• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Menerawang Dukun

fusilat by fusilat
August 30, 2022
in Feature
0
Menerawang Dukun

PROBOLINGGO, EAST JAVA, INDONESIA - JULY 24: A Tenggerese shaman prays during the Yadnya Kasada Festival at crater of Mount Bromo on July 24, 2013 in Probolinggo, East Java, Indonesia. The festival is the main festival of the Tenggerese people and lasts about a month. On the fourteenth day, the Tenggerese make the journey to Mount Bromo to make offerings of rice, fruits, vegetables, flowers and livestock to the mountain gods by throwing them into the volcano's caldera. The origin of the festival lies in the 15th century when a princess named Roro Anteng started the principality of Tengger with her husband Joko Seger, and the childless couple asked the mountain Gods for help in bearing children. The legend says the Gods granted them 24 children but on the provision that the 25th must be tossed into the volcano in sacrifice. The 25th child, Kesuma, was finally sacrificed in this way after initial refusal, and the tradition of throwing sacrifices into the caldera to appease the mountain Gods continues today. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Jaya Suprana | Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengupas makna kata dukun secara cukup ekstensif sekaligus intensif, yaitu:
dukun/du·kun/ n orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dan sebagainya);

— beranak dukun yang pekerjaannya menolong perempuan melahirkan;

— calak bengkong;

— jampi dukun yang menggunakan tumbuhan dan berbagai ramuan alami untuk menyembuhkan penyakit;

— japa dukun yang mengandalkan mantra sebagai sarana pengobatan;

— klenik dukun yang membuat dan memberi guna-guna atau kekuatan gaib lainnya;

— santet dukun yang memiliki kemampuan menggunakan kekuatan sihir terhadap manusia;

— siwer dukun yang mempunyai kekhususan mencegah terjadinya kesialan yang diakibatkan oleh peristiwa alami (hujan dan sebagainya);

— susuk dukun yang mempunyai keahlian khusus mengobati penyakit dengan menusukkan jarum emas pada bagian bawah kulit;

— tenung dukun yang memiliki atau mampu menggunakan kekuatan gaib terhadap manusia;

— tiban orang yang dalam waktu terbatas mempunyai kemampuan mengobati suatu penyakit karena adanya kekuatan gaib akibat kerasukan roh;

Tanpa mubazir membelah titian serambut menjadi tujuh dengan berdebat soal definisi dukun sampai mulut habis berbuih, dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya dukun merupakan satu di antara sekian banyak predikat profesi yang dilekatkan pada manusia dalam upaya masing-masing mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya.

Sebagai profesi pada prinsipnya dukun sama saja dengan para profesi pemberi produk jasa lain-lainya seperti misalnya petani, nelayan, pemulung, pengacara, ojek, ojol, konsultan, motivator, influenzer, comblang, dokter, tabib, sinshe dan lain sebagainya. Baik-buruknya suatu profesi tergantung pada bagaimana manusia mengejawantahkan profesi tersebut.

Sebagai bagian dari profesi bersifat tradisional tergolong kearifan lokal maka wajar bahwa profesi dukun distigma sebagai negatif bahkan destruktif oleh kaum penjajah yang meski sekarang Indonesia sudah berhasil mengusir kaum penjajah namun secara psikokultural pelecehan terhadap kearifan lokal masih diwariskan maka bertahan sampai masa kini.

Maka para dokter dan apoteker yang memang dididik dengan kaidah kebudayaan kesehatan barat yang dianggap “modern” merasa terhina apabila disetarakan dengan para dukun. Mujur tak bisa diraih nahas tak bisa ditolak, stigma buruk tersebut diperparah oleh kenyataan yang membuktikan secara tak terbantahkan bahwa memang ada dukun yang melakukan profesinya secara tidak etis, tidak baik, tidak senonoh, tidak jujur bahkan kriminal.

Bahkan ada dukun yang menspesialisasikan diri sebagai dukun santet yang alih-alih menyehatkan malah menyengsarakan bahkan membunuh sesama manusia. Akibat setitik nila memang rawan merusak susu belangga maka jika ada seorang dukun yang penipu maka langsung terjadi gejala gebyah-uyah bahwa semua dukun pasti penipu.

Pendek kata hukumnya wajib bahwa semua dukun tidak-bisa-tidak pasti harus brengsek. Sikap pukul rata begitu pada hakikatnya kurang bijak sebab jika ada dokter, apoteker, guru, pengacara, hakim, polisi, politikus, tentara, ulama berperilaku buruk sama sekali bukan berarti bahwa semua dokter, apoteker, guru, pengacara, hakim, polisi, politikus, tentara, ulama berperilaku buruk.

Lebih bijak apabila ada polisi membunuh polisi jangan kita main pukul rata lalu mengeneralisasi bahwa semua polisi adalah pembunuh polisi. Sama halnya jika ada dukun yang melakukan praktik penipuan maka jangan kita main hakim sendiri demi menghakimi bahwa semua dukun adalah penipu bahkan kemudian memanfaatkan kesempatan untuk menuntut undang-undang melarang profesi dukun yang pada hakikatnya merupakan warisan kearifan leluhur bangsa Indonesia yang dahulu disebut Nusantara.

Lebih bijak dan lebih adil kita memberi kesempatan bagi para dukun untuk bersatu dalam berjuang membuktikan bahwa tidak semua dukun penipu maka dukun siap berperan positif dan konstruktif pada sistem kesehatan nasional. Jika ada guru, pengacara, hakim, ulama, politikus dll, tidak jujur kemudian kita melarang profesi guru, pengacara, hakim, ulama, politikus dll, maka tidak ada lagi profesi tersisa di persada negeri gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta raharja tercinta ini. MERDEKA

Dikutip Kompas.com Minggu 28 Agustus 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Staf Khusus Ketua Badan Pengarah BPIP Tak Faham Tugas Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan

Next Post

Saling Serang!!! Mahfud Md Balas Kritikan Amien Rais

fusilat

fusilat

Related Posts

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik
Economy

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026
Birokrasi

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026
Feature

PRABOWO, THE ECONOMIST, DAN PERTARUNGAN MEMBACA INDONESIA

May 16, 2026
Next Post
GILIRAN MAHFUD MD DIKULITI BUZZERS DITUDING TIDAK BERETIKA

Saling Serang!!! Mahfud Md Balas Kritikan Amien Rais

Pembunuhan Brigadir J Bukan Pelanggaran HAM Berat, Begini Kata Komnas HAM

Pembunuhan Brigadir J Bukan Pelanggaran HAM Berat, Begini Kata Komnas HAM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026

PRABOWO, THE ECONOMIST, DAN PERTARUNGAN MEMBACA INDONESIA

May 16, 2026
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

Membungkam Kritik, Menabur Ketakutan

May 16, 2026
Hingar-Bingar Gibran di Senayan: Siapa yang Mau Menjaga Takhta Jika Prabowo Tiada?

Dosa Tak Terasa Memilih Prabowo

May 16, 2026

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist