• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Membaca Pikiran Buni Yani: Distopia Pasca-Jokowi dan Tiga Tombak Pemakzulan

Redaktur Senior 01 by Redaktur Senior 01
June 7, 2025
in Feature, Politik
0
Membaca Pikiran Buni Yani: Distopia Pasca-Jokowi dan Tiga Tombak Pemakzulan
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Redaksi Fusilatnews

Di tangan Buni Yani, politik Indonesia bukan lagi panggung kompromi, tapi gelanggang perlawanan. Tulisannya yang bertajuk “Pemakzulan Gibran, Ijazah Palsu, dan Kasus Korupsi Lumpuhkan Jokowi” bukan sekadar agitasi anti-rezim, tetapi peta distopia tentang akhir era Jokowi yang dibacakan dengan nada tegas, getir, sekaligus sinis.

Buni Yani bukan sedang bermain-main dengan narasi. Ia sedang menulis ulang sejarah dengan keberpihakan penuh kepada rakyat yang merasa dizalimi oleh kekuasaan sepuluh tahun terakhir. Esai ini tampil sebagai teriakan: penghakiman moral terhadap seorang pemimpin yang dianggap sudah kehilangan legitimasi politik, konstitusional, bahkan biologis. Jokowi, dalam imajinasi Buni Yani, bukan lagi presiden yang pensiun, melainkan makhluk sisa kekuasaan yang tak lagi berguna, menjelma residu yang wajib dienyahkan.

Di balik gaya menulis yang dramatis dan vulgar—yang mengingatkan kita pada pamflet politik revolusioner ala tahun 1960-an—ada tiga poros utama yang menjadi sumbu gagasan Buni Yani.


Pertama, Pemakzulan Gibran sebagai Kudeta Konstitusional Balik

Narasi pembuka Buni Yani tidak basa-basi. Ia langsung menuding bahwa Gibran adalah produk cacat konstitusi. Penunjukan Gibran sebagai wakil presiden lewat rekayasa Mahkamah Konstitusi tak lain adalah pengkhianatan terhadap hukum dasar negara. Dan kini, sejarah menuntut balasan. Pemakzulan Gibran digambarkan sebagai momen koreksi besar, semacam kudeta konstitusional balik oleh kekuatan sipil dan militer yang muak terhadap dinasti Jokowi.

Munculnya purnawirawan TNI sebagai aktor dalam pemakzulan itu bukanlah kejutan bagi Buni Yani. Dalam tafsirnya, militer adalah benteng terakhir republik, dan keberpihakan mereka kepada konstitusi adalah pertanda bahwa “gerakan perlawanan” terhadap Jokowi dan Gibran telah mendapatkan legitimasi moral. Di sinilah Buni Yani membalik realitas: Prabowo, yang sebelumnya dianggap bagian dari kompromi kekuasaan Jokowi, justru tampil sebagai pembebas dari belenggu Jokowiisme.


Kedua, Ijazah Palsu sebagai Simbol Ketelanjangan Rezim

Buni Yani menjadikan kasus dugaan ijazah palsu Jokowi sebagai pintu masuk untuk membongkar fondasi kebohongan rezim. Ia tak lagi berhenti pada ranah legalitas, tapi bergerak ke arah simbolik: bahwa seorang kepala negara yang diduga berbohong tentang identitas akademiknya adalah potret paling telanjang dari kuasa yang dibangun atas manipulasi dan kepalsuan.

Di sini, Buni Yani menegaskan bahwa kebohongan bukan hanya dosa moral, melainkan alat sistemik yang telah merusak sendi-sendi negara. Jokowi, dengan kata lain, bukan sekadar pemimpin yang keliru, tetapi representasi dari penyakit kekuasaan itu sendiri.


Ketiga, Kasus Korupsi dan Kebusukan Keluarga sebagai Delirium Kekuasaan

Tak cukup dengan pemakzulan Gibran dan ijazah palsu Jokowi, Buni Yani melengkapi bangunan distopianya dengan menyodorkan korupsi sebagai pelengkap kehancuran. Ia menyebut korupsi di lingkungan keluarga dan kroni Jokowi sebagai bom waktu yang kini meledak di tangan sang mantan presiden.

Dari Sritex, pengadaan laptop, hingga judi online, semuanya dirangkai sebagai simpul jaring busuk yang pada akhirnya menyeret Jokowi ke jurang delegitimasi total. Narasi ini menegaskan bahwa Jokowi tak hanya jatuh sebagai tokoh politik, tapi juga sebagai manusia yang kehilangan martabat di mata sejarah.


Mengapa Narasi Ini Laku?

Dalam dunia politik pasca-kebenaran, opini seperti milik Buni Yani bukan sekadar agitasi—ia adalah alat mobilisasi. Di tengah kekecewaan masyarakat terhadap rekayasa politik Mahkamah Konstitusi, kemarahan publik atas gaya kepemimpinan Jokowi yang dianggap nepotistik, serta kecemasan terhadap masa depan demokrasi, tulisan seperti ini menjadi emosional truth yang mengkristal: tidak harus akurat secara hukum, tapi memuaskan secara psikologis.

Gaya menulis Buni Yani mirip orator jalanan: penuh hiperbola, retoris, dan bersifat pukulan langsung ke perut kekuasaan. Gaya ini sengaja dipilih untuk menggugah, membangkitkan, bahkan mungkin memprovokasi. Namun ia bukan tanpa arah. Di balik amarahnya, Buni Yani sedang membangun tesis bahwa Indonesia butuh pembersihan politik secara menyeluruh: dari aktor, dari cara berpolitik, hingga dari paradigma kekuasaan itu sendiri.


Distopia sebagai Harapan?

Yang paling menarik dari tulisan ini adalah bahwa meskipun bernada gelap, ia diam-diam menyimpan harapan. Harapan bahwa Prabowo tidak akan tunduk pada kesepakatan politik kotor. Harapan bahwa hukum akan kembali hidup. Harapan bahwa rakyat bisa memaafkan negeri ini jika Jokowi dan anaknya disingkirkan.

Tapi inilah ironi terbesar dari bacaan Buni Yani: ketika harapan justru datang dari sisa-sisa otoritarianisme baru yang bernama Prabowo, publik dipaksa memilih antara dua racun. Dan di tengah itu, suara seperti Buni Yani akan terus menggema—sebagai suara oposisi yang menolak lupa, menolak kompromi, dan menolak pengkhianatan atas konstitusi.


Akhir kata, tulisan Buni Yani tidak bisa dibaca sebagai opini biasa. Ia adalah cermin keresahan bangsa yang sudah terlalu lama melihat pengkhianatan dilegalisasi. Dalam gaya yang keras, Buni Yani memaksa kita untuk menengok masa lalu, menilai masa kini, dan bersiap menghadapi masa depan—yang mungkin tak lebih cerah, tetapi setidaknya lebih jujur.


Esai ini adalah tafsir redaksi Fusilatnews terhadap opini Buni Yani dan tidak mewakili pandangan pribadi penulis. Tujuannya adalah membuka ruang dialog lebih luas tentang krisis legitimasi kekuasaan dan keinginan rakyat untuk perubahan sejati.

Link : https://kbanews.com/pilihan-redaksi/pemakzulkan-gibran-ijazah-palsu-dan-kasus-korupsi-lumpuhkan-jokowi/

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PEMIMPIN TAK PUNYA OTAK ATAU TAK PUNYA NURANI? : Membongkar Wajah Kekuasaan Era Jokowi: Korupsi, Represi, dan Negara Tanpa Keadilan

Next Post

Kacamata Dunia: Papua dalam Cengkeraman Negara – Tanah Dirampas, Suara Dibungkam

Redaktur Senior 01

Redaktur Senior 01

Related Posts

Feature

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026
Feature

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

May 16, 2026
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan
Birokrasi

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Next Post
Kacamata Dunia: Papua dalam Cengkeraman Negara – Tanah Dirampas, Suara Dibungkam

Kacamata Dunia: Papua dalam Cengkeraman Negara - Tanah Dirampas, Suara Dibungkam

Raja Ampat Dirusak Negara

Papua: A Land of Plunder, A People Silenced – A Call to the International Community

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

May 16, 2026
Akhlak Dedi Mulyadi: Masih Akhlak Bupati

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

May 15, 2026
Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

May 15, 2026
KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

May 15, 2026
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026

Dari Mulyono Terbitlah Mulyadi

May 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist