• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Melawan Dikte Pendanaan Parpol

fusilat by fusilat
March 2, 2023
in Feature
0
Melawan Dikte Pendanaan Parpol

Adityo Fajar/Net

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Adityo Fajar

PEMBIAYAAN politik merupakan persoalan pelik. Kegagalan partai-partai politik dalam menjawab persoalan tersebut, tak jarang, -jika tak mau disebut hampir selalu-, membenamkan partai ke dalam pertalian a simetris antara pendana dan penerima dana.

Sebuah relasi menjebak yang lambat laun menempatkan partai  pada ketergantungan, kehilangan banyak otonomi, bahkan terjerat pada dikte politik pihak pendana.

Belakangan tahun, publik makin akrab dengan term ‘oligarki’. Lewat praktik monopoli ekonomi yang dijalankan, mereka memiliki kuasa akbar atas tiap jengkal kehidupan rakyat. Kekuatan ini juga dipercaya mampu mengendalikan partai politik melalui sumber daya pendanaan berukuran jumbo. Imbasnya sangat serius. Kontrol kebijakan ada di tangan blok yang punya uang besar. Omnibus law salah satu contoh yang paling telanjang.

Ada seloroh banal, juga sinis, dari Robert de Niro pada sebuah film. “Kata siapa uang tidak bisa membeli segalanya? Jika ada yang bilang begitu, dia belum memiliki cukup uang”, ujar de Niro di satu adegan.

Kekuatan uang memang terbukti dalam sejarah peradaban mampu berbuat banyak. Tanpa kecuali, uang berbicara lebih keras dari hati nurani di lapangan politik. Itu fakta yang tak menyenangkan, sayangnya yang tak menyenangkan eksis adanya.

Sementara di Indonesia ongkos politik tidak dibiayai negara seperti di Eropa Barat semisal, sebagian orang lantas mengajukan proposal luhur. Mereka menawarkan jalan: bagaimana bila publik yang membiayai parpol? Crowdfunding.

Masyarakat menyumbang, dikelola secara terbuka, dipertanggungjawabkan seksama. Transparan dan akuntabel. Publik pun mempunyai hak kontrol terhadap kinerja partai karena turut membiayai.

Praktik ini sebenarnya lazim dilakukan oleh parpol-parpol di era lama, di masa awal republik berdiri. Saat sejumlah besar rakyat merasa terafiliasi kuat dengan parpol. Itu yang membuat mereka tak segan mengurun.

Warna ideologi parpol yang sangat terang, membuat mereka bergembira berkumpul di sekitar partai, dan tak segan-segan merogoh kocek. Pada era kemodernan, kisah Podemos di Spanyol juga memvalidasi fakta serupa.

Tetapi pemandangan itu berbeda sekali saat ini. Kini Party ID di Indonesia rendah. Menurut penilaian sebuah lembaga survei, cuma 6,8 persen penduduk Indonesia yang merasa memiliki ikatan dengan parpol tertentu. Sementara 92,3 persen bersikap sebaliknya.

Jadi, tidak mudah rasanya berharap publik mau berbandong-bondong menyumbang ke kas partai. Gagasan luhur tak serta-merta bisa dijalankan karena mengandung keluhuran belaka. Begitulah hidup kerap kali berbicara kepada kita.

Menurut studi Burhanuddin Muhtadi berjudul ‘Money Politics and Electoral Dynamics in Indonesia: A Preliminarystudy of The Interaction Beetwen
“PARTY-ID” and Patron-Client’ praktik patron-klien lekat sekali dalam politik ‘negeri-negeri gelombang demokrasi ketiga’.

Patron-klien dinilai sebagai produk sosial-budaya dimana kelompok yang mempunyai keistimewaan tertentu (patrons), memberikan uang atau keuntungan sebagai imbalan atas loyalitas pengikutnya (clients).

Banyak ahli ilmu politik percaya bahwa patron-klien adalah (salah satu) penyebab merebaknya praktik money politics di negara-negara berkembang. Alih-alih menyumbang untuk partai, sebaliknya sebagian publik merasa harus menerima imbalan atas kesetiaan yang diberikan. Ditambah lagi dengan tabiat buruk politikus selama berkuasa, mereka merasa merugi bila menyokong kandidat secara cuma-cuma.

