Oleh : Sadarudin el Bakrie | Pengamat Ekonomi Politik
Stagflation is an economic phenomenon that is defined by periods with considerable inflation, little to no growth, and high unemployment. (Lihat : Amanda Reaum – seeking Alpha- Finnance & Investment Journal Jun 9 2022 )
Sebelum tahun 1970-an, teori ekonomi yang dominan menyatakan, bahwa inflasi hampir selalu meningkat ketika tingkat pengangguran rendah dan menurun ketika tingkat pengangguran tinggi. Sejak itu para ekonom harus menyempurnakan teori ekonomi tersebut.
Stagflasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perekonomian yang mengalami inflasi yang sangat tinggi, pengangguran yang tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang lamban bahkan negative. Istilah ini merupakan portmanteau yang menggabungkan kata stagnasi dalam PDB dan inflasi.
Periode stagflasi lazim pada 1970-an dan 1980-an di sebagian besar ekonomi utama. Ini mengejutkan para ekonom karena teori ekonomi dominan saat itu, teori makroekonomi Keynesian, mengemukakan bahwa peningkatan inflasi dan pengangguran tidak dapat terjadi pada saat yang bersamaan.
Ini sebagian didasarkan pada Kurva Phillips, model ekonomi yang digunakan untuk menyatakan bahwa ada hubungan terbalik antara pengangguran dan inflasi.
Para ekonom mengidentifikasi banyak faktor potensial yang mempengaruhi stagflasi termasuk kejutan pasokan yang tiba-tiba dan kebijakan pemerintah yang berbahaya. ( Lihat : Amanda Reaum – seeking Alpha- Finnance & Investment Journal Jun 9 2022 )
Berdasarkan kerangka teori yang dikutib dari artikel Amanda Reaum diatas, yang penting untuk disoroti adalah kejutan pasokan secara mendafak dan kebijakan regime Jokowi yang sembrono.
Menghilangnya beberapa kebutuhan pokok masyarakat seperti minyak goreng dan bagaimana respon pemerintah terhadap langkanywbpasokan minyak goreng adalah contoh kesembronoan pemerintah dalam kebijakan mengenai minyak goreng ini.
Melonjaknya harga cabe juga langkanya beberapa kebutuhan pokok lainnya mencerminkan ekonomi sedang bergerak menuju situasi yang memburuk.
Pengangguran
Menurut Badan Pusat Statistik Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2022 sebesar 5,83 persen. Ada penurunan 0,43 persen dibandingkan dengan Februari 2021.
Jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 8,40 juta orang per Februari 2022. Jumlah itu turun sekitar 350.000 orang dari posisi per Februari 2021 yang mencapai 8,75 juta orang. Tapi gambaran yang sebenar tak sekecil itu.
Selama masa 2 tahun Pandemic Covid -:19 yang menciptakan banyak pemutusan hubungan kerja tentu saja menambah jumlah pengangguran. Dan banyak pakar memperkirakan angka pengangguran kita mencapai antara 10 persen sampai 12 persen.
Pertumbuhan ekonomi
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2021 adalah 3,69%,” kata Margo Yuwono, Kepala BPS dalam konferensi pers, Senin (7/2/2022)
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)pada Agustus 2021 jumlah angkatan kerja Indonesia sebanyak 140,15 juta orang, naik 1,93 juta orang dibanding Agustus 2020. Tentu saja pertumbuhan ekonomi sebesar 3,69 persen tak mampun menutup kesenjangan akibat tingginya pertumbuhan angkatan kerja.
Itulah mengapa para pakar dan pengamat ekonomi independen mengatakan bahwa tingkat pengangguran jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan BPS ke publik.
Inflasi
Inflasi adalah kecenderungan kenaikan harga – harga kebutuhan pokok masyarakat Badan Pusat Statistik (BPS), melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2021 tetap rendah dan berada di bawah kisaran 3,0±1%. Artinya tingkat inflasi mencapai tingkat tertingg 4 persen.
Sedangkan angka Inflasi pada Juni 2022 menunjukkan sebesar 0,19 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Juni) 2022 sebesar 1,82 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Juni 2022 terhadap Juni 2021) sebesar 2,63 persen.
Inflasi cukup rendah sepanjang tahun 2021 sampai 2022. Tapi dengan langkanya pasokan minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya. Melonjaknya harga cabe yang saat ini masih bertengger diatas Rp 100 ribu per kilo,
Ditambah kebijakan pemerintah menaikkan BBM dan TDL dan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing yang semakin rendah, tentu saja akan menciptakan inflasi yang lebih tinggi lagi, bahkan diperkirakan meloncat diatas 10 persen sampai akhir tahun 2022.
Tingginya tingkat inflasi ini diakibatkan oleh melonjaknya biaya – biaya akibat kenaikan BBM, TDL, turunnya nilai tukar rupiah yang mengakibatkan kenaikan harga pada impor bahan baku industri. Termasuk industri makanan seperi; tahu, tempe, mie instant roti dan berbagai bahan makanan lainnya yang bahan bakunya diimpor.
Angka pengannguran yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang sangat dan meningkatnya angka inflasi menggerakkan ekonomi nasional kedalam mimimpi buruk stagflasi.
Jika terjadi stagflasi maka masyarakat berpenghasilan rendah atau masyarakat miskin tak lagi mampu membeli kebutuhan pokok mereka.
Bagi mereka yang bekerja, stagflasi dapat menyebabkan risiko kehilangan pekerjaan dan membawa pulang upah yang lebih rendah, yang akan menurunkan kepercayaan konsumen dan daya beli mereka.
Bagi Investor, stagflasi hanya menghasilkan margin keuntungan lebih rendah karena tingginya harga input dan penjualan yang lebih rendah dan laba perusahaan jadi turun, selanjutnya pasar saham mengalami penurunan.
Diividen yang diterima investor juga dapat terkena dampak negatif karena menurunnya laba usaha. Atau perusahaan menangguhkan dividen mereka untuk menghemat uang tunai. .
Stagflasi juga berdampak pada perdagangan internasional, karena meningkatnya harga komoditas global termasuk makanan, mengakibatkan harga lebih mahal, selanjutnya mendorong inflasi lebih tinggi lagi.
Dari gambaran konsekwensi jika terjadi stagflasi, dan regime Jokowi gagal menangani dengan kebijakan ekonomi yang benar dan tepat, maka tak terhindarkan regime Jokowi dengan cepat jatuh terguling oleh amukan rakyat.
Sadarudin el Bakrie | Pengamat Ekonomi Politik | Alumni Universitas Negeri Jember.






















