• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Maskulinnya Wajah KPK

fusilat by fusilat
November 22, 2024
in Feature, Layanan Publik, Pojok KSP
0
Maskulinnya Wajah KPK
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024

Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

Jakarta – Cara paling mudah mengenali seseorang adalah dengan melihat wajahnya. Cara paling mudah mengenali KPK adalah dengan melihat pimpinannya.

Sepanjang berdirinya sejak 2003 hingga kini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru pernah dipimpin oleh dua orang perempuan: Basaria Panjaitan dan Lili Pintauli Siregar.

Basaria, polisi wanita pertama penyandang pangkat jenderal bintang dua atau inspektur jenderal, menjabat Wakil Ketua KPK Periode 2015-2019.

Sedangkan Lili yang berlatar advokat, sedianya menjabat Wakil Ketua KPK Periode 2019-2024, setelah masa jabatan Pimpinan KPK diperpanjang setahun dari empat tahun menjadi lima tahun. Namun, Lili mundur di tengah jalan pada 2022 setelah tersandung kasus gratifikasi tiket dan akomodasi menonton Moto GP Mandalika, Nusa Tenggara Barat, dari PT Pertamina.

Mungkin karena “trauma” dengan kasus Lili Pintauli itulah maka Komisi III DPR RI tidak memilih seorang pun perempuan untuk duduk di kursi Pimpinan KPK Periode 2024-2029.

Dus, wajah Pimpinan KPK Periode 2024-2029 pun berbeda dengan periode 2015-2019 dan 2019-2022 di mana ada wajah seorang perempuan di masing-masing periode itu. Kini, wajah KPK terlihat maskulin.

Padahal, dari 10 calon pimpinan KPK, ada dua orang perempuan, yakni Poengky Indarti, mantan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), dan Ida Budhiati, mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Adapun delapan nama lain yang semuanya laki-laki adalah Agus Joko Pramono, Ahmad Alamsyah Saragih, Djoko Poerwanto, Fitroh Rohcahyanto, Ibnu Basuki Widodo, Johanis Tanak, Michael Rolandi Cesnanta Brata, dan Setyo Budiyanto.

Dalam pemungutan suara yang digelar usai “fit and proper test” (uji kelayakan dan kepatutan) hari terakhir, Kamis (21/11/2024), Komisi III DPR memilih lima nama yang kesemuanya laki-laki untuk duduk di kursi Pimpinan KPK Periode 2024-2029.

Kelimanya beserta latar belakang dan perolehan suaranya adalah sebagai berikut:

  1. Setyo Budiyanto (Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian) 46 suara.
  2. Fitroh Rohcahyanto (mantan Direktur Penuntutan KPK) 48 suara.
  3. Ibnu Basuki Widodo (hakim Pengadilan Tinggi Manado) 33 suara.
  4. Johanis Tanak (Wakil Ketua KPK Periode 2019-2024) 48 suara.
  5. Agus Joko Pramono (Wakil Ketua BPK Periode 2019-2023) 39 suara.

Setyo Budiyanto, perwira tinggi polisi berpangkat komisaris jenderal atau jenderal bintang tiga, yang pernah menjabat Direktur Penyidikan KPK akhirnya dipilih sebagai Ketua KPK Periode 2024-2029.

Alhasil, KPK pun terlihat maskulin, “macho” atau jantan karena semua pimpinannya adalah laki-laki. Tak ada perempuan atau sifat feminin atau keibuan di sana.

Mengapa tak ada perempuan yang dipilih Komisi III DPR sebagai Pimpinan KPK?

Jelas bukan karena kapasitas dan integritas. Sebab dua orang perempuan yang masuk 10 besar capim KPK itu, yakni Poengky Indarti dan Ida Budhiati adalah orang-orang berkapasitas dan berintegritas.

Cermati saja “track records” (rekam jejak), dan visi-misi keduanya saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Dalam visi-misinya, keduanya menekankan soal integritas dan profesionalitas.

Poengky menganggap integritas insan KPK sangat penting untuk menjaga profesionalisme institusi. Ia juga mengharapkan pencegahan kejahatan korupsi dapat ditingkatkan dan kelak akan menjadi budaya antikorupsi yang memperkuat upaya menuju Indonesia Emas.

Penegakan hukum oleh KPK, katanya, haruslah mengutamakan kasus “big fish” (Ikan besar), serta menguatkan sinergitas KPK dengan institusi penegak hukum lainnya, yaitu Kepolisian dan Kejaksaan.

Peran serta masyarakat, termasuk media, katanya, juga harus kembali dikedepankan.

Adapun ida Budhiati memaparkan persepsi publik yang negatif terhadap KPK saat ini. Dalam pandangannya, hal itu disebabkan perilaku Pimpinan KPK yang tidak akuntabel, profesional, dan berintegritas.

Selain itu, katanya, belum dapat memberikan teladan bahwa Pimpinan KPK mempunyai integritas yang tinggi.

Lalu, mengapa Poengky Indarti dan Ida Budiati hanya dapat 2 dan 8 suara sehingga gagal lolos ke Kuningan?

Pertama, mungkin ya itu tadi, para anggota Komisi III DPR “trauma” dengan kasus Lili Pintauli Siregar.

Kedua, mungkin karena Komisi III DPR juga maskulin. Dari 46 orang anggotanya, hanya 5 orang yang perempuan, selebihnya laki-laki.

Meski begitu, sebenarnya tidak maskulin-maskulin amat karena dari lima Pimpinan Komisi III DPR ada satu orang perempuan, yakni Sari Yuliati dari Partai Golkar.

