Sori Daijin (PM) Kishida, dinilai gagal, sepulangnya dari Bali, oleh masyarakat politik di negerinya. Pasal utamanya, karena Putin tidak hadir di KTT G20. Apa hubugan antara absenya Putin di G-20 Nusa Dua, dengan pencitraan Kishidan di dalam negerinya? Ini yang menarik dan pelajaran unik dari potret diplomasi Jepang.
Perang Rusia Ukraine, pada akhir-akhir ini, telah sampai pada ancaman penggunaan senjata nuklir oleh Rusia. Sontak saja seluruh aliasni NATO mengecam isyarat penggunaan senjata nulkir oleh Putin tersebut. Jepang, wabil khusus, karena pesan trauma sejarah Hiroshima dan Nagasaki di Bom Atom Amerika, terpanggil untuk terdepan anti penggunaan senjata nuklir tersebut.
Masyarakat Politik Jepang, berharap dan membayangkan PM Kishida bisa menyuarakan langsung dihadapan Putin, visinya tentang “dunia tanpa senjata nuklir”, sebagai pernyataan sikap Jepang yang menentang rencana Putin itu.
Pertemuan itu diharapkan terjadi, karena kekhawatiran semakin meningkat, bahwa Moskow mungkin akan menggunakan perangkat nuklir taktis untuk serangan terbatas dalam menggempur Ukraine.
Tetapi belakangan memang Putin bersikap kepada Jepang, merenggangkan hubungan dengan Jepang. Putin minilai Jepang berpihak kepada Ukraina. Ia menjadi bagian dari NATO. Lebih dari itu para pengungsi Ukraine di Tokyo, mendapat privilege yang istimewa dari Jepang.
Kesempatan bertemu dengan Putin di KTT G20 itu, adalah cara bagaimana Kishida melihat peluang, untuk berbicara menentang bahaya nuklir di depan Putin, sebagai siasat untuk meningkatkan peran penting kehadiran Jepang dalam gerakan tatanan internasional melawan Rusia.
Menarik mencermati komentar dari seorang rakyat jepang, antara lain mengtakan “Bagaimana seseorang bisa bersinar ketika dia sendiri bahkan tidak cukup tegas dengan kebijakannya di dalam negeri. Ini semua tentang kompromi dan dia memilih rute yang lebih aman”, demikian tulisnya dalam Japan Today.
Catatan lain, bahwa Jepang akan menggelar pertemuan G7 tahun depan di Kota Hiroshima, dimana Kishida berasal dari kota tersebut. Hirshoma adalah monument perlawanan masyarakat Jepang terhadap penggunaan senjata nuklir. Dalam pertemuan bilateral di Kamboja, sebelum bertolak ke Bali, Kishida mendapat dukungan dari Presiden AS Joe Biden untuk mengadakan KTT G-7 di Hiroshima.
Kishida sendiri, pernah menjabat sebagai menteri luar negeri, selama lima tahunan, sebelum duduk menjadi perdana menteri pada Oktober 2021. Ia mewakili kota Hiroshima, Jepang Barat, Provinsi Chogoku, yang hancur-lebur oleh bom atom AS pada Agustus 1945.
Optimisme yang kuat dilingkungan Partai Demokrat Liberal yang kini sedang berkuasa, yang dipimpin oleh Kishida, bahwa pengalaman di bidang kebijakan luar negerinya, akan membantunya dalam upaya menopang pemerintahannya. Terutama saat ini, tingkat kepuasan atas pemerintahan Kishida sedang terpuruk akibat dari anggota kabinetnya, yang banyak terkait dengan skandal Unifikasi Gereja itu.
Selama berada di Indonesia, Kishida menegaskan kembali bahwa Jepang “tidak akan pernah mentolerir ancaman Rusia untuk menggunakan senjata nuklir” terhadap Ukraina, tetapi pernyataannya, kurang mengigit, sehingga hanya menarik sedikit perhatian dari media global utama, semikian dikabarkan oleh sumber pemerintah Jepang.
Pada akhirnya, dengan hantaman rudal tetangga sebelah barat, Ukraina ke Polandia pada saat KTT dimulai, Jepang tidak dapat membangun kesan di tengah keretakan yang meningkat antara Rusia dan Barat, yang berpusat di Amerika Serikat.
Seorang warga Jepang menulis seperti ini; “Jika melihat dari dekat situasi di Jepang, maka dia tidak jauh lebih baik dari mantan PM Suga. Kebijakan Pemerintah tidak banyak berubah sejak dia menggantikan Suga. Sebelum menjadi PM Kashida mengatakan, saya akan melakukan ini, saya akan melakukan itu sebagai PM, tetapi belum melakukan apa pun yang dia katakan. Inilah keajaiban LDP yang menjadikan setiap PM adalah boneka mereka, dan mengendalikan mereka dari balik tirai. Juga hambatan bahasa tampaknya menjadi faktor dalam jenis pertemuan ini ketika itu adalah sekelompok kepala negeri, daripada hanya satu lawan satu! Saya tidak yakin seberapa mahir Kashida dalam bahasa Inggris. Hanya pendapat saya bahwa Taro Kono mungkin bersinar dalam pertemuan seperti ini”.


























