Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Bukan suatu kebetulan belaka ketika Bahlil Lahadalia menganalogikan Joko Widodo sebagai Raja Jawa. Ternyata, menjadi seorang raja memang telah menjadi obsesi Presiden ke-7 RI itu. Raja zaman old, Presiden zaman now.
Lihat saja. Saat melakukan safari politik ke Lampung beberapa waktu lalu, Jokowi mematut diri sebagai raja. Begitu pun saat wong Solo itu bersafari politik ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemarin.
Obsesi Jokowi itu pun mengingatkan kita akan fenomena Ken Arok yang kelak menjadi Raja Singhasari, Jawa Timur, tahun 1222.
Saat masih bayi, Ken Arok dibuang oleh ibunya di hutan dekat Sungai Brantas. Mengapa dibuang? Karena ibunya, Ken Endog malu lantaran tak punya suami. Dengan kata lain, Ken Arok adalah anak haram.
Selain rasa malu, juga karena impitan ekonomi sebagai orang miskin.
Seperti tersurat dalam kitab Pararaton, ibunya berharap bayi tersebut ditemukan dan mendapat kehidupan yang jauh lebih baik dari keluarga kaya.
Ken Arok kemudian ditemukan dan dirawat oleh seorang pencuri bernama Lembong. Ken Arok pun tumbuh besar dengan kebiasaan buruk seperti berjudi dan mencuri. Ken Arok adalah seorang begal.
Akan tetapi, di kemudian hari Ken Arok bertemu dengan seorang brahmana yang kemudian mengubah jalan hidupnya. Dialah Mpu Lohgawe. Dengan pengaruhnya, Lohgawe memasukkan Ken Arok sebagai pengawal Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel.
Lohgawe bercerita kepada Ken Arok ihwal seorang wanita yang diprediksi akan melahirkan raja-raja yang kelak menjadi penguasa dunia. Ciri khasnya adalah bahwa paha wanita itu bercahaya.
Tunggul Ametung punya permaisuri bernama Ken Dedes. Nah, saat mengawal Tunggul Ametung itulah Ken Arok sepintas melihat paha Ken Dedes memancarkan cahaya kemilau saat kainnya tersingkap sewaktu turun dari kereta.
Sejak itulah, Ken Arok bertekad merebut Ken Dedes dari tangan Tunggul Ametung. Selain menguasai Ken Dedes, Ken Arok juga ingin menguasai takhta yang nanti akan dia renggut dari Tunggul Ametung.
Siasat licik pun disusun. Ken Arok memesan keris dari Mpu Gandring yang dikenal mahir dan sakti dalam membuat keris.
Keris belum jadi sempurna sudah diambil oleh Ken Arok karena tak sabar untuk membunuh Tunggul Ametung. Mpu Gandring pun menolak menyerahkan keris pesanan Ken Arok itu. Lalu Ken Arok merebut paksa dan menusukkan keris itu ke dada Mpu Gandring. Korban pertama keris Mpu Gandring pun jatuh, yakni pembuatnya sendiri.
Ken Arok kemudian meminjamkan keris Mpu Gandring itu kepada Kebo Ijo, rekan sesama pengawal Tunggul Ametung yang memang suka pamer. Para penggawa Tunggul Ametung kemudian mengira keris Mpu Gandring yang sakti itu milik Kebo Ijo.
Suatu malam, Ken Arok menyelinap ke kamar Tunggul Ametung yang sedang tidur dan langsung menghunjamkan keris Mpu Gandring ke tubuh Tunggul Ametung dan membiarkan keris itu tetap menancap.
Para penggawa heboh. Kebo Ijo yang dikira sebagai pemilik keris Mpu Gandring menjadi tertuduh. Kambing hitam Ken Arok itu akhirnya dibunuh.