Tetapi bila kita menengok ke sisi lain, ada secercah sinar harapan yang menyala. Bahwa perilaku menyumbang sesungguhnya merupakan budaya populer di Indonesia. Belum lekang dalam ingatan, kasus yang melilit sebuah lembaga filantropi kondang di Indonesia.

Kasus itu menguak fakta, masyarakat sudi menyumbang dana hingga ratusan miliar. Orang rela menghibahkan sebagian hartanya untuk nilai-nilai kebaikan yang diyakini. Jika hatinya terketuk, beramal untuk kebajikan akan senang dilakukan.

Sayangnya, partai politik masih jauh dari kualifikasi sebagai entitas dimana kebaikan layak disokong. Belum sanggup membuat orang banyak bersedia mengulurkan rupiah untuk membantu. Ini harusnya menjadi oto kritik besar bagi semua partai dan kader-kadernya.

Upaya crowdfunding tanpa menjawab ini, akan kuncup sebelum mekar. Bagai badan tanpa tulang, ia tak bisa berdiri, tak panjang hidupnya.

Partai Buruh sebagai partai yang mengklaim sebagai partai gerakan menghadapi tantangan ini. Bagaimana mendobrak semangat solidaritas sosial yang termanifestasikan dalam bentuk aktivitas filantropi, bisa dikonversikan menjadi sokongan politik.

Pertama-tama Partai Buruh harus menyakinkan rakyat luas, bahwa politik ialah hal mulia. Ia tentang memperbaiki kehidupan rakyat, dijalankan dengan jujur serta amanah, dan berguna secara langsung bagi pri kehidupan massa.

Pada akhirnya crowdfunding adalah antitesa dari dikte kekuatan uang kaum super kaya. Melawan kekuatan uang oligarki dengan kekuatan partisipasi publik. Mungkin ini tak bisa segera mewujud lekas-lekas, tetapi ia tak boleh dihapus dalam agenda partai.

Jika ia dihapus, partai bukan hanya akan ikut tercebur pada budaya pendanaan politik yang buruk, pun tidak ada kebaruan yang dihadirkan. Bukankah Partai Buruh hendak membawa kebaruan dalam banyak hal? Saya kira kelas pekerja berhimpun di Partai Buruh karena itu. Elan perubahan yang dijanjikannya.


Adityo Fajar Kepala Bidang Ideologi dan Kaderisasi Partai Buruh

Senin, 27 Februari 2023

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Revolusi Mental di KRL dan MRT

Next Post

Korban Mario Dandy, David Ozora Latumahina, Patut Dijadikan Tersangka!?

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026
Feature

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah
Feature

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026
Next Post
Kasus Dandy Momentum Bersih-bersih Kemenkeu

Korban Mario Dandy, David Ozora Latumahina, Patut Dijadikan Tersangka!?

Kapolri Perintahkan Polda Metro Jaya Bentuk Tim Pencari Fakta Kasus Tertabraknya Mahasiswa UI

Jumat Besok Polda Metro Jaya Mulai Tetapkan Kawasan Bebas Mobil dan Motor Di Lingkungan Polda Metro Jaya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tangkap Tiyo Ardianto!
Feature

Tangkap Tiyo Ardianto!

by Karyudi Sutajah Putra
June 16, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta -  Dalam hati mungkin Tiyo Ardianto memang ingin...

Read more
Mahasiswa Memasuki Kawasan Monas Teriak Jokowi Offside

Ketika Mahasiswa Sudah Muak Lihat Pejabat Negara

June 16, 2026
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

June 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026

Ketika Organisasi Tua Masih Peduli pada Dapur Bangsa (Membaca Surat Terbuka KOSGORO tentang Makan Bergizi Gratis)

June 16, 2026
Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

June 16, 2026

PRABOWO PERLU MENGUMUMKAN NATIONAL CONTINGENCY PLAN

June 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist