• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mengelola Demonstrasi: Belajar dari Singapura dan Inggris

Ali Syarief by Ali Syarief
August 31, 2025
in Feature, Layanan Publik
0
Mengelola Demonstrasi: Belajar dari Singapura dan Inggris
Share on FacebookShare on Twitter

Pikiran ini pernah saya sampaikan langsung kepada Jenderal Timur Pradopo, saat itu menjabat sebagai Kapolri. Namun sayangnya, tak ada tanggapan berarti. Padahal, pengelolaan demonstrasi adalah salah satu persoalan mendasar dalam menjaga hubungan negara dengan rakyatnya.

Demonstrasi adalah napas demokrasi. Ia menjadi saluran suara rakyat ketika institusi formal gagal menjawab keresahan mereka. Namun, demonstrasi juga bisa berubah menjadi bara yang mengancam stabilitas bila tak dikelola dengan bijak. Di sinilah negara diuji: apakah memilih represi, atau justru mengarahkan energi rakyat agar tetap berada dalam koridor hukum.

Dua negara—Singapura dan Inggris—menawarkan dua model pengelolaan demonstrasi yang kontras namun sama-sama menarik dijadikan cermin.

Singapura: Kebebasan yang Dikurung Demi Stabilitas

Singapura membuka ruang untuk warganya menyampaikan pendapat melalui Speaker’s Corner di Hong Lim Park. Di tempat inilah warga negara atau penduduk tetap Singapura dapat berorasi, menyampaikan protes, atau berdiskusi mengenai isu sosial dan politik. Namun, kebebasan ini bersifat terkurung:

  • Warga asing dilarang ikut serta.

  • Aksi di luar area tersebut hampir mustahil dilakukan tanpa izin.

  • Aparat tetap hadir sebagai pengawas.

Jika orasi mengandung fitnah, ujaran kebencian, atau melanggar undang-undang, pelaku bisa langsung ditangkap. Model ini menegaskan prinsip Singapura: stabilitas lebih penting daripada kebebasan tanpa batas. Bagi pemerintah, harmoni sosial adalah fondasi utama yang tak boleh diganggu gugat, sekalipun dengan dalih demokrasi.

Inggris: Kebebasan yang Dirawat sebagai Tradisi

Di sisi lain, Inggris justru melestarikan Hyde Park Speakers’ Corner sebagai simbol demokrasi liberal. Siapa pun—baik warga lokal maupun turis asing—boleh berbicara di sana, dari isu politik hingga agama. Polisi hanya turun tangan bila terjadi tindak kriminal nyata, seperti kekerasan atau ujaran kebencian ekstrem.

Model Inggris menunjukkan bahwa kebebasan berpendapat tidak sekadar dimaknai secara legalistik, melainkan sebagai tradisi kebangsaan yang melekat dalam kultur politik. Hyde Park bukan sekadar ruang fisik, melainkan juga simbol bahwa negara kuat tak perlu takut pada suara rakyat, bahkan yang paling kritis sekalipun.

Benchmark untuk Indonesia

Indonesia sering berada di persimpangan antara dua kutub ini. Di satu sisi, demonstrasi di Indonesia relatif bebas—dari jalan raya hingga depan istana negara. Namun, kebebasan itu sering berujung pada kekerasan, represif aparat, atau manipulasi isu oleh elite politik. Akibatnya, makna demonstrasi sering kabur: apakah benar suara rakyat, atau sekadar alat tekanan politik.

Dari Singapura, Indonesia bisa belajar soal penataan ruang dan aturan yang jelas. Demonstrasi sebaiknya diarahkan ke zona tertentu dengan infrastruktur memadai, sehingga tidak selalu menutup jalan raya dan mengganggu aktivitas publik. Namun, dari Inggris, Indonesia perlu mengambil semangat bahwa negara yang percaya diri tidak takut pada kritik. Memberi ruang bebas untuk suara rakyat justru memperkuat legitimasi negara, bukan melemahkannya.

Singapura memberi kita pelajaran tentang disiplin dan ketertiban, Inggris memberi teladan tentang kebebasan yang matang. Indonesia membutuhkan kombinasi keduanya: kebebasan berekspresi yang diakui sebagai hak konstitusional, tetapi dengan tata kelola yang mencegah kekacauan.

Pada akhirnya, demonstrasi seharusnya dilihat bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai dialog terbuka antara rakyat dan negara. Negara yang besar bukanlah yang berhasil membungkam warganya, melainkan yang berani mendengarkan mereka—meski dengan suara yang paling lantang sekalipun.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jokowi, Gibran, Kaesang: Dari Legitimasi Palsu ke Ancaman Massa

Next Post

AMOK: KEKERASAN SOSIAL DARI FRUSTRASI KOLEKTIF

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?
Feature

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua
Feature

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan
Birokrasi

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Next Post

AMOK: KEKERASAN SOSIAL DARI FRUSTRASI KOLEKTIF

Demonstrasi Jakarta dan Bayangan Gelap atas Investasi Asing di Indonesia

Antara Suara dan Amarah: Membaca Demonstran dan Penjarah dalam Perspektif Sosial

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...