Tulisan ini persembahkan kepada Senior Saya Kang Herman Budi Santoso – wartawan senior saya, yang perhatiannya kepada dunia Journalisme, masih tetap menyala
NHK, VOA, BBC, dan DW memang masih kuat sebagai refleksi kebijakan dan nilai-nilai negara asal mereka. Media-media ini memiliki peran penting dalam diplomasi publik dan penyebaran informasi global yang mencerminkan perspektif nasional mereka.
Keberlanjutan eksistensi mereka sebagai media yang dihormati dan diandalkan, sebagian besar karena mereka tetap mempertahankan standar jurnalistik yang tinggi, independensi editorial, serta didukung oleh pendanaan yang stabil dan jelas dari negara. Media ini juga telah mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan selera audiens global, memperluas jangkauan mereka melalui platform digital dan sosial media.
Sementara itu, TVRI dan RRI menghadapi tantangan yang berbeda. Ketergantungan pada anggaran negara yang sering kali tidak memadai, kurangnya inovasi, dan keterbatasan dalam mengembangkan konten yang menarik membuat mereka kalah bersaing dengan media swasta. Faktor lain yang menyebabkan tenggelamnya TVRI dan RRI adalah kesan birokratis dan kecenderungan untuk lebih banyak berfungsi sebagai corong pemerintah daripada media independen. Ini kontras dengan media publik seperti BBC atau NHK, yang meskipun didanai oleh negara, tetap menjaga jarak editorial dari pemerintah.
Kehadiran media swasta yang menawarkan lebih banyak variasi konten, hiburan, dan kecepatan dalam menyampaikan berita juga membuat masyarakat lebih memilih mereka. TVRI dan RRI, yang tidak cukup tanggap terhadap perubahan tren dan selera masyarakat, tertinggal dan kehilangan relevansi.
Untuk bisa bangkit kembali, TVRI dan RRI perlu melakukan reformasi menyeluruh, termasuk memperbaiki manajemen, meningkatkan kualitas konten, serta membangun kembali kepercayaan publik melalui jurnalisme yang bebas dan berintegritas. Adopsi teknologi baru dan strategi digital juga penting agar mereka dapat tetap relevan di era media modern.
























