Di era globalisasi, pertemuan antarbudaya dan agama adalah hal yang tak terelakkan. Namun, perbedaan sering disalahartikan, bahkan memicu gesekan sosial. Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa ajaran Islam, sejatinya, mengedepankan dialog, penghormatan, dan pemahaman—bukan dominasi atau pemaksaan.
Al-Qur’an menjelaskan prinsip ini dengan jelas dalam Surah Al-Hujurāt ayat 13:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (lita‘ārafū). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Ayat ini menekankan tiga hal: pertama, Islam bersifat universal dan mengajak seluruh manusia untuk saling mengenal; kedua, perbedaan adalah keniscayaan yang harus dijadikan sarana pemahaman; ketiga, kemuliaan bukan diukur dari agama atau asal-usul, tetapi dari takwa dan akhlak.
Dalam praktiknya, prinsip lita‘ārafū menuntut seorang Muslim untuk menghormati budaya dan tradisi negara tempatnya berada. Misalnya, bagi Muslim yang tinggal di Jepang, menghargai adat dan kebiasaan Jepang bukan hanya etika sosial, tetapi juga bagian dari kesesuaian dengan ajaran Islam. Menghormati masyarakat lokal adalah refleksi akhlak yang baik, bukan kompromi terhadap iman.
Sayangnya, akhir-akhir ini muncul beberapa gerakan kaum Islam di Jepang yang terlihat memaksakan nilai-nilai agama mereka kepada masyarakat setempat. Tindakan semacam ini bukanlah cerminan Islam yang sejati. Sebaliknya, perilaku tersebut menimbulkan ketegangan dan salah paham, bertentangan dengan spirit lita‘ārafū yang mengajarkan saling mengenal dan menghormati. Memaksakan norma sendiri ke ranah orang lain bukanlah dakwah; itu adalah bentuk dominasi yang menimbulkan konflik.
Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menekankan pemahaman, penghormatan, dan akhlak yang mulia. Spirit lita‘ārafū mengingatkan kita bahwa keberagaman bukan ancaman, tetapi anugerah. Oleh karena itu, setiap Muslim harus menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat lokal tanpa mengorbankan prinsip agama, sehingga perbedaan menjadi sumber kekayaan budaya, bukan sumber pertentangan. Mengabaikan prinsip ini, seperti yang terlihat dalam beberapa gerakan yang mengganggu masyarakat Jepang, adalah penyimpangan dari ajaran Islam itu sendiri.
























