• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Mengapa Tidak 90 Persen? Pertanyaan Keadilan di Balik Divestasi Freeport

Ali Syarief by Ali Syarief
December 17, 2025
in Birokrasi, Feature, Politik
0
Mengapa Tidak 90 Persen? Pertanyaan Keadilan di Balik Divestasi Freeport
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa 10 persen saham Freeport merupakan hak masyarakat Papua menjadi alasan esai ini ditulis. Sebab ketika seorang presiden menetapkan angka keadilan bagi pemilik sah tanah Papua melalui persentase yang terbatas, publik berhak mempertanyakan dasar moral dan politiknya. Atas dasar apa masyarakat Papua hanya diberi 10 persen dari tambang yang berdiri sepenuhnya di atas tanah mereka sendiri?

Negara kembali berbicara tentang keadilan untuk Papua. Kali ini lewat skema divestasi PT Freeport Indonesia, dengan menyebut angka 10 persen saham sebagai “hak orang asli Papua” (OAP). Angka itu disampaikan seolah telah final, wajar, dan mencerminkan keberpihakan negara. Padahal, justru di situlah letak persoalan paling mendasar: atas dasar apa Papua hanya diberi 10 persen?

Pertanyaan ini tidak teknokratis, melainkan politis dan moral. Jika Papua adalah tanah adat orang Papua, jika gunung, tanah, dan isi perut buminya berada di wilayah hidup mereka, maka pertanyaan jujurnya bukan “bagaimana mengelola 10 persen”, melainkan mengapa bukan 90 persen, atau bahkan seluruhnya?

10 Persen Bukan Hak, Tapi Jatah Kekuasaan

Narasi “hak 10 persen” adalah manipulasi bahasa kebijakan. Hak lahir dari kepemilikan yang sah dan berdaulat. Sementara angka 10 persen lahir dari kompromi kekuasaan antara negara dan korporasi, bukan dari pengakuan terhadap kedaulatan adat Papua.

Negara sejak awal tidak pernah mengakui orang asli Papua sebagai pemilik utama sumber daya alamnya. Yang diakui adalah doktrin klasik Pasal 33 UUD 1945: bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara. Dalam praktiknya, frasa “dikuasai oleh negara” berubah menjadi dimiliki oleh negara, dikelola oleh korporasi, dan sisanya—jika ada—dibagikan sebagai kompensasi kepada rakyat lokal.

Maka 10 persen itu bukan keadilan. Ia adalah jatah. Dan jatah selalu bisa dinegosiasikan, diperkecil, atau dijadikan alat politik.

Keadilan Tidak Pernah Lahir dari Persentase Kecil

Jika negara sungguh berniat mempercepat kesejahteraan OAP, maka logika politik-ekonominya harus dibalik. Yang seharusnya menjadi mayoritas pemilik adalah orang Papua, sementara negara dan Freeport menjadi mitra teknis, penyedia modal, dan pengelola profesional. Namun skema seperti itu tidak pernah sungguh-sungguh dipertimbangkan.

Mengapa? Karena penguasaan sumber daya Papua bukan semata soal ekonomi, melainkan soal kontrol politik, fiskal, dan geopolitik. Memberi kepemilikan mayoritas kepada OAP berarti:

  • negara kehilangan kendali penuh,

  • korporasi kehilangan kenyamanan investasi,

  • dan elite kehilangan rente.

Karena itu, 10 persen berfungsi sebagai alibi moral: cukup kecil untuk tidak mengganggu struktur kekuasaan, tapi cukup besar untuk dipamerkan sebagai “keberpihakan”.

Ilusi Kepemilikan dan Bahaya Oligarki Lokal

Lebih berbahaya lagi, divestasi tanpa desain kelembagaan yang transparan hanya akan memindahkan ketimpangan dari korporasi asing ke oligarki lokal. Saham atas nama Papua bisa dikelola oleh segelintir elite, birokrat, atau badan usaha yang jauh dari kehidupan orang asli Papua di kampung-kampung.

Dalam skema seperti ini, OAP kembali hanya menjadi objek kebijakan, bukan subjek ekonomi. Mereka “punya” saham, tetapi tidak mengendalikan keputusan, tidak menentukan arah investasi, dan tidak merasakan dampaknya secara langsung.

Ini bukan pembangunan. Ini reproduksi ketimpangan dengan wajah lokal.

Otonomi Khusus Diuji di Titik Paling Kritis

Divestasi Freeport seharusnya menjadi ujian paling serius bagi Otonomi Khusus Papua. Jika Otsus hanya mampu mengamankan 10 persen saham tanpa memastikan:

  • kendali komunitas adat,

  • transparansi pengelolaan,

  • dan distribusi manfaat lintas generasi,

maka Otsus telah gagal menjalankan mandat sejarahnya.

Lebih dari dua dekade Otsus berjalan, tetapi Papua tetap miskin di atas tanah kaya. Maka pertanyaan publik wajar dan sah: berapa persen lagi yang harus diambil sebelum negara mengakui bahwa pendekatan ini keliru?

Lebih dari Saham, Ini Soal Kejujuran Negara

Pada akhirnya, divestasi Freeport bukan soal teknis korporasi, melainkan soal kejujuran negara terhadap Papua. Apakah negara berani mengakui bahwa selama ini Papua diperlakukan sebagai wilayah eksploitasi, bukan sebagai komunitas pemilik?

Jika jawabannya tidak, maka berapa pun angka yang ditawarkan—10 persen, 20 persen, bahkan 30 persen—tidak akan pernah cukup. Karena keadilan tidak lahir dari sisa, melainkan dari pengakuan atas kedaulatan.

Dan selama negara masih takut pada kata “kepemilikan rakyat Papua”, maka divestasi hanya akan menjadi cerita lama dengan angka baru.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Dari Izin Menjadi Kuburan Massal

Next Post

Memperingati PDIP Pecat The Jokowi

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta
Crime

Bila Ijazah Asli;Roy CS Terancam Penjara 9 Bulan – Bila Palsu; Jokowi Terancam 10 Tahun

February 13, 2026
Next Post
Memperingati PDIP Pecat The Jokowi

Memperingati PDIP Pecat The Jokowi

Wali Kota Tauhid dan Slogan Esprit de Corps

Wali Kota Tauhid dan Slogan Esprit de Corps

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...