FusilatNews – Muyono dibiarkan tergantung, bak punching bag yang sengaja dijadikan target pukulan dari segala penjuru mata angin. Ia bukan sekadar individu, melainkan simbol dari satu babak permainan politik yang lebih besar. Sementara itu, di setiap sudut strategis, para soldadu memainkan peran dengan lihai, mengisi ruang-ruang yang sengaja dibiarkan kosong oleh para aktor politik sipil yang kini semakin kehilangan daya. Ini bukan fenomena baru, melainkan repetisi dari sejarah yang telah kita kenal.
Mereka yang paham dinamika politik Orde Baru tentu bisa melihat pola ini dengan jelas. Ada keinginan terpendam untuk kembali ke masa ketika militer tidak sekadar alat pertahanan, tetapi juga pilar utama dalam percaturan politik. Bedanya, kini mereka tidak bisa tampil telanjang seperti dulu. Ada norma-norma demokrasi yang—walau sering kali hanya formalitas—tetap menjadi sekat yang membatasi gerak mereka. Karena itu, peran yang dimainkan harus lebih subtil, lebih cerdas, dan lebih taktis.
Muyono, dalam posisi tergantung, bukanlah korban yang kebetulan. Ia dijadikan sasaran untuk mengalihkan perhatian, untuk menjadi alat ukur sejauh mana publik bisa dikondisikan, sejauh mana opini bisa dikendalikan. Di belakangnya, para pemain sejati menyusun langkah, memastikan bahwa semua berjalan sesuai rencana besar mereka. Sebab, jika sejarah mengajarkan sesuatu, itu adalah bahwa kekuasaan tidak pernah benar-benar diserahkan kepada rakyat. Ia hanya berpindah tangan, bersembunyi dalam wajah-wajah baru yang selalu bisa dikamuflasekan.
Kini, kita berada di satu titik di mana militer tidak bisa lagi secara terang-terangan mengambil kendali. Reformasi telah melahirkan batasan-batasan yang sulit ditembus tanpa konsekuensi besar. Namun, itu tidak berarti mereka kehilangan cara. Dalam politik, jika satu jalur tertutup, selalu ada jalur lain yang bisa dimanfaatkan. Dan jika tidak bisa mengendalikan kekuasaan secara langsung, mengendalikan medan permainannya adalah pilihan yang lebih cerdas.
Muyono tetap bergantung, sementara pukulan terus mendarat dari berbagai arah. Ia dibiarkan terombang-ambing, bukan untuk dijatuhkan, tetapi untuk memastikan bahwa agenda yang lebih besar tetap berjalan tanpa hambatan berarti. Di saat yang sama, para soldadu terus bergerak dalam bayang-bayang, memainkan peran yang telah mereka kuasai sejak lama. Sebab, meski zaman berubah, ambisi tetap sama: mengambil peran dalam adonan politik, seperti dulu, seperti sekarang, dan mungkin seperti selamanya.





















