Jakarta-Fusilatnews.–Hendro Satrio, pendiri Kedai Kopi, mengemukakan pandangan menariknya terkait kebijakan politik Anies Baswedan dan Presiden Jokowi. Hendro mengajukan pertanyaan mengapa Anies tidak melakukan blusukan seperti Jokowi, menyoroti dinamika politik yang semakin tak terkendali.
Menurut Hendro, kejiwaan Presiden Jokowi tampak semakin tak terkendali. Saat berada di acara kenduri cinta M Ainun Najib, Jokowi disebut akan berakhir jabatannya tanpa memiliki partai politik, meski anaknya, Gesang, memimpin PSI, dan Ganjar merupakan loyalis Megawati.
Hendro juga mencatat bahwa Prabowo berani mencalonkan diri sebagai Capres karena takut kalah menghadapi Capres Amin, sehingga Jokowi mengincar kemenangan satu putaran dengan mengorbankan prinsip kampanye demi mendukung Gibran sebagai calon wakil presiden dengan menggunakan fasilitas negara.
Dalam diskusi di markaz KB PII pusat, Hendro menyoroti kekecewaan oligarki yang dikejar pajak oleh Jokowi dan penasaran mengapa mereka kalah dalam pertarungan gubernur DKI melawan Anies. Hal ini membuat Jokowi berambisi untuk menguasai Mahkamah Konstitusi agar dapat memenangkan pemilu 2024 dalam rangka mencapai tiga periode yang mengikat dan final.
Hendro juga mempertanyakan apakah PDIP dapat diterima oleh PKS jika Amin menang, sementara Anies, jika menang, dianggap lebih hebat, terutama dengan cara blusukan.
Pernyataan Hendro Satrio ini diungkapkan dalam acara peluncuran dan bedah kitab “Anies Rasyid Baswedan: Berbayakah bagi Oligarki?” karya Yusuf Blegur, di Markas Pejuang AMIN, Jalan Pandeglang, Menteng, Jakarta, pada tanggal 25 Januari 2024 sore. Mardani Ali Sera (DPR PKS) dan Edi Mulyadi (Jin buang anak) turut menjadi panelis, dengan acara disambut oleh M Taufik wakil TKN AMIN.
Meski dalam keterbatasan waktu, Calon Gubernur DKI Mardani Ali Sera mengapresiasi karya Yusuf Blegur, yang juga pemimpin Simpul BroNies, yang telah menghasilkan tiga kitab, “Menjemput Mandat Presiden” dan “Mengetuk Pintu Langit,” yang diharapkan bisa sukses di luar negeri. Hendro Satrio menekankan bahwa kebenaran dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.
Mahdi


























