Berbagai macam alasan yang cukup rasional, menagapa orang Indonesia suka melakukan pengobatan di Luar Negeri. Jokowi pernah menyampaikan ada sekitar 2 juta WNI dalam setiap tahunnya, melakukan perjalanan luar negeri, untuk urusan pengobatan dan kesehatan. Dihitung-hitung biaya yang dikeluarkan untuk itu, hampir 100 Trilyunan. Ini menggerus devisa negara, bukan?
Tetapi mengapa itu terjadi?
Suatu hari saya ikut rombongan Gubernur Jawa Barat, jaman Pak Danny Setiawan, ke Pulau Penang, Malaysia. Saya diundang turut serta sebagai perwakilan dari Kadin Jawa Barat. Tugas saya menyiapkan bagaimana dunia usaha Jawa Barat dan Penang, bisa berkerjasama usaha. Saya merancang konsep dan MOU-nya.
Disela-sela kunjungan itu, terdengar gumaman, bahwa Pak Gubernur dan Pak Kapolda (ikut dalam rombongan Jawa Barat), berencana untuk melakukan medical check up di Rumah Sakit Penang. Terdengar juga celotehan, bahwa di Penang check-up medis, itu sangat akurat, katanya. Banyak orang Indonesia, memang pergi ke Pulang Penang, untuk keperluan Kesehatan tersebut.
Saat di Aceh, saya bertemu dengan dr, Marzuki, pemilik salah satu Rumah Sakit di Ulele Aceh. Ia mengeluhkan, bahwa usai Tsunami, orang Aceh lebih suka berobat ke Malaysia, katanya. Ada alasan yang ia sampaikan, memang setelah tsumani besar di Aceh, banyak rumah sakit yang hancur. Tapi lebih dari itu, bantuan Kesehatan dari Luar Negeri yang datang ke Aceh karena bencana tsunami, timnya ahli dan sangat professional dengan peralatan yang canggih pula, membuat masyarakat Aceh puas. Lalu berkemapuan bisa menilai “kurang puas” dengan cara penanganan pasukan medis setempat. Belakangan, bahkan yang sering berobat ke Malaysia itu, banyak orang dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sekitarnya.
Singapore adalah salah satu tujuan pengobatan bagi orang Indonesia. Ia terkenal dengan system pelayanan yang professional dan peralatan yang canggih. Dokter tidak bekerja sendiri. Seorang pasien didiagnosa oleh berbagai ahli. Pemberian obat oleh seorang dokter, dikontrol secara ketat dan akurat, hingga harganya, oleh tim khsusus mereka. Ini yang kemudian melahirkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari pasien.
China juga menjadi tujuan khusus untuk pengobatan. Memang di China agak berbeda. Pengobatan ala medis barat, rupanya digabungkan dengan system tradisional buhun leluhur mereka, yang tidak masuk dalam system Medis Barat. Tetapi fakta, banyak disukai masyarakat dunia. Gusdur dan Margaret Thatcher pernah datang ke shinse Tong Ren Tong, dipinggir Tian Amen Square. Toko obat tertua di China.
Pengalaman saya sendiri berobat di Jepang. Pasalnya obat diabet yang dibawa hanya untuk 2 minggu. Padahal saya akan tinggal lebih dari satu bulan. Lalu saya konsultasi di klinik kecil terdekat di daerah Tachikawa, Tokyo. Sebelum diberi obat diabetic, saya diwawancarai secara detail, obat yang pernah saya minum. Jenis obatnya, dosisnya, dll. Pengalaman berharga itu, saya menjadi tahu bagaimana bisa menilai system Kesehatan di Jepang dan membandingkannya di Indonesia.
