• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mengapa Harus Naikkan PPN 12%? – Kegagalan Pemerintahan Jokowi

Ali Syarief by Ali Syarief
December 22, 2024
in Feature, Layanan Publik
0
Negara, Pajak, dan Revolusi Mental Jokowi
Share on FacebookShare on Twitter

Pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12%. Langkah ini menimbulkan banyak pertanyaan: Apakah kenaikan ini memang perlu? Ataukah ini hanya cerminan dari kegagalan pengelolaan ekonomi selama dua periode pemerintahan Presiden Jokowi? Jika kinerja pemerintah benar-benar baik, seharusnya kebijakan pajak dapat lebih ringan, seperti yang terjadi di Vietnam dengan PPN hanya 8%.

Kinerja Ekonomi yang Dipertanyakan
Dalam dua periode pemerintahan Jokowi, ekonomi Indonesia tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) cenderung stagnan, bahkan tertekan oleh pandemi Covid-19. Namun, pandemi bukan alasan utama. Masalah fundamental seperti tingginya tingkat korupsi, lemahnya target ekspor, hingga hilangnya penerimaan dari sektor hasil bumi menunjukkan pengelolaan ekonomi yang kurang maksimal.

Korupsi tetap menjadi momok besar. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia cenderung stagnan atau menurun, menggambarkan minimnya keberhasilan dalam reformasi birokrasi. Kasus-kasus besar seperti Jiwasraya dan Asabri memperlihatkan betapa rentannya pengelolaan negara terhadap korupsi struktural. Sementara itu, sektor ekspor gagal mencapai target, terutama di komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan batu bara, yang seharusnya menjadi penopang utama perekonomian.

Defisit Anggaran yang Membengkak
Defisit APBN mencapai sekitar 2,5% hingga 3% dari PDB. Dengan belanja negara yang terus meningkat tanpa diimbangi oleh penerimaan pajak dan non-pajak yang memadai, utang luar negeri menjadi solusi utama. Namun, pinjaman luar negeri hanya menambah beban generasi mendatang, menciptakan lingkaran setan utang yang sulit diatasi.

Kenaikan PPN menjadi langkah instan untuk menutupi defisit ini. Namun, kebijakan ini tidak menyasar akar masalah: ketidakmampuan pemerintah mengelola sumber daya negara. Pada era kolonial, Indonesia dikenal sebagai pusat rempah-rempah dunia. Ironisnya, kini kita menjadi negara pengimpor utama garam, jagung, bahkan beras. Hilangnya kedaulatan pangan ini memperlihatkan betapa lemahnya pengelolaan sektor agraria dan industri dalam negeri.

Belanja Negara yang Tidak Efisien
Anggaran yang besar sering kali tidak digunakan secara efektif. Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru, misalnya, menyedot anggaran hingga ratusan triliun rupiah. Sementara itu, sektor pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Apa Alternatifnya?
Sebuah pemerintahan yang efisien tidak perlu membebani rakyat dengan pajak tinggi. Negara-negara seperti Vietnam berhasil menarik investor melalui insentif pajak rendah, reformasi birokrasi, dan efisiensi anggaran. Dengan PPN hanya 8%, Vietnam mampu menarik perusahaan multinasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih besar. Jika tata kelola ekonomi diperbaiki, kebocoran anggaran diatasi, dan penerimaan dari sektor strategis dimaksimalkan, maka tidak perlu menaikkan PPN hingga 12%.

Kesimpulan
Kenaikan PPN menjadi 12% adalah cerminan dari kegagalan manajemen ekonomi selama era Jokowi. Alih-alih mencari solusi jangka panjang seperti reformasi struktural dan efisiensi belanja negara, pemerintah memilih solusi cepat yang membebani rakyat. Kebijakan ini memperlihatkan kurangnya visi dalam menciptakan ekonomi yang mandiri dan berkeadilan.

Jika kinerja pemerintah selama dua periode ini benar-benar baik, bukannya pajak naik, PPN seharusnya bisa diturunkan—seperti di Vietnam.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mereka Yang Membeli Quota Internet Naik Menjadi 12% – Yang Beli Mobil Listrik Disubsidi Negara

Next Post

Yusril mesti memberikan masukan objektif kepada Presiden secara berkepastian, bermanfaat dan berkeadilan.

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Birokrasi

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Next Post
Yusril : Gugatan AMIN dan Ganjar Terlambat, Kini Gugatan Melawan MK, Bukan KPU

Yusril mesti memberikan masukan objektif kepada Presiden secara berkepastian, bermanfaat dan berkeadilan.

Effendi Simbolon Dipanggil PDIP Soal ‘Prabowo Nakhodai RI’

PDIP Balik Serang Effendi Simbolon: Rekam Jejak Lama Jadi Sorotan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist