• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

MENGAPA PENGUASA TAKUT KEPADA KATA-KATA?

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
December 11, 2025
in Feature, Layanan Publik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, kita tidak boleh alergi—apalagi sampai mengharamkan—kritik. Kritik justru merupakan vitamin bagi perbaikan. Bila pemerintah cerdas mengolahnya, kritik dapat berubah menjadi kebijakan yang lebih matang, lebih bijak, dan mungkin menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi bangsa.

Inilah barangkali salah satu alasan mengapa Presiden Prabowo dan para pembantunya meminta warga untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan, strategi, dan program pembangunan. Presiden membuka ruang itu, dengan harapan publik dapat terlibat aktif dalam proses pembangunan.

Namun kenyataannya berbeda di lapangan. Sekalipun Presiden telah “menghalalkan” kritik demi perbaikan masa depan, masih saja ada pejabat publik yang alergi terhadap kritik. Bagi mereka, kritik dianggap serangan pribadi, bentuk pembangkangan, bahkan ancaman terhadap kewenangan yang sedang mereka genggam. Dalam benak mereka, kritik bukan evaluasi—melainkan permusuhan.

Lebih mengenaskan lagi, sebagian pejabat publik memandang kritik sebagai rongrongan terhadap kekuasaan. Jika kritik menyentuh inti kebijakan atau mempersoalkan program yang tengah mereka garap, kemarahan mudah tersulut. Mereka tersinggung bila disebut ada praktik koncoisme dalam pembagian proyek. Mereka gusar bila publik mengingatkan bahwa kebijakan yang dibuat tidak senafas dengan kebutuhan rakyat.

Padahal, kritik sejatinya adalah proses analisis dan evaluasi dengan tujuan memperluas pemahaman dan memperbaiki keadaan. Tanpa kritik, pembangunan hanya berjalan dalam gelap—dan kita tahu, di ruang gelaplah penyimpangan tumbuh subur.

Presiden telah membuka pintu kritik. Pertanyaannya: apakah masyarakat akan berani melangkah masuk? Respons publik beragam. Ada yang menilai positif, tetapi tidak sedikit yang meragukan ketulusan ajakan itu. Bahkan ada yang khawatir bahwa kritik akan berujung pada tindakan represif aparat.

Kekhawatiran ini sesungguhnya berlebihan. Indonesia adalah negara hukum. Selama kritik disampaikan demi perbaikan, dilandasi data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, aparat pun akan berpikir ulang untuk bertindak ceroboh. Tinggal bagaimana cara kritik itu disampaikan—di sinilah kedewasaan berdemokrasi diuji.

Model penyampaian kritik memang beragam: ada yang radikal, vulgar, emosional, ada pula yang santun dan dialogis. Kritik dapat diwujudkan melalui aksi massa maupun diskusi langsung dengan pihak yang dikritik. Semua bentuk bisa dipilih, sepanjang menghormati aturan main yang telah ditetapkan pemerintah pusat maupun daerah.

Masalah muncul ketika aturan itu diabaikan oleh kedua pihak. Kita sering menyaksikan bentrokan fisik antara aparat dan demonstran—sesuatu yang sejatinya tidak perlu terjadi bila setiap pihak memahami peran dan batasannya. Tidak seharusnya kita masih melihat aparat mengejar-ngejar pengkritik dengan cara brutal, atau demonstran merusak pagar kantor pemerintah. Semua itu jauh dari nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.

Agar ajakan Presiden tidak berhenti sebagai imbauan kosong, perlu dipertimbangkan pembentukan Lembaga Pengolah Kritik Publik (LPKP) yang independen dan bebas dari kepentingan politik. Lembaga ini dapat menjadi kanal resmi pengelolaan kritik, lintas sektor dan lintas kepentingan, sehingga kritik yang masuk dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang objektif dan konstruktif.

Dengan demikian, kritik tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian vital dari ekosistem demokrasi. Karena yang seharusnya ditakuti bukanlah kritik—melainkan kekuasaan yang tuli.

(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Indonesia di Persimpangan Satelit dan Utang: Ketika Bencana Sumatera Jadi Panggung Perang Senyap AS-China

Next Post

Mengerti Dulu – Baru Mengimaninya

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Nyeri Dada Bukan Sekadar Masuk Angin: Mengenali Angin Duduk dan Cara Mencegah Dampaknya
Feature

Nyeri Dada Bukan Sekadar Masuk Angin: Mengenali Angin Duduk dan Cara Mencegah Dampaknya

June 13, 2026
Feature

Ketika Rakyat Hendak Dibenturkan

June 13, 2026
Jika Korupsi Bisa Diselesaikan dalam Waktu Singkat, Mengapa Prabowo Minta Dua Periode? Tanya Fahri Hamzah
Feature

Jika Korupsi Bisa Diselesaikan dalam Waktu Singkat, Mengapa Prabowo Minta Dua Periode? Tanya Fahri Hamzah

June 13, 2026
Next Post
Mengerti Dulu – Baru Mengimaninya

Mengerti Dulu – Baru Mengimaninya

EKONOMI EKSTRAKTIF ADALAH ZERO-SUM GAME

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa
Birokrasi

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

by Karyudi Sutajah Putra
June 13, 2026
0

Jakarta - FuilatNews.--, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dimobilisasi untuk menghadapi aksi demonstrasi mahasiswa di beberapa titik di Jakarta. Sehari sebelumnya,...

Read more
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

June 12, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nyeri Dada Bukan Sekadar Masuk Angin: Mengenali Angin Duduk dan Cara Mencegah Dampaknya

Nyeri Dada Bukan Sekadar Masuk Angin: Mengenali Angin Duduk dan Cara Mencegah Dampaknya

June 13, 2026

Ketika Rakyat Hendak Dibenturkan

June 13, 2026
Gelombang Mahasiswa Melawan Prabowo: Ketika Kesabaran Publik Mulai Habis

Gelombang Mahasiswa Melawan Prabowo: Ketika Kesabaran Publik Mulai Habis

June 13, 2026
Jika Korupsi Bisa Diselesaikan dalam Waktu Singkat, Mengapa Prabowo Minta Dua Periode? Tanya Fahri Hamzah

Jika Korupsi Bisa Diselesaikan dalam Waktu Singkat, Mengapa Prabowo Minta Dua Periode? Tanya Fahri Hamzah

June 13, 2026
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

June 13, 2026
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nyeri Dada Bukan Sekadar Masuk Angin: Mengenali Angin Duduk dan Cara Mencegah Dampaknya

Nyeri Dada Bukan Sekadar Masuk Angin: Mengenali Angin Duduk dan Cara Mencegah Dampaknya

June 13, 2026

Ketika Rakyat Hendak Dibenturkan

June 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...