Awalnya nasib bandara Kertajati tak jelas sejak bandara itu diresmikan s Kini meski aktifitas masi minim penernangan masih jauh menguntungkan dan masa depannya semakin nampak sinarnya
Bandung,-Fusilatnews.–Aktivitas di Bandara Kertajati yang minim penerbangan. Pemerintah mengakui bahwa proyek ini belum sukses. Jika ditinjau dari aspek biaya untuk membangun salah satu infrastruktur besar dari pemerintahan Presiden Joko Widodo ini tidak sedikit, mencapai Rp 2,6 triliun.
Akibat minimnya penerbangan dan untuk menghidupi operasional perusahaan, manajemen bahkan sempat membuka diri untuk mendapat uang dari foto pra wedding saat masa pandemi Covid-19.
Bandara Kertajati sebagai bandara baru yang relatif operasionalnya juga sangat baru tetap bisa diikuti model bisnisnya oleh bandara besar sekelas Ngurah Rai. Dian menyebut Bandara Ngurah Rai juga melakukan hal yang sama.
Tujuannya untuk mendapatkan kas dari sumber lain.”Memang bagian dari upaya sebenarnya untuk bagaimana kita bertahan,” ungkap General Administration PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (PT BIJB), Dian Nurrahman ll1/5/).
“Kita lakukan untuk bisa bertahan di masa pandemi. Di luar negeri juga sama, banyak perusahaan yang kemudian pada saat itu mereka harus berpindah dulu dari bisnis core lainnya,” imbuhnya.
Kini perlahan Bandara Kertajati mulai ramai. Ini tidak lain karena bandara yang berlokasi di Majalengka ini menjadi tempat keberangkatan jemaah umrah.
Dari catatan PT Angkasa Pura II (Persero), lalu lintas penerbangan di Bandara Kertajati diramaikan dengan penerbangan umrah Lion Air pada 15 April 2023. Lalu menyusul penerbangan umrah Garuda Indonesia pada 9 Mei 2023.
Kemudian penerbangan reguler rute internasional oleh AirAsia direncanakan 17 Mei 2023, serta penerbangan haji pada Juni 2023.
“Kami tidak berdiam diri, dengan AirAsia contohnya itu upaya kita semua bahwa ada kerja sama kita mengenai tiket dan sebagainya betul ada program-program yang ditawarkan AirAsia, dalam hal penerbangan pertama nanti di 17 Mei. Minat masyarakat udah 50-60% per hari ini,” sebutnya.
“MRO gak cuma 1 cluster tapi ada beberapa cluster lain yang kita masih belum diproses untuk penjualannya. Lalu kemudian diisi lagi ada penjualan untuk area cargo memang ada peminatnya dan bahkan sudah ada juga yang secara serius masuk ke bandara ini,” klaim Dian.
Selain itu, Dian mengklaim investor sudah banyak yang berminat pada pengembangan Maintenance Repair Overhall (MRO) atau hanggar. Saat ini sudah ada satu cluster yang memang dilelangkan dan sudah ada pemenangnya. Saat ini dalam proses siap membangun hanggar.
Sorotan terhadap Bandara Kertajati disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian sekaligus Ketua Tim KPPIP Wahyu Utomo. Menurutnya, pencapaian buruk Bandara Kertajati dikarenakan belum selesainya Tol Cisumdawu.
“Kalau sukses, contohnya MRT. Kalau yang belum sukses itu contohnya Bandara Kertajati. Saya mengangkat itu karena berkaitan langsung dengan Cisumdawu,” kata Wahyu di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta Selatan, Senin (8/5
























