Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
Jokowi hempaskan Prabowo Subianto, setelah ia timang timang dan nina bobokan. Kata Jokowi, “Saya sudah 2 Kali Menang, sekarang (2024) giliran Pak Prabowo”. Selain keakraban ditunjukan diantara mereka, sampai-sampai tahun lalu di 2022. Pada hari raya ied pertama 1443, Prabowo langsung datang ke Jogja tanpa hiraukan larangan Prokes Covid 19, Ia mengunjungi Jokowi, lalu makan bersama, disuguhi opor ayam, bakso dan tahu bacem.
Dicatatab publik, satu-satunya menteri yang paling rajin menyanjung Jokowi setinggi langit adalah Prabowo. Bahkan Prabowo sampai angkat kesaksian (bersumpah), “Jokowi dalam melaksanakan tugasnya sudah right on the track “. Kemudian Ia mengakui, tingkat kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotients (IQ), lebih tinggi dari dirinya. Ini artinya jika disimpulkan terkait IQ, menurut Prabowo, “Jokowi sebagai sosok visioner atau memiliki kemampuan tinggi dalam gagasan, atau merencanakan sesuatu”.
Kenyataannya? ” rayuan pulau kelapa “. Dari Prabowo, tidak cukup untuk Jokowi dapat mengantarkan dirinya ke KPU. Pada tahun ini, bulan Oktober 2023 atau sampai berlangsung Pemilu Pilpres 2024.
Jokowi menghadiri dan menyatakan sebagai anggota dan selaku petugas partai akan memberikan dukungan terhadap keputusan PDIP. Di Batu Tulis, pada 22 April 2023 yang diumumkan langsung oleh Megawati selaku Ketum PDIP, yang isinya menobatkan Ganjar Pranowo Bakal Capres 2024.
Banyak publik kaget, atas keputusan Jokowi yang mengalihkan dukungan dari Prabowo ke Ganjar. Tapi itulah realita dari dinamika politik yang ada dan berlangsung.
Atas realita dukungan Jokowi terhadap Ganjar, sampai saat ini Para Ketua Umum, Koalisi Partai-Partai (Gerindra, PKB, PAN, dan PPP). Termasuk Prabowo sendiri, tidak kedengaran protes, atau setidaknya menyampaikan rasa kecewa pada diskursus polotik yang ditampilkan Jokowi. Padahal Zulhas selaku Ketum PAN pernah menyatakan Koalisi Besar Partai-Partai pendukung Capres Prabowo di 2024 dikendalikan langsung oleh Jokowi.
Justru selain tidak menyampaikan statemen (politik) apapun, nyatanya malah PPP, nota bene adaa;ah salah satu partai pengusung Prabowo, justru sibuk memberikan dukungan kepada Ganjar. Tidak menguatkan barisan Koalisi Partai Partai (Koalisi Gemuk) untuk terus memberi dukungan bakal Capres kepada Prabowo.
Apakah mereka pasrah, atau takut jika mereka sampaikan protes, utamanya Prabowo, Airlangga Hartarto, dan Zulkifli Hassan, akan dipecat oleh Jokowi dari kabinet Indonesia Maju? atau mereka menyadari keterpaksaan Jokowi beralih dukungannya kepada Ganjar oleh sebab harus tunduk dan patuh semua keputusan partai selaku Petugas Partai!. Atau apakah ada persoalan hukum yang cukup mendasar, sebagai bahan pertimbangan ketiga orang menteri tersebut, termasuk Muhaimin yang bukan menteri? Pastinya publik sulit memprediksi secara tepat tentang alasan apa dan mengapanya.
Atau bisa jadi dukungan tersebut tetap diberikan oleh Koalisi Besar/koalisi gemuk kepada pencapresan Prabowo, namun of the record atau tidak dibeberkan secara terbuka, salah satunya bisa jadi langkah kunjungan Airlangga kepada SBY. Pada Hari Sabtu, 29 April 2023, subtantif politiknya menggaet Partai Demokrat, serta menawarkan AHY, menjadi pasangan Cawapres dari Prabowo. Implikasi politiknya mutatis mutandis menghancurkan Anies Baswedan, dari bakal kontestan Capres tekuat di 2024, yang ditakuti rezim saat ini.
Jika Nasdem dan PKS kehilangan Partai Demokrat, maka persyaratan 20% (presidential threshold) sebagai ambang batas partai politik untuk dapat mencalonkan pasangan Presiden dan Wakil presiden pada pemilu pilpres 2024 tidak terpenuhi.

























