Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – “Kamu tahu enggak sih, Ibumu ini sudah pintar, cantik, karismatik, pejuang. Opo maneh (apa lagi) (yang kalian cari)?” kata Ibu Suri dalam sebuah “paseban agung” di negeri antah-berantah, baru-baru ini.
Ia lalu memamerkan pencapaian puncaknya di bidang akademis, yakni mendapatkan gelar 2 profesor, 9 gelar doktor, dan menyusul 5 gelar doktor lagi yang tertunda diterima karena pandemi Covid-19.
Adapun pencapaian puncaknya di bidang politik, semua mafhum bahwa dia pernah duduk di singgasana kerajaan, sebagai wakil ratu dan kemudian ratu di negeri antah-berantah. Plus, menjadi ratu sebuah komunitas selama lebih dari dua dekade. Kita beri saja dia gelar Ibu Suri. Kini ia sedang mencoba menjadi “queen maker”.
Sebelum datang ke “paseban agung”, di tengah perjalanan, mungkin ia teringat dan kemudian terinspirasi oleh kisah Narcissus, seorang pemburu cantik asal Yunani yang melihat bayangan dirinya sendiri di kolam air di tengah hutan, lalu jatuh cinta kepada bayangannya sendiri yang cantik itu. Legenda Narcissus ditulis oleh Ovid lebih dari dua ribu tahun lalu.
Narsisisme (dari bahasa Inggris) atau narsisme (dari bahasa Belanda) adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist). Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud (1856-1939), pakar psikoanalisis, dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos (versi bahasa Latin: Narcissus), yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam.
Ia sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam di kolam dan akhirnya tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga “narsis”.
Salah satu teori narsisme paling populer dari Freud menerangkan narsisme sebagai perasaan cinta pada diri sendiri yang disertai kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri, kagum pada diri sendiri hingga sangat memperhatikan kecakapan atau kecantikannya.
Umumnya orang yang memiliki sifat narsisme kesulitan untuk sadar dengan keadaan aktual dirinya sendiri serta bagaimana cara orang lain memandangnya. Kesulitan inilah yang kemudian mengantarkan mereka ke masalah dalam menyesuaikan diri.
Dikutip dari Wikipedia, sifat narsisisme ada dalam setiap diri manusia sejak lahir, bahkan Andrew Morrison, pemain sepakbola asal Skotlandia, berpendapat dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain.
Narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis.
Kelainan kepribadian atau bisa disebut juga penyimpangan kepribadian merupakan istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang, di mana pada kondisi tersebut cara berpikir, cara memahami situasi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal.
Kondisi itu membuat seseorang memiliki sifat yang menyebabkannya merasa dan berperilaku dengan cara-cara yang menyedihkan, membatasi kemampuannya untuk dapat berperan dalam suatu hubungan.
Seseorang yang narsis biasanya terlihat memiliki rasa percaya diri yang sangat kuat, tetapi apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya sebagai yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain.
Selain itu, seseorang dengan sifat narsis yang berlebihan memiliki kecenderungan untuk meninggikan dirinya di hadapan orang lain, menjaga harga dirinya dengan merendahkan orang lain saat orang lain memiliki kemampuan atau hal yang lebih baik darinya, bahkan tidak segan untuk mengasingkan orang lain untuk memperoleh kemenangan.
Ia, misalnya, mengganggap seseorang yang kemudian menjadi raja dulunya adalah bukan siapa-siapa, dan kalau tidak ikut masuk komunitasnya, maka seseorang itu tetap bukan siapa-siapa, tidak akan menjadi raja.
Ia juga terkesan mengasingkan orang lain, meski orang itu sesungguhnya saat ini sangat populer, bahkan sangat potensial menjadi raja berikutnya.
Beberapa teori yang berlaku saat ini menyatakan bahwa penyebab narsisme dipengaruhi beberapa hal seperti faktor biologis dan genetik, faktor sosial, dan faktor psikologis seseorang. Semua faktor itu dimiliki oleh Ibu Suri.
Selain narsisme individu, dalam “paseban agung” itu juga muncul nuansa narsisme kolektif, yakni jenis narsisme berlebih terhadap identitas grup atau kelompok pribadi yang menyatakan sebagai bagian dari komunitas atau perkumpulan sosial tersebut.
Dibandingkan makna asli narsisme yang cenderung pada individualitas, narsisme kolektif bermakna sekelompok individu yang memiliki kecenderungan memuja kelompok mereka sendiri yang menimbulkan entitas narsisme. Meskipun sering dihubungkan dengan etnosentrisme, cakupan narsisme kolektif melingkupi berbagai entitas, ras, negara, agama dan tanah air sedangkan etnosentrisme terbatas hanya dalam cakupan budaya dan etnis.
Perbedaan Narsisme dan Narsistik
Dikutip dari berbagai sumber, sifat narsisme cukup sering tertukar dengan gangguan kepribadian narsistik (narcissistic personality disorder). Padahal dua hal ini memiliki perbedaan signifikan yang perlu dipahami.
Secara garis besar, perbedaan utamanya adalah narsisme bukan merupakan penyakit mental, tidak memiliki gangguan kepribadian, dan lebih tertarik dengan mendapatkan kekuasaan, uang, dan prestise.
Orang yang memiliki sifat narsis biasanya dipandang sebagai orang yang menjengkelkan karena sering merasa lebih superior daripada orang lain. Lebih jauh lagi, mereka tidak merasa hal ini sebagai sebuah kesalahan.
Mereka juga memiliki empati yang sangat sedikit terhadap perasaan, kondisi, atau situasi orang lain. Tak jarang orang dengan sifat narsis merasa berhak mendapatkan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan memandang rendah orang-orang yang merasa kagum kepadanya.
Jika dibutuhkan, mereka bahkan bisa dengan mudah memanfaatkan orang lain demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, tanpa merasa malu atau bersalah sama sekali. Sejarah mencatat adanya pemimpin yang narsis, karena umumnya sifat ini dibarengi dengan keinginan mendapatkan kekuasaan.
Sementara gangguan kepribadian narsistik (narcissistic personality disorder) merupakan gangguan mental di mana pengidapnya ingin orang lain merasa kagum kepada dirinya sendiri dan mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Namun di balik topeng kepercayaan diri yang tinggi tersebut, mereka nyatanya sangat rentan terhadap kritikan dan memiliki harga diri yang sangat rapuh. Sering kali hal ini menimbulkan kesalahpahaman untuk orang lain.
Contohnya, pengidap gangguan kepribadian ini akan terlihat penuh percaya diri dan cenderung sombong. Namun sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa malu dan hina yang sangat besar dan merasa rendah diri.
Sekali lagi, ia sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam di kolam dan akhirnya tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga “narsis”.
Engkaukah itu, Ibu Suri? Semoga bukan!


























