• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Memperingati PDIP Pecat The Jokowi

Ali Syarief by Ali Syarief
December 17, 2025
in Feature, Politik, Tokoh/Figur
0
Memperingati PDIP Pecat The Jokowi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Pada 16 Desember 2025, genap setahun PDI Perjuangan memecat Joko Widodo dari keanggotaan partai. Bukan hanya Jokowi. Dua nama yang ikut terseret adalah Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution—anak dan menantu yang karier politiknya tumbuh subur justru dari rahim PDI-P. Sebuah keputusan yang, dalam iklim politik hari ini, terdengar ganjil. Bahkan nyaris bunuh diri secara elektoral.

Di era ketika partai politik berubah menjadi terminal transit, tempat politisi keluar-masuk demi tiket kekuasaan, langkah PDI-P terasa melawan arus. Oportunisme telah menjadi kelaziman. Kutu loncat dipeluk, pengkhianatan dimaafkan, ideologi dilipat rapi dan disimpan di laci paling bawah. Selama elektabilitas menjanjikan, dosa politik bisa dinegosiasikan.

Megawati Soekarnoputri memilih jalan lain.

Ia tak pernah terlalu peduli pada popularitas personal. Bagi Megawati, partai bukan sekadar kendaraan, melainkan rumah ideologis. Pemimpin tidak dinilai dari retorika, tetapi dari perbuatan. Dari kesetiaan pada garis politik, bukan kelihaian membaca angin.

Pemecatan Jokowi—beserta keluarganya—adalah pesan keras bahwa disiplin, marwah, dan ideologi bukan sekadar slogan kongres. Ia adalah pagar. Dan pagar itu, bagi PDI-P, tak boleh dirubuhkan bahkan oleh seorang presiden.

Relasi Megawati dan Jokowi bukan hubungan singkat. Sejak 2005, Jokowi diperlakukan bukan sekadar kader, tetapi “adik ideologis”. Semua kontestasi politik Jokowi—dari Solo, Jakarta, hingga Istana—berjalan dengan restu penuh Megawati. Bahkan ketika Gibran dan Bobby maju, PDI-P kembali membuka pintu. Kepercayaan itu nyaris tanpa syarat.

Namun kekuasaan sering kali mengubah arah kesetiaan.

Ketika Jokowi memilih jalan pragmatis—menggunakan kekuasaan untuk melapangkan jalan politik keluarganya—ia bukan hanya meninggalkan Megawati, tetapi juga menabrak nilai dasar yang selama ini dikhotbahkan PDI-P: demokrasi, etika kekuasaan, dan keadilan. Di titik itu, persoalan bukan lagi personal. Ini soal prinsip.

Tri Sakti dan Nawacita Bung Karno, yang selalu diklaim sebagai kompas ideologis pemerintahan Jokowi, justru kehilangan makna dalam praktik. Kemandirian politik berubah menjadi konsolidasi dinasti. Etika kekuasaan digerus oleh kepentingan darah dan nama keluarga. Amanah partai tereduksi menjadi alat.

Di hadapan situasi itu, Megawati mengambil sikap yang jarang ditemui di politik Indonesia: menghukum kader paling berkuasa. Ia menunggu waktu yang dianggap pantas, demi menjaga kehormatan institusi kepresidenan. Tapi ketika garis dilanggar, tak ada pengecualian. Tak boleh ada kader yang merasa lebih besar dari partai.

Pemecatan Jokowi bukan sekadar sanksi organisasi. Ia adalah pernyataan politik jangka panjang. Bahwa PDI-P lebih memilih bertahan sebagai partai ideologis, meski harus kehilangan figur populer. Bahwa partai yang besar bukan yang tunduk pada kekuasaan hari ini, melainkan yang sanggup menjaga nilai untuk 50, bahkan 100 tahun ke depan.

Dalam politik yang makin cair dan sinis, keputusan itu memang tidak populer. Tapi justru di sanalah letak maknanya. Sebab sesekali, demokrasi memang butuh ketegasan—bukan tepuk tangan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengapa Tidak 90 Persen? Pertanyaan Keadilan di Balik Divestasi Freeport

Next Post

Wali Kota Tauhid dan Slogan Esprit de Corps

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang
Feature

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut
Crime

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris
Crime

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Next Post
Wali Kota Tauhid dan Slogan Esprit de Corps

Wali Kota Tauhid dan Slogan Esprit de Corps

Mengapa Umat Beragama Gagal Menundukkan Serangan Ateisme

Mengapa Umat Beragama Gagal Menundukkan Serangan Ateisme

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD
Feature

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

by Karyudi Sutajah Putra
January 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dan partai politik-partai politik pendukungnya, yang mewacanakan...

Read more
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

January 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

January 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist