Oleh: Damai Hari Lubis
Fusilatnews – Ada yang menarik dari suasana halal bihalal yang digelar di kediaman Menko PMK Muhaimin Iskandar (Cak Imin) pada Minggu malam, 20 April 2025. Di tengah ramainya tamu dari kalangan menteri dan elite Kabinet Indonesia Maju, mantan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin melontarkan pernyataan yang membuat telinga para pengamat politik langsung berdiri: “Situasi tidak baik-baik saja.”
Dalam politik, apalagi yang dikatakan seorang ulama sepuh seperti Ma’ruf Amin, tak ada yang benar-benar spontan. Di balik kalimat bernada tenang itu, tersimpan gelombang dalam. Ada semacam ketidaknyamanan yang tengah dibisikkan secara halus namun tajam. Maka tak heran, banyak yang bertanya: “Ini arahnya ke mana, sih? Ma’ruf lagi belain Prabowo? Atau sedang mulai menjauh dari Jokowi?”
Tanda Tanya yang Tak Bisa Diabaikan
Ketika Ma’ruf bicara soal perlunya menteri-menteri Prabowo nanti untuk “mengambil langkah terbaik” dan “mengutamakan prioritas,” itu bukan nasihat biasa. Itu semacam kode etik dari seorang penjaga moral bangsa. Tapi justru karena itu, kita menjadi bertanya-tanya: kenapa peringatan ini baru sekarang muncul?
Selama hampir satu dekade Jokowi memimpin, kita tak pernah mendengar Yai Ma’ruf bicara atau berupaya menahan, apalagi melarang Jokowi untuk menindak para ulama dan aktivis yang kritis terhadap pemerintah. Tidak terdengar suara pembelaannya terhadap para ulama yang dikriminalisasi, aktivis-aktivis muslim dan nasionalis yang dijebloskan ke penjara, atau yang dibungkam dengan berbagai dalih hukum.
Padahal, sebagai sesama ulama, sebagai bagian dari komunitas moral bangsa, mestinya ada keberpihakan, atau minimal empati. Tapi yang terjadi? Sunyi. Hening. Bahkan ketika kami—para aktivis yang sejak awal menyerukan rekonsiliasi nasional—justru dicibir dan diabaikan.
Dan kini, ketika kekuasaan hendak bergeser ke tangan Prabowo, tiba-tiba muncul pesan untuk bersatu, memprioritaskan yang utama, dan membersihkan hati. Pertanyaannya: kenapa baru sekarang, Yai?
Pertemuan Dua Matahari dan Isyarat Politik
Ma’ruf juga menyinggung soal pertemuan menteri-menteri Prabowo dengan Jokowi yang ramai disorot publik. Ia menyebutnya sebagai hal yang wajar dalam suasana Idul Fitri. Tapi pernyataannya tidak berhenti di situ. Ia lanjut memberi nasihat agar semua pihak membersihkan hati agar tidak muncul rasa ancaman terhadap Prabowo.
Ini pernyataan yang dalam maknanya. Apakah ini bentuk dukungan diam-diam terhadap Prabowo? Atau peringatan terhadap Jokowi dan barisan loyalisnya agar tahu diri dan tahu waktu?
Tapi yang lebih tajam lagi, publik mulai bertanya—dan ini bukan pertanyaan kecil: apakah Yai Ma’ruf juga ikut kebagian “kue pembangunan” dari Jokowi dengan porsi fantastis? Porsi besar?
Karena jika iya, maka tentu sulit bagi publik untuk menelan begitu saja pernyataan kritisnya saat ini. Sebab akan tercium sebagai manuver politik menjelang peralihan kekuasaan, bukan murni panggilan nurani.
Rekonsiliasi Nasional atau Rebranding Diri?
Dan jika kini suara-suara mulai menggema dari berbagai pihak—termasuk Yai Ma’ruf—agar terjadi rekonsiliasi nasional, maka kami yang dulu lebih awal menyerukannya justru teringat bagaimana kami dulu dianggap sebelah mata. Ketika kami meminta negara untuk membuka ruang maaf dan dialog bagi para aktivis dan ulama yang dikorbankan, negara tutup telinga.
Kini ketika kekuasaan beralih, semua bicara rekonsiliasi? Sungguh ironis. Apakah ini tulus? Atau hanya karena arus politik sedang berbalik arah?
Menakar Kompas Moral Ma’ruf
KH Ma’ruf Amin adalah sosok penting dalam sejarah politik Indonesia pasca-reformasi. Tapi sejarah tidak hanya mencatat posisi formal, ia mencatat keberpihakan. Dan publik berhak tahu, ke mana kompas moral Ma’ruf kini mengarah? Jika ia kini mulai memberi ruang untuk Prabowo, maka patut diapresiasi bila itu berdasarkan nurani. Namun jika hanya karena aroma kue kekuasaan bergeser, publik pun tak bisa dibohongi.
Pada akhirnya, suara Ma’ruf memang masih didengar. Tapi publik juga sudah lebih dewasa. Mereka bisa membedakan antara nasihat spiritual dan kalkulasi politis. Dan mereka akan mengingat siapa yang bersuara saat sulit, dan siapa yang baru bicara setelah aman.





















