Oleh: Khairul Mahalli
Ketua LKN Asta Cita Rempah Nusantara
Indonesia, negeri kepulauan yang kaya akan budaya, agama, dan keindahan alam, sejak lama dikenal dunia sebagai tanah kelahiran rempah-rempah terbaik. Sejarah mencatat bagaimana bangsa-bangsa besar rela menempuh samudra demi mencapainya. Jepang dan Belanda datang bukan karena ingin berwisata tropis, tetapi untuk merebut satu harta berharga: rempah Nusantara.
Rempah-rempah menjadi nadi ekonomi dunia di masa lampau. Nilainya begitu tinggi hingga mampu membiayai armada perang negara-negara penjajah. Cengkeh, pala, kayu manis, dan lada tak sekadar bumbu dapur; ia simbol kekuasaan dan kemakmuran. Di Eropa hingga Amerika, harga rempah kala itu setara dengan emas. Di tanah air sendiri, rempah telah lama menjadi sumber penghidupan sekaligus warisan pengetahuan, dari dapur hingga pengobatan herbal yang terus lestari.
Dari Spices Island ke Bayang-Bayang Negara Lain
Selama berabad-abad, Nusantara dikenal sebagai The Spices Islands of the World. Rempah menjadi komoditas unggulan ekspor, bahan baku industri jamu, kosmetika, pangan, dan minuman. Namun, sejak awal abad ke-19, pamor itu perlahan meredup. Negara-negara produsen baru seperti Vietnam, Brasil, Sri Lanka, dan Madagaskar muncul dengan strategi budidaya dan pengelolaan yang lebih modern. Mereka tidak lagi mengekspor bahan mentah, melainkan produk setengah jadi dan barang jadi dengan merek yang kuat.
Sementara itu, Indonesia masih berkutat pada pengiriman produk primer tanpa nilai tambah berarti. Padahal, potensi pasar rempah dunia tidak pernah surut. Data UNCOMTRADE menunjukkan, rempah seperti lada, kayu manis, pala, cengkeh, dan vanila masih menjadi komoditas utama ekspor Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan tertinggi justru datang dari cengkeh, vanila, dan pala. Namun daya saing Indonesia, diukur dari Revealed Comparative Trade Advantage (RCTA), masih tertinggal dibandingkan Madagaskar dan Vietnam.
Di pasar global, posisi ekspor rempah Indonesia justru melambat. Negara pesaing seperti Madagaskar berhasil menjadi rising star, sementara Indonesia masuk kategori lost opportunity. Ini sinyal serius: potensi besar tak berarti apa-apa jika tak diiringi inovasi dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Peluang di Tengah Tantangan Global
China kini menjadi mitra dagang utama Indonesia, disusul India dan Jepang. Namun ekspor kita masih didominasi oleh migas, hasil tambang, dan produk hutan. Sektor pertanian, termasuk rempah, belum mendapat porsi perhatian sepadan. Padahal, kontribusi rempah terhadap ekonomi nasional dapat menjadi salah satu pilar green economy yang berkelanjutan dan berorientasi ekspor.
Tantangan terbesar dunia usaha adalah bagaimana mengubah paradigma rempah dari sekadar komoditas menjadi nilai budaya, ekonomi, dan diplomasi. Harmonisasi regulasi, akses permodalan, serta industrialisasi berbasis riset menjadi kunci. Rempah Indonesia tak boleh berhenti sebagai bahan mentah ekspor, melainkan harus naik kelas menjadi produk olahan bernilai tinggi—minyak atsiri, ekstrak, hingga produk kesehatan dan kecantikan alami.
Jalan Menuju “Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”
LKN Asta Cita Rempah Nusantara berkeyakinan bahwa kebangkitan rempah bukan nostalgia, melainkan visi masa depan. Ada tiga langkah utama untuk membangun kembali kejayaan itu:
- Menjadikan rempah sebagai nilai, bukan sekadar komoditas.
Ini berarti mengangkat rempah ke dalam rantai nilai global sebagai simbol kualitas, keberlanjutan, dan keunikan Nusantara. - Menguatkan hilirisasi.
Dari bumbu makanan dan minuman, hingga bahan baku industri farmasi, kosmetik, dan pewarna alami, rempah Indonesia harus diolah menjadi produk jadi beridentitas nasional. - Mendorong ekspor berbasis produk olahan.
Peluang bisnis rempah lokal perlu dibuka luas agar pelaku usaha kecil, koperasi, dan petani mendapat posisi yang adil dalam rantai distribusi global.
Membangkitkan kembali kejayaan rempah adalah upaya memulihkan martabat ekonomi bangsa. Rempah bukan sekadar aroma masa lalu, melainkan jembatan menuju masa depan: masa ketika Indonesia bukan hanya dikenal sebagai “negara penghasil rempah,” tetapi juga sebagai pusat inovasi dan pengelolaan rempah dunia.
Sudah waktunya Nusantara kembali harum—bukan hanya di dapur dunia, tetapi juga di panggung ekonomi global.

Oleh: Khairul Mahalli
























