Oleh : Malika D. Ana | Pengamat Sosial Politik

Setelah mencuatnya kasus podcast Deddy Corbuzier, banyak pihak memperlihatkan resistensi nya terhadap kaum maho sampai dengan seruan unsubscribe channel YouTubenya. Disisi lain juga terdapat pembelaan dari mereka yang konon liberal. Kenapa sih selalu dihubung-hubungkan dengan dosa, halal haram, toh gak semua menganut agama yang sama, seperti makan babi, tidak semua agama melarang makan babi.
Setelah mencuatnya kasus podcast Deddy Corbuzier, banyak pihak memperlihatkan resistensi nya terhadap kaum maho sampai dengan seruan unsubscribe channel YouTubenya. Disisi lain juga terdapat pembelaan dari mereka yang konon liberal. Kenapa sih selalu dihubung-hubungkan dengan dosa, halal haram, toh gak semua menganut agama yang sama, seperti makan babi, tidak semua agama melarang makan babi.
Ngomong begini sih enteng, tapi bisakah menjamin mereka tidak berkembang lebih banyak lagi, bisakah mereka tidak menularkan perilakunya pada anak-anak, adakah jaminan mereka tidak menjadi predator demi memperbanyak jumlah komunitasnya?
Awalnya minta dimengerti, minta diterima, dianggap setara, sementara terus mencari mangsa. Lama-lama memangsapun mereka minta dibilang wajar dan biasa, bahkan minta dikasihani sebagai korban, karena latar belakang perilaku menyimpangnya didahului sebagai korban sodomi. Ini yang disebut dengan diwenehi ati ngrogoh rempela. Gak mikir bahwa korban mereka, pada akhirnya juga akan bisa menjadi predator yang sama terhadap yang lebih lemah, anak-anak misalnya.
Awalnya kita disuruh nganggep normal penis masuk dubur, ntar lama-lama juga disuruh nganggep normal saat penis masuk knalpot. Lalu tambah Q, tambah lagi I, trus A, abis ini P, lama-lama necrophilia dan predator hewanpun minta dianggap normal. Para paedofil juga menuntut orientasi seksual dengan anak harus diterima sebagai bawaan genetik pula dan dianggap normal. Akhirnya merembet pula kalo menggauli ibunya, atau anak kandung juga minta dimengerti sebagai kewajaran. Kan Queer…orientasi seksual manusia tidak sama, begitu pembelaannya.
Beranak pinak dari mana jika sesama ulegan saling tumbuk? Pernah liat artefak di candi-candi yang menarasikan sesama lingga tumbuk-tumbukan? Bisa punya anak dari mana jika sperma ketemu faeces di usus 12 jari? Sperma hanya akan menjadi anak jika ketemu dengan sel telur di rahim.
Dulu ada mantan host Jeremi Teti bilang bahwa rahim perempuan bisa disewa, karena para hombreng tak akan bisa bereproduksi. Itu penghinaan buat harkat dan martabat perempuan, ini kalimat biadab. Rahim disamain kayak mesin cuci laundry, baju kotor dari mana-mana masuk, giling, bersih, kering, bayar, trus pergi… Yang begini dibela atas nama HAM. Lha yang punya rahim apa gak punya HAM?! Lupa bahwa hak asasi manusia mensyaratkan “adil dan beradab” di dalamnya, bukan semata hak asasi manusia.
Lucunyaa, justru yang paling bersuara keras membela perilaku LGBT itu sesama aktifis perempuan. Saya sendiri tidak pernah membenci manusianya, tapi saya kira para aktivis yang banyak bersuara sebenarnya lebih banyak latah mengikuti kampanye global tentang LGBT yang banyak disponsori oleh cara berpikir Barat yang lebih bebas berekspresi tanpa perlu dikonfrontir lagi dengan nilai-nilai tradisi budaya yang biasanya berperan menyaring hal-hal baru yang belum tentu bermanfaat bagi peradaban.
Ketakutan saya hanya satu. Jangan sampai lama kelamaan orientasi seksual hetero tergantikan oleh orientasi seksual homo yang tujuannya lebih pada bikin enak daripada bikin anak.
Jika hal itu terjadi, kita tak ubahnya keledai yang sama yang terantuk pada ‘batu’ (baca: kesalahan) Sodom yang sama yang pernah diriwayatkan dosanya dahulu. Mosok kita rela dan setuju pada perilaku merusak kemanusiaan begini? Lalu buat apa agama-agama diturunkan? Untuk apa pula menganggap manusia makhluk paling sempurna kalo pada realitasnya perusak alam semesta?
Lagian speaking honestly, misal punya anak dari surrogate mother, emang mau jika anak-anak nya meniru ikutan jadi hombreng? Ada yang beranggapan bhw menjadi LGBT itu bukan aib di masyarakat. Ya sudah, yang beranggapan begitu berdoa dan berharap saja punya anak yang bener, straight, bukan seorang laki-laki gagah macho dan perkasa tapi suka lubang pantatnya laki-laki macho juga.
Btw, beri saya pencerahan, agama mana yang membolehkan torpedo masuk ke lobang pantat?
Memang kalo dari standar believe system kalo untuk bagimu believe mu, bagiku believe ku gak ada masalah itu urusannya masing-masing. Nah believe system soal LGBT biasanya jarang dipake debat tapi kalodipake untuk memasang label maksiat, dititik ini bakal ada clash dan konflik. Karena memperdebatkan kepercayaan sama absurdnya dengan meranking kebahagiaan?
Bener. Tapi masalahnya knowledge system itu dasarnya hukum manusia, dan bisa dibelok-belokan demi kepentingan juga. Jadi entah ontetik atau tidaknya. Sementara hukum kepercayaan jelas lebih tinggi derajatnya, tapi kalo gak percaya ya percuma juga sih…
Okey gosah ngomongin belief system, halal haram, pahala dan dosa apalagi sorga dan neraka, biar jadi urusan masing-masing yang percaya saja. Cukup ngomong Pancasila saja sebagai dasar tertinggi negara sekaligus standar penilaian. Apakah Pancasila mengakomodir perilaku-perilaku seks menyimpang? Apakah LGBT sesuai dengan sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa? Sesuaikah juga dengan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab?
Buat saya LGBT itu penyakit, yang kemungkinan untuk sembuhnya kecil, efeknya bisa sangat merusak kemanusiaan. Itu kenapa mesti pake pencegahan sejak dini. Saya pribadi jijik dengan perilakunya, bukan pada pengidapnya.(mda)
Kopi_kir sendirilah!

























