Oleh: Entang Sastraatmadja
CNN Indonesia melaporkan, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso, mengakui sekitar 40 persen pabrik penggilingan padi tutup setelah penegakan hukum dilakukan terkait kasus beras oplosan. Data ini mengacu pada temuan Ombudsman RI di Tempuran, Karawang, Jawa Barat: dari 23 pabrik, 10 berhenti beroperasi.
Meski belum ada data pasti secara nasional, laporan serupa juga muncul dari Yogyakarta dan Jawa Timur. Kondisi ini memilukan. Penggilingan padi adalah simpul penting dalam sistem perberasan nasional. Jika simpul ini rapuh, rantai pasok pangan kita ikut terancam.
Mengapa Mereka Gulung Tikar?
Ada sejumlah faktor yang mendorong banyak penggilingan padi tutup:
- Isu Beras Oplosan
Kasus beras oplosan yang marak membuat kepercayaan masyarakat terhadap penggilingan padi, khususnya skala kecil, merosot tajam. Mereka kesulitan bersaing dengan perusahaan besar yang punya modal, teknologi, dan citra kualitas lebih baik. - Persaingan Tak Seimbang
Perusahaan besar dengan kapasitas produksi dan sumber daya melimpah mampu menawarkan harga lebih rendah, membuat penggilingan kecil kian terpinggirkan. - Kepercayaan Konsumen Tergerus
Konsumen menjadi semakin selektif. Banyak yang beralih ke merek besar, meninggalkan beras hasil produksi penggilingan kecil. - Keterbatasan Daya Saing
Minimnya modal, teknologi, dan jaringan distribusi membuat penggilingan kecil tak sanggup bertahan di tengah kompetisi ketat.
Dampak Runtuhnya Penggilingan Padi
Penutupan penggilingan padi bukan sekadar persoalan bisnis. Dampaknya merembet ke berbagai aspek:
- Penurunan Produksi Beras: Menurunnya jumlah penggilingan berarti berkurangnya volume beras yang siap edar.
- Ketergantungan pada Perusahaan Besar: Struktur pasar menjadi tidak sehat dan rentan monopoli harga.
- Pengangguran dan Kemiskinan: Pekerja, petani, dan pihak terkait kehilangan sumber penghidupan.
- Kerusakan Infrastruktur Pertanian: Gudang, mesin, dan peralatan terbengkalai.
- Fluktuasi Harga Beras: Potensi kenaikan harga yang langsung membebani masyarakat.
Dalam jangka panjang, fenomena ini bisa menggerus ketahanan pangan nasional dan bahkan membuka celah lebih besar bagi impor beras.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?
Pemerintah sebenarnya punya ruang gerak untuk mengatasi masalah ini:
- Meningkatkan Produktivitas Pertanian melalui teknologi, benih unggul, dan pupuk efektif.
- Memberi Dukungan Finansial dan Pelatihan bagi penggilingan padi kecil, termasuk subsidi pupuk dan kredit usaha.
- Memperkuat Infrastruktur Pertanian seperti irigasi, jalan, dan gudang agar efisiensi meningkat.
- Mengembangkan Industri Beras Berkelanjutan yang ramah lingkungan dan menjaga mutu produk.
- Mendorong Diversifikasi Pangan untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada beras.
Jika langkah-langkah ini dijalankan konsisten, bukan mustahil penggilingan padi kecil bisa bangkit kembali, petani lebih sejahtera, dan ketahanan pangan nasional terjaga.
(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastraatmadja



















