Siasah untuk menjegal Anies Baswedan itu, terbaca oleh banyak pihak, yang saat ini sedang dilakukan melalui berbagai upaya sistemik. Isu Formula E, umpamanya, yang bisa menjadi entry gate Anies Baswedan dibawa keranah hukum, dilakukan oleh KPK. Sebanyak 8 kali gelar perkara kasus Formula E, masih sulit membawa Anies Baswedan dihadapkan kepenyidik KPK. Mentok dialat bukti yang tidak cukup. Pemberhentian sepihak Brigjen Endar Priantono, menjadi kontroversi, karena yang bersangkutan adalah batu sandungan untuk menjeblosan Anies ke Penjara. Ia diberhentikan oleh Firli, padahal justru diperpanjang penugasannya oleh KAPOLRI.
Menjadi berita hangat pula, bahwa kasus Formula E, ada tekanan dari pimpinan KPK untuk meningkatkan statusnya ke tingkat Penyidikan, supaya kemudian bisa meringkus Anies untuk bisa diperiksa. Namun karena kurang cukup bukti, sampai saat ini kasusnya tetap digantung.
Upaya lain adalah, apa yang dilakukan Moeldoko. Meminjam istilah dari Romahurmuziy alias Romy, Moeldoko mencuri PD, sedang dilakukan melalui ranah hukum. Rumor yang beredar ada tukar guling antara sekjen MA yg menjadi tersangka KPK (tetapi tidak ditahan) dan untuk memenangkan perkara PD di MA. Bila Moeldoko kemudian lolos sebagai pemenang, maka Ketum PD adalah dirinya.
Kasus ini diprediksi akan mengancam terjadinya penundaan Pemilu 24, seperti yang disampaikan oleh Dr. Denny Indrayana. Analisa beliau, yang ia sampaikannya dengan sebutan sebagai “surat terbuka kepada ketua umum PDIP Megawati”, memalui podcast-nya, perihal ancaman tertundanya penyelenggaran Pemilu 24 nanti.
Seandainya MA kemudian mengabulkan banding Moeldoko, maka ini artinya Moeldoko adalah Ketua Umum (hasil Munaslub) absah Partai Demokrat. Jadi otomatis Anies Baswedan tidak akan menjadi Capres 24, karena sudah dapat dipastikan secara otomatis PD akan mencabut dukungan pencapresan Anies Baswedan tersebut.
Yang tak habis piker, apa pasal membenci Anies Baswedan? Kalau dia terqobul menjadi Presiden rakyat, apa kemudian Indonesia akan menjadi lebih buruk? Padahal misi dan visinya sunatullah “hari esok menjadi hari yang lebih baik”.
Perubahan!!!
Siapa sich dalang penjegal Anies Baswedan? Sebab mustahil, bagi akal sehat, bila Jokowi tidak suka Anies Baswedan jadi Capres. Anies adalah pernah jadi Tim Sukses Jokowi di periode pertama, bahkan jadi jurkam dan sekaligus jubirnya. Ia juga pernah diangkat jadi Menteri dalam kabinetnya.
Keberhasilan menjadi Gubernur DKI Jakarta, dipilih oleh rakyat secara demokratis dan membuahkan hasil Ibu Kota Jakarta, menjadi kebanggaan kita semua, terutama warganya dan ka;angan inyernasional. Sejatinya prestasi Anies membawa harum Jokowi selaku Presiden RI
Apa sich masalah dengan diri Anies Baswedan? Korupsi? Tidak ada recordnya. Tidak berprestasi? Bertentangan dengan penghargaan prestasi yang ia terima baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Karirnya buruk ditingkat akademik? Ia lulusan universitas terkenal di Luar negeri. Menjadi rector di kampusnya. Turunan PKI? Bahkan kakeknya adalah ditetapkan sebagai Pahlawan nasional oleh negara. Orang tua serta keluarganya, tercatat sebagai penyandang intelektual karena gelar kesarjanaanya tinggi dan tidak palsu.
Su’udzon apa yang ada hati mereka itu? Kotor sekali kata-kata yang disemburkan oleh para pembecinya kepada dia yang tak bersalah. Jahat sekali langkah yang dilakukan, hingga dicari-cari pasal untuk menjebloskan ke penjara, orang yang tak bersalah.
Selama jadi gubernur DKI, Anies di ganggu oleh para buzzer Rp. Warganya tetap solid mendukung Anies yang pembangunanya dirasakan langsung oleh warganya.
Seandainya tidak meyakini adanya “hukumullah”, setidak-tidaknya mungkin masih percaya adanya “karma”. Ia adalah reaksi dari aksi yang kita lakukan. Ketika sebuah pohon itu kita pelihara dengan baik, di pupuk, di siram, pada saatnya nanti dipastikan akan memberi buah yang baik pula.
Hukum sebab akibat itu ada. Jadi ingatlah, ini warning pesan Tuhan. Jangan menghianati orang yang ingin membangun Indonesia yang lebih baik. Kita ingin melakukan perubahan yang lebih besar.