Satu-satunya, yang ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengapresiasi atas Kesehatan di Indonesia adalah waktu terpapar virus omricon, pada bulan April 22. Saya melakukan antigen sendiri disebuah Kiosk di Depok. Hasilnya positive. Rasa hawatir melakukan pengobatan ke Rumah Sakit, memaksa saya mencari tahu cara pengobatan di internet. Ketemulah Halodoc. Resep dari Halodok, saya kirim ke Kemenkes, melalui aplikasi PeduliLindungi, cq urusan covid 19, esok harinya obat-obat sudah dikirim ke rumah, dan tiap hari saya di pantau oleh dokter dari puskesmas setempat.
System tersebut, membuat teman saya, salah seorang direktur dari organsasi Jepang di Jakarta, iri. Jepang belum secepat dan secanggih Indonesia, saat itu, kata Ms Saito san.
Kembali ke soal orang Indonesia, suka berobat di luar negeri, ini keterangan dari para aktifis medis kita, sebagai berikut :
1. Akses informasinya lebih mudah
Rata-rata situs rumah sakit di luar negeri, terutama Malaysia, Thailand dan Singapura, cukup responsif dalam menanggapi pertanyaan dari calon pasien. Bahkan, beberapa rumah sakit menawarkan paket khusus turis yang ingin berobat, dari segi penginapan hingga transportasi.
Sehingga, orang merasa mendapatkan informasi yang lebih lengkap seputar prosedur maupun biaya pengobatan. Hal inilah yang terkadang luput dari perhatian sebagian besar rumah sakit di Indonesia.
Selain itu, disampaikan oleh dr. Fiona, ada beberapa negara yang sudah fokus pada medical tourism seperti Thailand dan Malaysia, sehingga akses informasi seputar pelayanan kesehatan pun semakin mudah. Indonesia sendiri belum menerapkan sistem ini.
2. Fasilitas lengkap dan teknologi mutakhir
Jika dilihat dari segi fasilitas dan kemajuan teknologi, sebenarnya Indonesia sudah memilikinya. Hanya saja, memang belum semua rumah sakit dapat mengikuti perkembangan teknologi tersebut.
“Hal ini lebih dilihat dari sisi pertumbuhan penduduk. Indonesia sendiri pertumbuhannya cukup tinggi, sehingga memunculkan berdirinya rumah sakit untuk berbagai kalangan kelas ekonomi. Efeknya, belum semua rumah sakit bisa memiliki fasilitas yang optimal,” ucapnya.
Hal ini berbeda dengan jumlah rumah sakit di negara yang menerapkan program medical tourism. Karena jumlah rumah sakitnya sedikit, maka pemerataan dari segi pemenuhan fasilitas dan teknologi pun lebih mudah.
3. Akreditasi internasional
Sebagian besar rumah sakit di negara tujuan berobat telah memiliki akreditasi melalui instansi yang menaungi seputar kualitas pelayanan kesehatan rumah sakit seperti Joint Commission International (JCI), International Organizational Standardization (ISO) 9000. Dengan demikian, label sertifikasi internasional pun pada akhirnya membuat orang lebih percaya dengan kualitas pelayanan yang ditawarkan.
Menurut dr. Fiona, sebenarnya ada beberapa rumah sakit di Indonesia yang telah memiliki sertifikasi tersebut. Namun, memang belum merata dimiliki semua rumah sakit. Selain itu, perihal sertifikasi juga belum terlalu terlihat, sehingga tak banyak orang yang mengetahuinya.
4. Biaya lebih murah
Dari segi biaya, Malaysia termasuk negara dengan biaya pengobatan termurah bagi warga Indonesia dibanding negara lainnya seperti Singapura. Hal ini turut dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi penduduk yang tidak terlalu tinggi dan diikuti pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil.
5. Sekaligus jalan-jalan
Tak bisa dimungkiri bahwa rata-rata warga Indonesia yang menjalani pengobatan di luar negeri biasanya sekaligus traveling atau jalan-jalan. Jadi, orang Indonesia memilih destinasi berobat juga sekaligus ingin menyegarkan pikiran dengan pergi sejenak ke negara lain.




















