“Tampil dipanggung debat seperti Cawapres , Gibran Rakabuming Raka, Prof Mahfud MD dan Dr (Hc) Muhammad Muhamin Iskandar, usai debat akan ada yang berujung turun tanpa kehormatan”.
Debat yang paling dinanti-nantikan oleh kita semua, adalah debat antar Cawapres Piplres 24. Bintangnya tertuju kepada sosok Gibran Rakabuming Raka. Ia sosok yang jarang bicara. Jawaban-jawabannya selalu tersingkat. Telah terbangun rasa kepenasaranan yang termat tinggi dari audience, akan terjadi debat seperti apa!.
Tim Kampanye Nasional (TKN) mengatakan latar belakang Gibran Rakabuming Raka selaku Wali Kota Surakarta cukup untuk menghadapi debat presiden putaran kedua, Jumat (22/12).
“Beliau ‘kan sudah punya modal karena beliau sudah pernah jadi Wali Kota Surakarta, dan pernah juga melakukan debat juga. Semua sudah dipersiapkan,” kata Wakil Komandan Golf TKN Lisman Hasibuan saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Menurut Lisman, Gibran layak membahas tema tentang ekonomi kerakyatan lantaran kerap menerapkan prinsip tersebut selama menjabat sebagai orang nomor satu di Surakarta.
Persoalan infrastruktur juga dinilai sangat dikuasai Gibran karena berpengalaman melakukan pembangunan di Surakarta.
Selain itu, latar belakang Gibran yang juga pernah sebagai pengusaha mendukung untuk membahas ekonomi digital.
Berdebat dengan sukses melibatkan kombinasi keterampilan berbicara, pengetahuan, kejelian analisis, dan kemampuan mendengarkan. Berikut adalah beberapa kunci sukses berdebat:
Sepabnggung dengan Ketum PKB, dengan sederet pengalaman dan Mahfud MD, menkolpolhukam – pakar dalam hukum tata Negara, Gibran perlu Pengetahuan yang cukup dan mendalam. Ia harus memahai topik debat dengan baik. Melakukan riset menyeluruh dan mengenali argumen-argumen yang mendukung atau menentang pandangan. Menguasai data dan fakta yang relevan untuk memperkuat argumen
Nah ini penting. Kemampuan Berbicara yang Efektif. Berbicara dengan jelas, tegas, dan meyakinkan. Termasuk mengatur nada suara yang sesuai, menghindari kebisingan verbal, dan gunakan bahasa tubuh yang mendukung pesan.
Pengalaman dan pengathuan akan membangun kebiasaan yang cepat, yaitu Kemampuan menganalisis yang tajam: Mampu menganalisis argumen lawan dengan kritis dan merinci kelemahan-kelemahan logisnya. Sediakan bukti dan contoh konkret untuk mendukung argumen.
Skill lain adalah Kemampuan Merumuskan Argumen: kemampuabn berargumen yang kuat dan jelas. Kemampuan menyusun argumen secara terstruktur, dengan premis-premis yang mendukung kesimpulan.
Persoalan ini juga tidak mudah, yaitu Mendengarkan dengan Aktif: Mendengarkan argumen lawan dengan seksama dan terbuka. Kemampuan menanggapi argumen lawan secara langsung dan hindari mengabaikannya.
Bagaimana Etika Debater yang Baik? Pertahankan etika debat yang baik, hindari serangan pribadi, dan fokuslah pada argumen dan fakta. Hormati waktu lawan untuk berbicara dan hindari interupsi yang tidak perlu.
Bersikap fleksibel dan terbuka terhadap perubahan pendapat jika diberikan bukti yang meyakinkan. Siap untuk menyesuaikan strategi debat berdasarkan respons lawan.
Penampilan yang Percaya Diri: Pertahankan sikap tubuh yang percaya diri dan bersikap tenang, bahkan dalam situasi debat yang sengit. Gunakan kontak mata dengan penonton dan lawan debat.
Jangan seperti Prabowo – usai debat dihujadi kritik yang meluas. Mengapa? Karena Kontrol Emosi yang lemah. Mengindari terlibat dalam konflik pribadi atau menjadi terlalu emosional selama debat. Mempertahankan ketenangan dan fokus pada substansi argumen.
Dengan menggabungkan keterampilan-keterampilan ini, debater dapat meningkatkan kemampuan berdebat dan menjadi seorang pemimpin yang lebih sukses.
Mampukah Gibran?


























