Damai Hari Lubis-Pengamat Hukum dan Politik, Mujahid 212
Calon wakil presiden pilihan Anies, Muhaimin Iskandar, tampaknya mengalami penurunan dukungan setelah mengalahkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dukungan terhadap Muhaimin terkesan luntur.
Dalam kesempatan terbaru, Muhaimin atau Cak Imin bercanda, “Saya ingin dipanggil Ketum,” sambil tertawa, yang oleh publik dianggap sebagai sindiran terhadap Anies Baswedan.
Kesimpulannya, menemukan tokoh bangsa yang benar-benar jujur dan menjadi panutan tampaknya semakin sulit. Bahkan, situasinya terkadang melucukan dan mengejutkan. Airlangga Hartarto dan Zulkifli Hasan, yang beberapa kali dipanggil oleh lembaga penegak hukum, tetap aman dalam posisinya sebagai menteri.
Muhaimin, yang sempat menghadapi tuduhan penyimpangan, juga tetap aman walau pernah bersaing ketat dengan Gibran Rakabuming di bursa Cawapres 2024. Di sisi lain, sosok Anies Baswedan yang dikenal inovatif, jujur, dan berprestasi, ternyata mengecewakan banyak pendukung yang mendambakan perubahan nyata. Anies terlihat:
- Meski memiliki banyak kelebihan, Anies bukanlah sosok yang proaktif dan progresif. Ia lebih merupakan sosok yang aktif secara normatif dan kurang memiliki naluri perlawanan radikal menuju perubahan seperti yang diharapkan.
Pendekatannya cenderung normatif, yaitu melawan melalui jalur hukum dan lembaga yudikatif, yang sayangnya masih dipengaruhi oleh kepentingan rezim. Ibaratnya, Anies seperti mencoba melawan barisan lawan bersenjata lengkap hanya dengan intifada setetes air jernih dan sikap sopan.
Orang-orang di sekitar Anies pun tampaknya banyak yang hampir identik dengan rezim yang sebenarnya ingin ia reformasi, berbeda hanya sehalus kulit ari.
Andai Anies berhasil menang dengan pendekatan normatifnya, kondisinya akan tetap rapuh karena tim kepercayaannya sebagian besar memiliki keterkaitan masa lalu dengan rezim yang dikalahkan. Bayangkan jika para koruptor berkongsi dan memanfaatkan catatan hitam mereka untuk menekan Anies dan kabinetnya.
Mungkin yang Maha Kuasa memberikan kesempatan kepada para aktivis untuk mengalami kerasnya dunia nyata agar lebih waspada dan tidak terjerumus ke dalam situasi yang lebih kelam.
Pesan penulis: Diskursus politik dan hukum pada era rezim sebelumnya masih berpengaruh kuat. Tim hukum Anies perlu bersiap dan mengasah ilmu di bidang hukum Tipikor. Dibutuhkan keberanian dan kualitas, bukan sekadar banyaknya jumlah pendukung, dan harus jamin tidak luntur.


























