• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mengapa Arab Ogah dengan Demokrasi?

fusilat by fusilat
August 9, 2022
in Feature
0
Mengapa Arab Ogah dengan Demokrasi?

Sumber : Republika

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Inilah hasil survei terbaru tentang demokrasi di negara-negara Arab: mereka ogah dengan demokrasi! Orang-orang Arab di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara tak percaya lagi demokrasi membawa kesejahteraan dan kestabilitasan ekonomi.

Survei dilakukan the Arab Barometer melalui kemitraan Universitas Princeton, AS dan sejumlah perguruan tinggi serta lembaga survei di Timur Tengah dan Afrika Utara. Jajak pendapat berlangsung dari akhir 2021 hingga musim semi (Juni) 2022.

Menyertakan sekitar 23 ribu responden Arab — Yordania, Lebanon, Mesir, Tunisia, Mauritania, Maroko, Sudan, Irak, Libya, dan wilayah Palestina (Tepi Barat dan Gaza). Iran, Israel, dan Turki tak masuk jajak pendapat. Mereka bukan Arab. Begitu pula negara monarki Teluk.

Metode yang digunakan dengan tatap muka/wawancara. Mayoritas responden sepakat, ekonomi negara lebih buruk pada masa demokrasi. Ini alasan mereka ogah dengan demokrasi.

Hasil ini tentu aneh karena terjadi hanya sekitar 10 tahun setelah revolusi rakyat Arab (the Arab Spring) yang menuntut perubahan politik lebih demokratis, dengan menggulingkan rezim diktator-otoriter.

Responden yang mengungkapkan demokrasi tak membawa kesejahteraan, cukup tinggi. Di Irak berkisar 72 persen, Tunisia 70 persen, wilayah Palestina 62 persen, Libya 60 persen, Yordania 55 persen, Lebanon 52 persen, Sudan 50 persen, dan Maroko 47 persen.

Bagi mayoritas responden, ekonomi dipandang paling mendesak untuk dicarikan solusi, berikutnya korupsi, ketidakstabilan politik-keamanan, dan penyebaran Covid-19. Hanya di dua negara, sektor ekonomi tak dianggap masalah terpenting.

Irak, tempat korupsi masalah utamanya dan Libya yang dilanda konflik, menyebabkan ketidakstabilan politik dan keamanan. Berbanding lurus dengan ketidakpercayaan mayoritas responden pada demokrasi, mereka justru merindukan pemimpin kuat.

Arab Barometer menyebutnya ‘pemimpin yang dapat memodifikasi aturan jika perlu untuk menyelesaikan sesuatu’. Tak jelas apakah pemimpin kuat itu, seperti Presiden Mesir Jenderal (purn) Abdul Fattah Sisi atau Presiden Tunisia Kais Saied.

Yang pasti, delapan dari 10 warga Tunisia setuju dengan pandangan tadi. Bahkan, sembilan dari 10 orang Tunisia mendukung keputusan Saied membubarkan pemerintah dan menangguhkan parlemen pada Juli 2021.

Keputusan yang dikecam lawan politiknya sebagai kudeta, tetapi Saied mengatakan, tindakannya untuk mereformasi rezim politik korup. Sejak revolusi Arab, Tunisia satu-satunya yang mampu membentuk pemerintahan demokratis yang permanen.

Namun, negara berpenduduk sekira 12 juta itu di bawah Saied dinilai banyak pihak mengalami kemunduran demokrasi. Apalagi, ketika dia meluncurkan referendum konstitusi baru, yang dinilai justru memperkuat presiden sekaligus memperlemah demokrasi.

Pada waktu bersamaan, ekonomi Tunisia jatuh dalam krisis. Sebagian besar warga berpandangan perekonomian belum akan membaik dalam beberapa tahun ke depan, hingga kondisi politik-keamanan stabil. Antara lain, dengan munculnya orang kuat di negara mereka.

Menurut Amani Jamal, salah seorang pendiri Arab Baromater dan dekan the Princeton School of Public and International Affairs, sayangnya, Tunisia kembali ke otoritarianisme atau disebut kemunduran demokrasi.

Lepas dari hasil survei Arab Barometer, AS — yang dianggap kampiun demokrasi — menganggap hampir seluruh Arab belum menerapkan demokrasi. Hanya satu yang dianggap demokratis, yaitu Irak.

Ini terlihat misalnya, Irak satu-satunya negara Arab yang diundang Presiden AS Joe Biden berpartisipasi dalam KTT tentang demokrasi pada 9-10 Desember tahun lalu. Demokrasi Irak sejatinya ciptaan Amerika. Prosesnya dimulai pada 2003 ketika AS menginvasi Irak.

Lalu, dibuat konstitusi baru, saat itu, dinyatakan akan mendatangkan demokrasi dan berarti kenyamanan serta kesejahteraan, yang tak bisa dinikmati selama rezim Presiden Saddam Husein. Sayangnya, yang kita saksikan Irak sekarang ini, tak ada ketenangan apalagi kesejahteraan.

Sebelum invasi militer AS, Irak adalah satu. Tak ada pembicaraan tentang Kurdi di Irak Utara, Suni di Tengah, atau Syiah di Selatan. Juga tidak ada penjatahan presiden dari suku mana, ketua parlemen dari sekte apa, perdana menteri berikut menteri dari kelompok mana.

Yang menarik dari 22 negara Arab — berpenduduk lebih dari 400 juta jiwa — justru negara monarki relatif lebih aman dan sejahtera. Delapan negara berbentuk monarki, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, Bahrain, Yordania, dan Maroko.

Mereka dipilih oleh keluarga dalam lingkungan istana. Sedangkan rakyat hanya menerima tanpa bertanya, berbaiat. Namun, suksesi model monarki ini justru mulus. Ekonomi atau kesejahteraan di negara Arab monarki lebih baik daripada negara Arab republik.

Intinya, seperti disitir sejumlah pengamat, demokrasi ala Barat kurang atau bahkan tak cocok. Demokrasi seperti itu justru sering mendatangkan malapetaka. Negara Arab butuh sosok kepemimpinan kuat, yang di negara monarki tampak pada raja, sultan, atau emir. 

Dikutip dari Republika.co.id, Senin 8 Agustus 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tersangka Baru Pembunuhan Brigadir J, Ferdy Sambo?

Next Post

Diduga Menghambat Kasus Brigadir J, IPW Minta Kapolri Evaluasi Satgassus

fusilat

fusilat

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Resmi!!! Kapolri Copot 3 Jenderal, Tumbal Kematian Brigadir J, Siapa Saja???

Diduga Menghambat Kasus Brigadir J, IPW Minta Kapolri Evaluasi Satgassus

Nikita Datangi Mapolresta Serang

Nikita Datangi Mapolresta Serang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist