FusilatNews – Jika diberikan pilihan antara lenyapnya seorang pemimpin yang zalim atau hilangnya manusia bermental budak, tanpa ragu aku akan memilih yang kedua. Sebab, sejarah telah membuktikan bahwa seorang pemimpin zalim tidak pernah lahir dalam ruang hampa; ia tumbuh subur di tengah rakyat yang tunduk, patuh tanpa berpikir, dan menyerahkan nasibnya kepada tangan yang salah. Seperti kata Ibnu Khaldun, merekalah yang menjadi penyangga kekuasaan yang menindas, merekalah yang menghidupi kediktatoran dengan ketakutan dan kepasrahan.
Dalam setiap zaman, perbudakan bukan hanya soal rantai yang melilit tangan atau kaki, tetapi juga rantai yang mencengkeram jiwa dan pikiran. Mereka yang bermental budak bukan hanya tunduk pada penguasa yang lalim, tetapi juga menjadi perpanjangan tangannya, membungkam yang berani, menertawakan yang berpikir, dan mengkhianati yang memperjuangkan kebebasan. Mereka rela menyerahkan kebenaran demi kenyamanan, menggantikan harga diri dengan imbalan kecil, dan membiarkan kezaliman tumbuh asal kehidupan mereka tetap berjalan tanpa goncangan.
Sejarah telah menunjukkan betapa berbahayanya mental ini. Di setiap kerajaan tiran, selalu ada mereka yang memilih diam, yang tunduk, yang menganggap bahwa melawan hanya akan membawa kesengsaraan. Mereka takut kepada perubahan lebih daripada mereka takut kepada kezaliman. Maka, kezaliman pun lestari, bertahta di atas punggung manusia-manusia yang lupa akan hakikat dirinya: makhluk yang seharusnya bebas, berpikir, dan berani menuntut keadilan.
Seorang pemimpin zalim bisa digulingkan, bisa mati, bisa lenyap ditelan waktu. Namun, jika mental budak tetap lestari, akan selalu ada tiran-tiran baru yang lahir. Maka, perlawanan sejati bukan hanya melawan penguasa yang menindas, tetapi juga melawan ketakutan dalam diri sendiri. Menumbuhkan keberanian, merawat kejujuran, dan menanamkan pemikiran kritis adalah cara untuk merobohkan sistem yang selama ini menopang kezaliman.
Aku memilih lenyapnya manusia yang bermental budak karena tanpa mereka, pemimpin zalim tidak akan menemukan pijakan. Tanpa mereka, kebebasan akan lebih mudah diraih, dan keadilan tidak akan menjadi sekadar impian. Sebab, dunia yang lebih baik hanya mungkin lahir dari jiwa-jiwa yang berani, yang menolak tunduk, yang memilih berbicara meski suara mereka gemetar, dan yang lebih memilih mati berdiri daripada hidup berlutut.























