Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Entah mengais ide darimana. Yang jelas, publik sudah cukup lama menyuarakan: makan bergizi gratis diuangkan!
Ya, tetiba Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto agar MBG diganti dengan uang.
Pertimbangannya antara lain banyak makanan basi sehingga terbuang, dan banyak siswa yang tak berselera dengan menu yang tersedia. Sementara jika diuangkan orangtua siswa akan lebih fleksibel: tahu menu yang disukai anaknya, apakah untuk sarapan atau makan siang, dan sisa uang bisa ditabung untuk kebutuhan biaya sekolah.
Katakanlah harga MBG ekuivalen dengan Rp15.000 per hari per anak. Jika dalam seminggu mendapatkan MBG lima kali maka jumlahnya Rp75.000. Berarti dalam sebulan siswa dapat Rp300.000. Lumayan!
Tentu saja ide Purbaya ini akan mendatangkan perlawanan dari mereka yang berkepentingan dengan MBG berupa makanan. Apalagi mereka sudah berinvestasi dengan nominal yang cukup besar untuk membangun dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Mereka adalah sosok-sosok yang punya akses ke kekuasaan seperti pengusaha dan politisi. Ada seorang pengusaha atau politisi yang menguasai 20 SPPG. Mereka bisa menyerang Purbaya secara politik, sehingga bisa saja bekas Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu ditendang dari Kabinet Merah Putih.
Tujuan MBG memang mulia: mencegah stunting atau gagal tumbuh kembang dan meningkatkan kecerdasan anak.
Pun, menggerakkan perekonomian nasional karena bahan baku makanan akan laku. Termasuk ekonomi kerakyatan. Tahun ini saja anggaran MBG Rp71 triliun!
Sayangnya, yang terjadi jauh panggang dari api. Dapur-dapur MBG dikuasai oleh pengusaha dan politisi.
Dalam belanja barang mereka juga melakukan monopoli. Bahkan mereka memproduksi sendiri: membuat peternakan ayam petelur dan ayam potong, misalnya.
Ekonomi kerakyatan tak bergerak. Bahkan dengan adanya MBG, kantin-kantin sekolah mati suri. Pun warung-warung kecil di sekitar sekolah.
Tidak itu saja. MBG juga memicu keracunan. Sudah ribuan siswa yang mengalami keracunan sejak MBG dimulai Februari lalu.
Anggaran MBG Rp15.000 per anak juga sudah barang tentu mengalami penyunatan kanan-kiri. Jatuhnya ke siswa paling antara tujuh ribu hingga 10 ribu rupiah. Yang lima hingga delapan ribu menguap entah ke mana.
Dari kabar yang ramai tersiar, pemerintah khawatir.MBG berbentuk uang akan disalahgunakan orangtua. Misalnya tidak dibelikan atau dimasakkan makanan kesukaan anak, tapi untuk keperluan lain.
Dari kacamata psikologi, tak mungkin orangtua tak akan memberi makanan anaknya. Apalagi kalau sudah ada uang tunai dari MBG.
Alhasil, ide Purbaya itu patut disambut dengan gegap gempita. Sebab selaras dengan logika akal sehat alias masuk akal. Tapi di sisi lain Purbaya harus pasang kuda-kuda menghadapi kemungkinan serangan mereka.
Purbaya, jangan takut. Rakyat yang ingin MBG tak dikorupsi, sehingga diganti uang tunai, berada di belakang Anda. Beranikah Purbaya?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