Ken Arok kemudian tampil bak pahlawan. Ia pun berhasil menguasai takhta yang ditinggalkan Tunggul Ametung sekaligus memperistri Ken Dedes. Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singhasari. Tapi akhirnya Ken Arok terbunuh oleh Anusapati, anak Tunggul Ametung dengan Ken Dedes, dengan keris Mpu Gandring.
Anusapati pun kemudian terbunuh oleh Tohjaya, anak Ken Arok dengan Ken Umang, istrinya terdahulu, dengan keris Mpu Gandring pula.
Demikianlah, dendam melahirkan dendam, sampai keris Mpu Gandring menelan korban hingga tujuh turunan yang bermula dari Ken Arok membunuh Tunggul Ametung.
Dari kisah Ken Arok inilah kita mencoba membaca langkah Jokowi yang ambisinya tak kalah dengan Ken Arok.
Seperti Ken Arok, Jokowi juga lahir dari keluarga sederhana. Bahkan rumahnya di tepian kali sempat terkena penggusuran. Jokowi kemudian disebut-sebut pernah menjadi tukang kayu.
Jika bakat kepemimpinan Ken Arok ditemukan oleh Lohgawe, maka bakat kepemimpinan Jokowi ditemukan oleh Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan dan Presiden ke-5 RI.
Pada tahun 2005, Megawati mengusung Jokowi sebagai calon walikota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, dan terpilih. Jokowi terpilih kembali pada 2010 saat diusung kembali oleh Megawati.
Baru dua tahun menjabat walikota Surakarta periode kedua, Megawati mengusung Jokowi sebagai calon gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 dan terpilih.
Baru dua tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta, Jokowi diusung kembali oleh Megawati sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2014 dan terpilih. Jokowi terpilih kembali pada Pilpres 2019 saat lagi-lagi diusung Megawati.
Setelah menjadi Presiden hampir dua periode, ambisi kekuasaan Jokowi tetap menggelegak. Ia pun berusaha maju lagi untuk periode ketiga. Tapi rencana inkonstitusional ini diadang Megawati, sehingga Jokowi gagal melaju lagi.
Jokowi akhirnya banting setir. Ia mengajukan anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden bagi capres Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 dan terpilih.
Menjelang Pilpres, Jokowi sudah pecah kongsi dengan Megawati. Padahal, saat Gibran maju sebagai calon walikota Surakarta tahun 2020 dan terpilih, yang mengusung juga Megawati. Putri Bung Karno ini pun merasa dikhianati Jokowi. Istri mendiang Ketua MPR Taufiq Kiemas ini akhirnya memecat Jokowi, Gibran dan juga Bobby Nasution menantu Jokowi dari keanggotaan PDIP.
Pengkhianatan yang dilakukan Jokowi kepada Megawati ini mengingatkan kita akan pengkhianatan Ken Arok kepada Tunggul Ametung yang membesarkan namanya. Bedanya, jika Ken Arok menggunakan keris Mpu Gandring, Jokowi menggunakan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No 90 Tahun 2023 yang keputusannya diambil dalam persidangan yang dipimpin Ketua MK Anwar Usman yang tak lain adalah adik ipar Jokowi dan paman Gibran.
Jika kambing hitam Ken Arok adalah Kebo Ijo, maka kambing hitam Jokowi adalah Anwar Usman.
Kini, setelah lengser dari Istana, apakah Jokowi masih punya ambisi kekuasaan? Bukan hanya punya, melainkan menggelegak. Ia terus mematut-matut diri sebagai raja, King Maker.
Sebagai King Maker, Jokowi kini sedang berupaya menjadikan Gibran sebagai calon presiden atau minimal tetap sebagai cawapresnya Prabowo di Pilpres 2029, sekaligus membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang ketua umumnya Kaesang Pangarep, anak bungsunya sendiri.
Ambisi memang tak ada matinya, kawan. Kecuali bagi orang yang sudah mati. Apalagi ambisi kekuasaan. Karena kekuasaan itu nikmat.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)

















