Oleh: Dr. Eva Sri Diana Chaniago
Rakyat Indonesia cenderung memilih terapi alternatif sebagai solusi kesehatan karena berbagai faktor yang kompleks.
- Pragmatis dan Instant: Rakyat kita condong mencari solusi yang instan, murah, dan cepat untuk kesembuhan. Terapi alternatif sering dianggap sebagai pilihan yang lebih mudah dan cepat, terutama di tengah minimnya pengetahuan tentang kesehatan. Meskipun terapi tersebut mungkin diluar logika, banyak yang mempercayainya.
- Promosi Bebas di Media Resmi: Pengobatan alternatif seringkali dipromosikan secara bebas di media resmi seperti TV, radio, dan online. Masyarakat mengira bahwa iklan tersebut telah melalui sensor atau persetujuan pemerintah, sehingga dianggap aman dan efektif. Namun, kenyataannya promosi tersebut hanya didasarkan pada kemampuan finansial, bukan validitas medis.
- Panic Buying: Saat sakit, seseorang bisa menjadi sangat panik dan cenderung mengabaikan akal sehat. Mereka akan mencoba segala cara tanpa memikirkan rasionalitasnya, terutama jika terpengaruh oleh iklan atau testimoni di media resmi.
- Stigma Negatif Terhadap Dokter: Stigma negatif terhadap profesi dokter membuat sebagian masyarakat enggan berkonsultasi kepada mereka. Dokter sering dianggap sebagai simbol kegagalan sistem kesehatan, bahkan ketika sebagian besar dari mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membantu pasien.
Ini adalah tantangan kompleks yang dihadapi oleh sistem kesehatan di Indonesia. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya bersama antara pemerintah, profesional kesehatan, dan masyarakat. Pendidikan tentang kesehatan yang lebih luas dan terbuka, pengawasan yang ketat terhadap iklan kesehatan, serta pembangunan kepercayaan kembali terhadap profesi medis dapat menjadi langkah awal menuju solusi yang lebih baik. Dan bagi para dokter, perlunya dukungan dan penghargaan dari masyarakat sangatlah penting agar mereka dapat bekerja dengan lebih baik dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu.

























