar, ketergantungan pada investasi luar negeri, serta pengelolaan sumber daya alam yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan nasional.
“Jika terus seperti ini, Indonesia akan kehilangan taringnya. Dari Macan Asia, kita bisa berubah menjadi negara lemah yang tak lagi diperhitungkan di kancah internasional,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sutoyo juga mengkritisi maraknya politik uang dan korupsi yang semakin mengakar. Menurutnya, praktik ini bukan sekadar merusak sistem demokrasi, tetapi juga melemahkan daya saing Indonesia.
“Kebijakan yang seharusnya untuk rakyat justru menjadi alat segelintir orang untuk mempertahankan kekuasaan. Ini berbahaya dan harus dihentikan,” tambahnya.
Di media sosial, kajian “Macan Asia Dimakan Kodok Solo” memicu perdebatan sengit. Sebagian besar netizen mendukung pernyataan Sutoyo dan menganggap analisis tersebut mencerminkan realitas politik saat ini.
“Setuju! Indonesia harusnya semakin maju, bukan malah semakin dikuasai oligarki,” tulis seorang pengguna di platform X (sebelumnya Twitter).
Namun, tak sedikit pula yang menilai kritik ini terlalu tendensius.
Kajian ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih kritis dalam melihat arah kebijakan nasional. Sutoyo Abadi menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki potensi besar untuk kembali menjadi kekuatan utama di Asia, asalkan kepemimpinan yang ada benar-benar berpihak pada rakyat dan mengutamakan kepentingan nasional.
“Jika kita tidak segera melakukan perubahan, bukan mustahil Indonesia benar-benar kehilangan statusnya sebagai Macan Asia,” pungkasnya.
























