Ada yang sulit bisa difahami, ucap dan gaya Duta Besar Luhut, dalam melakukan negosiasi. Apa itu? Keluwesan diplomasinya, tidak tampak, kecuali ia seperti terlihat sebagai Jenderal penguasa yang garang. Coba kita simak, kalimat ini; “Rencana investasi dari Tesla di Indonesia masih belum menemukan kepastian”, begitu kata LBP. Padahal, Presiden Jokowi sudah menemui langsung Elon Musk. “Saya ke Amerika bulan depan (September), akan ketemu lagi dengan Elon, untuk bicara, ‘Hey, mau kau gimana?” ucap Luhut dikutip dari Antara.
Pernyataan tersebut, sehubungan dengan LBP, akan meneruskan, konon, komitmen Elon Musk, yang belum juga memberi tanda-tanda, memberi kepastian untuk investasi di bidang bahan baku mobil listrik itu.
Selanjutnya, dia mengatakan, “Karena Ford sudah masuk. Dia juga sudah pusing nih, karena Ford kok masuk. Ford duitnya banyak, namanya kalah keren,” kata Luhut. Luhut sendiri menyebut.
Sebagai diplomat, pernyataan seperti itu provokatif. Tidak enak didengar oleh calon investor. Seolah-olah memanas-manasi. Padahal seharusnya, menyampaikan informasi yang lebih persuasive, misalnya, walaupun Ford sudah menyatakan akan berinvestasi di Indonesia, saya percaya dia bukan pesaing yang akan mematikan investasi mu.
Tesla sebenarnya sudah masuk ke Indonesia. Namun, investasinya tidak langsung karena Tesla bekerja sama untuk membeli nikel dari perusahaan di Morowali, Sulawesi Tengah. Mantan Menko Polhukam itu mengatakan Ford, pabrikan otomotif asal AS, juga sudah memastikan diri menanamkan modal di Indonesia kendati ia tidak menyebut detail investasinya.
Tesla sendiri sebelumnya pernah menyampaikan minat untuk masuk ke Indonesia namun tak kunjung terealisasi. Harapan pabrikan mobil listrik itu masuk ke Indonesia kembali mengemuka setelah pertemuan CEO Tesla Inc, Elon Musk, dengan Presiden Jokowi pada Mei lalu.
Kita harus memahami watak dari suatu usaha. Ia mempunyai hukumnya sendiri. Kehadiran seseorang, apakah itu Presiden apalagi seorang Menteri, bila berkunjung menemuinya, tidak identik atau isyarat, serta merta, akan menjadi usaha yang menguntungkan, bila berinvestasi. Para skondan Musk akan memberi masukan yang objektif, sebagai proposal businessnya itu.
Menurut Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, beberapa waktu lalu, minat perusahaan dan pabrikan otomotif dunia ke Indonesia untuk ikut membangun ekosistem baterai kendaraan listrik sangatlah tinggi. Investor tersebut diantaranya LG dari Korea Selatan, CATL dari China, Foxconn dari Taiwan, BritishVolt dari Inggris, hingga BASF dan VW dari Jerman.
Di sisi lain, Bahlil juga sudah melakukan pertemuan dengan perusahaan otomotif asal AS, Ford, untuk menjajaki kerja sama di sektor serupa. “Ford adalah pemain mobil kedua setelah Tesla.
Luhut mengungkapkan bahwa Tesla Inc telah menandatangani kontrak pembelian nikel dari 2 perusahaan yang ada di Indonesia. Menurut Luhut, dengan membeli bahan baku nikel RI saja merupakan langkah awal positif. Dua perusahaan pemasok baterai asal China tersebut adalah Zhejiang Huayou Cobalt Co dan CNGR Advanced Material Co. Kedua perusahaan China ini diketahui juga telah berdiri di Indonesia. Setelah pada 2021 lalu, Pemerintah Indonesia terus merayu hingga melakukan penandatanganan non-disclosure agreement (NDA) dengan Tesla. Namun faktanya kesepakatan itu berakhir dengan kegagalan. “Tapi mereka sudah membeli, nah itu yang bagus, dua produk dari Indonesia. Dari Huayou, satu lagi dari mana, dia sudah tandatangan kontrak untuk lima tahun. Jadi dia (Tesla) sudah mulai masuk di situ, tahap pertama sudah masuk,” ujarnya.
Bisa Semua Bank Adapun nilai kontrak pembelian nikel tersebut senilai 5 miliar dollar AS atau setara Rp 74,5 triliun (kurs saat ini Rp 14.900). “Nanti kami lihat lagi untuk membuat lithium baterai dia. Lokasinya di Morowali, karena ada berapa belas industri di sana. Dia sudah engage di sana. Kontrak dia (Tesla) mungkin sekitar 5 miliar dollar AS,” ucapnya. Namun terkait rencana Tesla untuk membangun pabrik otomotif berbasis listrik di Tanah Air, Luhut mengatakan pihaknya masih melakukan negosiasi. “Tesla ini kami masih negosiasi terus. Karena Tesla ini masih sibuk dengan dalam negeri dia, dengan masalah Twitter dan sebagainya,” kata Luhut.
Namun kesepakatan Tesla dengan dua perusahaan China yang berdiri di Indonesia, yakni Zhejiang Huayou Cobalt Co dan CNGR Advanced Material Co dinilai melecehkan Indonesia. Ekonom Konstitusi Defiyan Cori menyebutkan, Tesla seharusnya melakukan perjanjian langsung dengan Pemerintah Indonesia lantaran sumber daya alam, salah satunya nikel, merupakan kuasa RI. “Penandatanganan kontrak pembelian nikel antara Tesla dengan dua supplier asal China, Huayou dengan CNGR ini jelas melecehkan posisi Indonesia sebagai pemilik sumber daya mineral atau bahan bakunya,” kata dia.
“Padahal, kedua perusahaan RRC itu telah membangun pabriknya di Indonesia, yang seharusnya ada klausul pelarangan menjual kembali komoditas nikel ini kepada pihak lain,” ungkap Defiyan lagi.
Selain itu secara ekonomi, Pemerintah Indonesia menurutnya jelas dirugikan atas selisih harga jual penjualan dengan harga pokok produksi komoditas nikel. “Seharusnya potensi nilai tambah produksi dari hasil penjualan itu bisa lebih besar diperoleh di Tanah Air, dibandingkan dengan penjualan ke Tesla,” ucap Defiyan. Defiyan bilang, perlu dicermati juga dengan seksama materi kontrak kerja sama pembangunan pabrik pengolahan nikel antara Pemerintah RI dengan kedua perusahaan China tersebut, apakah posisi mereka menunjukkan suatu tindakan wanprestasi atau ada unsur manipulasi dan korupsi serta kolusi dengan pejabat penandatanganan kontraknya. “Meskipun kedua perusahaan itu membayar pajak kepada pemerintah Indonesia, namun penjualan bahan baku nikel yang dilakukan oleh perusahaan China tersebut tidak dibenarkan secara konstitusional, ujarnya.
























