Oleh: Dr Sukron Ma’mun Yusuf MA

Jakarta – Dalam hitungan hari lagi kaum muslimin akan memasuki bulan suci Ramadhan. Setiap kali memasuki Ramadhan, sesungguhnya kita akan memasuki bulan baru, minggu baru, hari baru, jam baru, menit baru bahkan detik baru, karena hakikatnya itu semua merupakan jumlah/bilangan waktu. Ketika waktu bertambah, maka otomatis jatah kehidupan kita berkurang.
Imam Hasan al-Bashri berkata, “Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.”
Oleh sebab itu, sangat tepat ketika bergantinya waktu maka kita melakukan muhasabah (introspeksi diri). Hal ini agar kita dapat mengukur diri sudah sejauh mana melewati hari-hari dan mengisinya dengan amal-amal kebajikan.
Dengan begitu, diharapkan sisa waktu yang akan dilewati dapat dimaksimalkan lagi untuk diisi dengan amal kebajikan yang banyak.
Muhasabah merupakan cara efektif untuk meningkatkan kesadaran diri, karena memang secara umum manusia lalai disebabkan oleh kecendrungan pada dunia.
Allah SWT berfirman di dalam Surah al-Rum (30) ayat (7) sebagai berikut:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُون
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”
Sayidina Umar bin Khattab berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab”.
Nasihat ini sebuah peringatan buat kita agar selalu melakukan aktifitas muhasabah dan sekaligus menginformasikan kepada kita tentang hisab Allah nanti di hari akhir yang sangat dahsyat.
Dengan muhasabah kita berhenti sejenak dari aktifitas fisik dan mengoptimalkan aktifitas psikis untuk melihat dan merenungi tentang diri sendiri (QS 30: 8).
Allah SWT berfirman di dalam QS al-Ruum (30) ayat (8) sebagai berikut:
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.”
Pada saat merenung tentang diri itulah kita flashback ke belakang untuk meninjau kembali episode dari kehidupan yang telah lewat. Ketika proses muhasabah berlangsung maka hati nurani memegang peranan penting dan mengambil posisi sebagai hakim atau penilai bagi perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan.
Muncullah rasa kepuasan dan kebahagiaan manakala mengingat perbuatan baik yang telah dilakukan, namun acap kali muncul rasa kesedihan dan penyesalan manakala mengingat perbuatan buruk yang dilakukan.
Peran hati nurani tersebut dinamakan retrospektif (penilaian moral terhadap perbuatan yang telah dilakukan).
Kesadaran diri merupakan titik tolak perubahan yang mendasar bagi kehidupan manusia. Perubahan dalam pengertian maknawi dimulai dari adanya kesadaran diri seseorang, sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa kesadaran diri maka perubahan tidak mungkin terjadi.
Sementara kesadaran diri muncul dari adanya aktifitas muhasabah. Dengan kata lain, jika tidak ada aktifitas muhasabah maka mustahil kesadaran itu akan muncul dalam diri seseorang. Di sinilah arti penting melakukan muhasabah.
Di samping itu, jika kita membaca sejarah biografi orang-orang saleh terdahulu, maka kita akan menemukan bahwa muhasabah menjadi aktifitas yang tidak pernah mereka tinggalkan.
Aktifitas muhasabah mereka lakukan tidak terbatas pada momentum pergantian tahun, akan tetapi minimal setiap hari sekali, ada juga yang melakukannya setiap saat. Bahkan manakala mereka mendapatkan musibah, mereka langsung melakukan muhasabah.
Paling tidak sebelum memejamkan mata di malam hari, mereka terlebih dahulu melakukan muhasabah untuk meninjau kembali aktifitas mereka dalam satu hari.
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar setiap malam menjelang tidur selalu melakukan muhasabah dengan sebuah cemeti di tangannnya. Apabila ia mengingat kelalaian yang dilakukannya oleh bagian dari tubuhnya, maka ia memecutnya sebagai “iqob” (hukuman) bagi dirinya.
Setelah kesadaran muncul pada diri seseorang, lalu sebuah tujuan hidup biasanya akan terbentang dengan jelas. Muncul pula sebuah tekad untuk mewujudkannya. Lalu dibuatlah perencanaan tentang apa-apa yang mesti dilakukan ke depan sebagai persiapan dan perbekalan menuju kesuksesan hari kemudian.
Dalam hal ini, Allah berfirman di dalam surat al-Hasyr ayat (18) sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’
Oleh karena itu, mari kita lakukan aktifitas muhasabah menjelang masuknya bulan Ramadhan agar muncul kesadaran diri untuk berubah dan selanjutnya berusaha meningkatkan kuantitas dan kualiatas amal ibadah di bulan Ramadhan sehingga kehidupan kita semakin hari semakin baik. Insya Allah!























