Pendapat Faizal Assegaf menyoroti perbedaan antara ancaman yang diutarakan oleh Luhut Binsar Pandjaitan terhadap pengkritik dengan tindakan yang dilakukan oleh pasukan Yaman terhadap kapal milik Amerika, Inggris, dan Israel. Faizal menyatakan bahwa tindakan pasukan Yaman, yang telah mengusir dan menembak kapal-kapal tersebut, jauh lebih berani dan signifikan daripada ancaman yang diucapkan oleh Luhut.
Faizal menilai Luhut sebagai sosok yang memiliki mulut besar karena kedudukannya di lingkaran kekuasaan, namun sebenarnya hanya bersikap sok jagoan. Dia menyebut Luhut sebagai “pak tua yang merasa paling perkasa”, tetapi sebenarnya hanya “numpang kuasa” dalam sebagian kecil dari kekuasaan lokal.
Baca juga : https://fusilatnews.com/tidak-presentasi-batak-islam-ini-bukan-terminal-jaga-ucapanmu-luhut/
Faizal juga mengecam Sri Mulyani dan Jokowi, serta makelar demokrasi curang lainnya, sebagai “sampah daur ulang” yang tidak memiliki prestasi nyata selain menimbulkan utang dan masalah bagi negara. Dia menganggap mereka sebagai dayang-dayang hegemoni global yang hanya menjalankan perintah dari atas.
Namun, Faizal menegaskan bahwa tindakan pasukan Yaman yang menguji rudal hypersonic dan menantang hegemoni global menunjukkan bahwa negara kecil juga bisa berani dan memiliki pengaruh. Faizal berpendapat bahwa Indonesia memiliki potensi yang lebih besar daripada Yaman, dan menyatakan bahwa para pengkritik Luhut tidak seharusnya diusir dari Indonesia.
Pendapat Faizal Assegaf menyoroti ketidakpuasan terhadap pemerintah dan elite politik Indonesia, serta menganggap tindakan pasukan Yaman sebagai inspirasi bagi rakyat yang merasa terzalimi untuk bangkit melawan. Meskipun penuh dengan kritik terhadap pemerintah, pendapat Faizal juga menekankan pentingnya ketegasan dan keberanian dalam menghadapi ketidakadilan dan penindasan.
























