Di zaman ketika kebenaran bisa dibeli dengan algoritma dan disebar lewat buzzer, akal sehat menjadi barang langka. Orang lebih cepat percaya pada potongan video daripada makna utuh sebuah peristiwa. Di tengah banjir informasi, keyakinan sering kali lebih kuat daripada nalar. Kita hidup di masa ketika dogma baru muncul bukan dari mimbar agama, tapi dari layar gawai—dari keyakinan bahwa apa yang kita lihat di dunia maya adalah satu-satunya kebenaran.
Padahal, setiap zaman selalu melahirkan dua cara membaca dunia. Yang pertama adalah tafsir, yang membuka ruang dialog dan pencarian. Yang kedua adalah dogma, yang menutup pintu dengan keyakinan bahwa makna telah selesai. Keduanya sama-sama lahir dari kebutuhan manusia untuk memahami kebenaran. Bedanya, tafsir hidup dari pertanyaan, sementara dogma hidup dari kepastian.
Hermeneutika, seni menafsir yang dirumuskan para filsuf seperti Hans-Georg Gadamer, percaya bahwa setiap teks, ajaran, atau tradisi harus terus dibaca ulang agar tetap bermakna bagi generasi baru. Ia tidak menolak kebenaran, tetapi menolak untuk membekukannya. Dalam pandangan hermeneutik, membaca bukanlah menyalin makna, melainkan menyalakan percakapan antara masa lalu dan masa kini.
Contohnya bisa kita lihat dalam penafsiran agama, sejarah, bahkan sastra. Ketika teks lama dibaca dengan semangat zaman baru, sering muncul penolakan: “Itu menyeleweng dari makna asli.” Padahal, seperti diingatkan Gadamer, makna asli tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu hidup dalam konteks pembaca. Kita tidak hidup di masa penulis; kita hidup di masa kini, dengan pengalaman dan persoalan berbeda.
Lihat bagaimana tafsir gender dalam teks keagamaan berkembang. Dulu, peran perempuan sering dipahami terbatas pada wilayah domestik. Namun hermeneutika feminis membaca ulang teks dan menemukan makna yang lebih luas: perempuan bukan pelengkap, melainkan mitra dalam kemanusiaan. Bukan mengubah ayat, tetapi menghidupkan kembali maknanya dalam cahaya zaman baru. Di situ, tafsir bekerja bukan sebagai pemberontakan terhadap teks, melainkan sebagai upaya menjaga agar pesan kemanusiaan tetap hidup.
Sebaliknya, dogma sering lahir dari ketakutan akan perubahan. Dogma berkata: “Begitulah adanya, dan tidak boleh dipersoalkan.” Dalam dogma ada kepastian, tapi dalam jangka panjang ia bisa membuat akal kehilangan daya gerak. Bahaya terbesar dari dogma bukan pada kesalahannya, melainkan pada keengganannya untuk ditafsir ulang. Ketika tafsir berhenti, nalar pun beku.
Namun tafsir juga bukan tanpa bahaya. Terlalu bebas menafsir bisa membuat makna kehilangan arah. Karena itu hermeneutika mengajarkan keseimbangan: membaca dengan hati terbuka, tetapi tetap hormat pada sumbernya. Kebebasan tanpa akar bisa menjadikan tafsir liar, sedangkan dogma tanpa dialog menjadikan akal kaku. Keduanya perlu saling mengingatkan. Tafsir memberi napas baru pada tradisi, dogma menjaga agar tradisi tidak larut dalam relativisme.
Kebenaran, dalam pandangan hermeneutik, bukan benda mati, melainkan cahaya yang berpindah dari satu wajah ke wajah lain. Tugas kita bukan memadamkan cahayanya, tapi menjaganya tetap menyala—dengan pemahaman yang jernih dan rendah hati.
Menyalakan akal sehat, dalam konteks ini, berarti menolak hidup dalam kegelapan kepastian. Ia adalah keberanian untuk terus bertanya tanpa kehilangan hormat pada yang diyakini. Di tengah dunia yang semakin bising oleh klaim kebenaran tunggal, mungkin inilah tugas intelektual paling sederhana sekaligus paling berat: menjaga agar api nalar tidak padam oleh angin fanatisme.
Karena pada akhirnya, bukan kebenaran yang membutakan manusia, melainkan keyakinan bahwa dirinya telah memegangnya sepenuhnya.

