Secara keseluruhan, DPR Periode 2024-2029 juga tidak maskulin-maskulin amat, karena pada periode ini ada 127 perempuan yang mengisi kursi parlemen dari total 580 anggota dewan atau 22,1% dari idealnya 30% sesuai undang-undang.

Keterwakilan perempuan di DPR Periode 2024-2029 yang meningkat menjadi 22,1% merupakan sejarah baru di Indonesia.

Lihat saja. Pada Pemilu 1999, persentase anggota DPR perempuan hanya 8,2%. Lalu di Pemilu 2004 ada 11,5%. Selanjutnya pada Pemilu 2009, anggota perempuan DPR ada 18%, di Pemilu 2014 turun menjadi 17,3%, dan di Pemilu 2019 naik menjadi 20,5%.

Ketiga, mungkin karena perempuan cenderung tekun, teliti, dan kuat pendiriannya, sehingga tidak dipilih karena dikhawatirkan tidak akan bisa dilobi atau diatur oleh Senayan yang selama ini banyak menjadi “korban” KPK.

Pilih Sosok Bermasalah

Sebaliknya, DPR justru lebih menyukai sosok bermasalah untuk dipilih menjadi Pimpinan KPK supaya bisa diatur.

Sebut saja Firli Bahuri. Saat menjabat Deputi Penindakan KPK, mantan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Mabes Polri ini bermasalah karena bertemu dengan pihak yang sedang beperkara dengan KPK, yakni Muhammad Zainul Majdi saat sosok yang akrab disapa Tuan Guru Bajang ini menjabat Gubernur NTB.

Namun saat maju sebagai capim KPK, Firli yang berpangkat komjen atau jenderal bintang tiga itu tetap dipilih DPR bahkan dengan suara terbanyak sehingga didapuk menjadi Ketua KPK.

Belakangan, Firli ditetapkan Polda Metro Jaya sebagai tersangka pemerasan kepada Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian saat itu. Firli akhirnya terdepak dari kursi Ketua KPK.

Johanis Tanak yang menggantikan Lili Pintauli Siregar juga bermasalah. Dikutip dari sejumlah sumber, Johanis Tanak diduga melanggar etik karena menjalin komunikasi dengan Kepala Biro (Kabiro) Hukum Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) M Idris Froyoto Sihite.

Komunikasi itu diduga terjadi pada 27 Maret 2023 melalui aplikasi WhatsApp. Adapun Sihite merupakan pihak yang beperkara karena menjadi saksi dugaan korupsi tunjangan kinerja (tukin) di Kementerian ESDM.

Pada hari tersebut, tim penyidik KPK tengah menggeledah kantor Sihite terkait kasus korupsi di Kementerian ESDM.

Menurut Dewan Pengawas (Dewas) KPK, Tanak mengetahui posisi Sihite karena ia mengikuti gelar perkara kasus tersebut.

Namun, Tanak akhirnya dinyatakan tidak bersalah melanggar kode etik terkait komunikasi dengan pihak yang beperkara, yakni Idris Froyoto Sihite. Alasannya, Dewas KPK hanya berhasil menemukan bukti percakapan Tanak dan Idris. Sementara isi percakapannya tidak diketahui, karena Tanak telah menghapusnya.

Alasan Dewas KPK ini sesungguhnya terlalu naif, bodoh atau pura-pura bodoh. Sebab jejak percakapan WA Tanak-Sihite tersebut sesungguhnya bisa dilacak.

Dalam visi-misinya, Tanak juga terlihat konyol karena akan meniadakan operasi tangkap tangan (OTT) yang selama ini menjadi kebanggaan publik terhadap KPK.

Karena KPK terlalu maskulin atau tak ada unsur perempuan di kursi pimpinannya, dikhawatirkan lembaga antirasuah ini kurang manusiawi, bahkan melanggar hak asasi manusia (HAM) saat menangani tersangka korupsi.

Perlakuan tidak manusiawi KPK Periode 2019-2024 terhadap mantan Gubernur Papua Lukas Enembe, kini mendiang, bisa terulang di KPK Periode 2024-2029 yang tak ada seorang pun perempuan di kursi pimpinannya. Apalagi latar belakang Setyo Budiyanto sama dengan Firli Bahuri.

Maka, hanya ada satu pesan: jangan berharap banyak kepada KPK Periode 2024-2029!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Truk Angkut Aki Tabrak 5 Motor dan Kios di Semarang, Dua Orang Tewas

Next Post

Basa-basi Seleksi, Pengondisian Calon Pimpinan KPK yang Bisa Kompromi Korupsi

fusilat

fusilat

Related Posts

JK & Seekor Gajah
Feature

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT
Feature

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026
Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK
Feature

Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

April 21, 2026
Next Post
Terpilih, Pimpinan KPK 2024-2029 Langsung Dapat Mosi Tak Percaya, Kok Bisa?

Basa-basi Seleksi, Pengondisian Calon Pimpinan KPK yang Bisa Kompromi Korupsi

Pengadaan Bus Transjakarta Bermasalah di Era Jokowi-Ahok, Kerugian Negara 1.5T

Pengadaan Bus Transjakarta Bermasalah di Era Jokowi-Ahok, Kerugian Negara 1.5T

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
JK & Seekor Gajah
Feature

JK & Seekor Gajah

by Karyudi Sutajah Putra
April 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Gajah itu panjang. Itu bila hanya dilihat...

Read more
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

April 21, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Harga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Berikut Daftar Lengkapnya

DPR Ingatkan Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi, Kelompok Rentan Terancam Terjepit

April 21, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026
Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

April 21, 2026

Pilihan yang Bukan Pilihan

April 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

April 21, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...