• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mencari Rumah Baru bagi Republik – Mengapa Ingin Kembali Ke Bilik Yang Lapuk?

Ali Syarief by Ali Syarief
September 25, 2025
in Feature, Politik
0
Mencari Rumah Baru bagi Republik – Mengapa Ingin Kembali Ke Bilik Yang Lapuk?
Share on FacebookShare on Twitter

Konstitusi yang Membelenggu

Kita sering terjebak pada sebuah keyakinan: konstitusi adalah kitab suci. Sesuatu yang mesti dipuja, disembah, dan diletakkan di atas altar. Ia dianggap “sakral”, seakan-akan melampaui waktu dan manusia.

Padahal, konstitusi tak lebih dari hasil pikiran para pendiri bangsa yang—seperti kita semua—punya keterbatasan. Ia bukan wahyu. Ia disusun dalam ruang yang sempit, dengan pengalaman yang terbatas, dan dalam suasana genting: sebuah bangsa baru lahir, sebuah republik mencari bentuk.

Sejak itu, kita hidup dengan teks itu. Kadang kita ubah sedikit, empat kali, melalui amandemen. Tapi perubahan itu lebih seperti tambalan pada kain tua: robeknya tetap melebar, benangnya tetap rapuh.

Dan hari ini, kita masih berjalan dengan luka yang sama.


Masalah politik kita berputar di situ-situ saja. Korupsi, oligarki, partai-partai yang miskin gagasan, pemimpin yang lahir bukan dari gagasan besar melainkan dari kalkulasi kecil. Demokrasi kita seperti panggung sandiwara: bising, penuh sorak-sorai, tapi miskin makna.

Kita sering mencari kambing hitam. Kita salahkan individu. Kita salahkan partai. Tapi sedikit sekali yang berani menunjuk akar masalah: konstitusi kita sendiri.

Konstitusi itu telah melahirkan sistem politik yang timpang: presidensial tapi penuh aroma parlementer. Demokrasi elektoral tapi dengan biaya politik yang mencekik. Mekanisme checks and balances yang lemah. Partai-partai yang hidup bukan karena ide, tapi karena akses pada kekuasaan.

Semuanya sah, karena konstitusi memberi ruang.


Sejarah kita sendiri membuktikan: konstitusi bukanlah sesuatu yang beku. Indonesia pernah berganti-ganti dasar hukum tertingginya. Dari UUD 1945 yang pertama, lalu Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949, kemudian UUD Sementara 1950, hingga akhirnya kembali ke UUD 1945 melalui Dekret Presiden 1959. Semua perubahan itu lahir dari situasi politik yang mendesak—kadang kacau, kadang penuh kompromi, kadang juga penuh intrik.

Artinya, bangsa ini sebenarnya pernah berani meninggalkan teks lama dan mencari bentuk baru. Kita pernah menganggap konstitusi sebagai alat, bukan berhala. Tapi entah mengapa, kini kita seolah-olah kehilangan keberanian itu. Kita menempel pada satu teks, menahbiskannya sebagai pusaka, dan lupa bahwa sejarah kita sendiri telah mengajarkan fleksibilitas.


Di tempat lain, bangsa-bangsa menempuh jalan yang berbeda. Amerika Serikat, misalnya, tetap setia pada konstitusi yang lahir dua abad silam. Tapi kesetiaan itu tak berarti kebekuan. Mereka menyesuaikannya lewat amendemen, lewat putusan Mahkamah Agung, lewat tradisi hukum yang dinamis. Prancis bahkan lebih drastis: sejak revolusi, negara itu sudah lima kali berganti konstitusi—dan kini hidup dengan Republik Kelima yang lebih stabil. Dengan kata lain, tidak ada satu model tunggal. Yang ada hanyalah keberanian membaca zaman, lalu menyesuaikan teks dengan kebutuhan.


Tapi kita ragu. Kita terlalu menghormati teks itu. Kita terlalu takut disebut durhaka kepada para pendiri bangsa. Padahal, menghormati bukan berarti membekukan. Justru karena menghormati, kita mesti berani mengakui bahwa mereka bukan nabi. Mereka meninggalkan warisan, tapi warisan itu bukan tanpa cela.

Lalu apakah kita akan terus mengulang amandemen kelima, keenam, ketujuh—seperti orang yang menambal baju yang sudah usang? Ataukah kita punya keberanian untuk membuat sesuatu yang betul-betul baru: sebuah konstitusi yang segar, lahir dari perenungan yang luas, melibatkan suara rakyat, para ahli, dan pengalaman dunia yang lebih matang?

Sebuah konstitusi yang tidak hanya menjaga republik ini tetap hidup, tapi juga membuat rakyatnya merasa nyaman, terlindungi, dan bahagia.


Bangsa ini sering disebut besar. Tapi kebesaran itu tak berarti apa-apa jika ia terus dipasung oleh sebuah teks yang sudah tak mampu menampung kompleksitas zaman.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti memandang konstitusi sebagai kitab suci. Ia bukan wahyu. Ia hanya kontrak sosial, dan kontrak sosial selalu bisa diperbarui. Sebab yang kita kejar bukanlah kesakralan teks, melainkan kesejahteraan manusia.

Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa setia ia pada masa lalu, melainkan dari seberapa berani ia menciptakan masa depan.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Abu Dhabi Menjadi Episentrum Dialog Perdamaian Lintas Agama

Next Post

Islam dan Spirit Lita‘ārafū: Antara Ajaran dan Realitas Sosial

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional
Birokrasi

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Next Post
Islam dan Spirit Lita‘ārafū: Antara Ajaran dan Realitas Sosial

Islam dan Spirit Lita‘ārafū: Antara Ajaran dan Realitas Sosial

Di Katim; 9 Petani Menolak Lahannya Dibebaskan untuk Proyek IKN -Ditangkap Polda dan di Botaki

PETANI BERDAYA, BANGSA BERKEMBANG!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...