Pada tahun 1995, dunia di hebohkan oleh seorang yang bernama Aum Shinrikyo, karena nekad melakukan serangan beracun sarin, yang mematikan banyak orang, pada Kereta Bawah Tanah, Subway, di Tokyo.
Kali ini, Jepang juga dihebohkan oleh kelompok “Gereja Unifikasi, yang menjadi pemberi dana kepada sejumlah politikus, untuk kepentingan kampanyenya. Sehingga memaksa PM Kishida untuk memberhentikan sejumlah Menteri-menterinya yang diketahui mendapat aliran dana.
Tetapi Kishida juga pro aktif untuk melawan keberedaan “Gereja Unifikasi” itu, dengan memulai mengadakan penyelidikan resmi oleh negara. Dilaporkan bahwa kini Jepang telah meluncurkan penyelidikan terhadap Gereja Unifikasi, yang berpotensi mengancam posisi kelompok itu.
Walau demikian, banyak yang meragukan efektifitasnya. Melihat pengalaman, sekalipun aliran Aum Shinrikyo telah dibekukan, tetapi anggotanya masih tetap aktif dalam berbagai bentuknya.
Apa itu aliran Gereja Unifikasi?
Secara resmi disebut Federasi Keluarga untuk Perdamaian dan Unifikasi Dunia. Organisasi ini lebih populer sebagai Gereja Unifikasi. Awalnya didirikan di Korea Selatan pada tahun 1954 oleh Sun Myung Moon, seorang anti-komunis dan menyatakan diri sebagai mesias.
Jepang adalah salah satu target pertama dalam penyebaran perluasan internasionalnya. Dan diketahui bahwa Jepang adalah jemaat terbesar keempat dengan sekitar 600.000 pengikut dari 10 juta gereja secara global. Walau diyakini yang aktif hanya 100.000 anggota saja. Banyak yang keluar dari persekutuan itu. Tetapi Gereja mengatakan Jepang adalah sumber pendapatan yang terbesarnya.
Bagaimana sikap masyakarat Jepang, atas keberadaan Gereja Unifikasi itu?
Banyak orang Jepang melihat gereja sebagai kultus. Melakukan pernikahan massal. Permintaan sumbangan yang tak lazim. Meskipun gereja mengatakan tidak lagi melakukan apa yang diakuinya sebagai praktik berlebihan di masa lalu, termasuk penjualan door to door yang agresif.
Di Jepang, menjadi mode, apapun status agamanya, mereka suka menikah di Gereja.
Tersangka, Tetsuya Yamagami, pembunuhan mantan Perdana Menteri Shinzo Abe pada Juli mengatakan gereja membujuk ibunya untuk mendonasikan 100 juta yen. Sebuah kelompok pengacara di Jepang mengatakan gereja telah mengumpulkan hampir $1 miliar dari para pengikutnya sejak tahun 1987, dan menghasilkan sekitar 35.000 klaim kompensasi.
Tersangka menyalahkan gereja atas kehancuran finansial keluarganya, dan menyalahkan Abe karena mempromosikan gereja. Pembunuhan Abe mengungkapkan kepada publik ikatan yang telah dibentuk gereja dengan politisi, karena bertujuan untuk meningkatkan reputasinya dan menarik pengikut.
Tetapi disangkal Partai Liberal Demokrat ada hubungan organisasi dengan gereja. Sejak kasus penembakan Abe, melarang anggotanya mempertahankan ikatan dengan gereja tersebut.
Perdana Menteri Fumio Kishida membersihkan menteri yang memiliki hubungan dengan gereja dari kabinetnya pada bulan Agustus, sementara menteri lain yang kemudian mengungkapkan hubungan tersebut mengundurkan diri pada akhir Oktober.
Apa rekasi Gereja atas penyeilidikan negara itu?
Gereja Unifikasi telah mengadakan beberapa konferensi pers untuk menjelaskan posisinya. Pada awal Oktober, gereja mengatakan akan mengadopsi reformasi. Termasuk mencatat total donasi apa pun yang melebihi 30% dari pendapatan bulanan pengikutnya. Dan harus mendapat persetujuan dari seluruh anggota keluarga.
Pada tanggal 20 Oktober, pejabat senior gereja Hideyuki Teshigawara mengatakan dalam pengarahannya bahwa kelompok tersebut akan “menangani dengan tulus” setiap penyelidikan pemerintah, dan menunjukkan video berdurasi tujuh menit dari seorang anggota gereja yang menyangkal klaim mantan suaminya, bahwa gereja bertanggung jawab atas kematian keluarga tersebut.
Bagaimana nasib gerja?
Semua akan bergantung pada hasil temuan penyelidikan. Gereja bisa kehilangan status hukumnya sebagai organisasi keagamaan, dan keuntungan pajaknya. Pemerintah pertama-tama akan mengajukan permintaan ke pengadilan, sementara keputusan akhir kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan dan dapat diajukan banding hingga ke Mahkamah Agung.
Shiori Kanno, seorang pengacara di panel Badan Urusan Konsumen yang menyelidiki praktik penjualan gereja, mengatakan pencabutan statusnya sebagai organisasi keagamaan tidak akan membatasi gereja untuk melanjutkan kegiatannya atau anggotanya untuk mengadakan berbagai pertemuan dan aktifitas lainnya.


























