Dolar Amerika Serikat (AS) terus melejit. Indeks Harga Konsumen (CPI/IHK) tercatat 9,1% secara tahunan (year on year/yoy) dalam pengumuman Rabu (13/7/2022) pagi waktu setempat.
Ini menjadi yang tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Angka itu juga jauh di atas perkiraan sejumlah ekonom yang dikumpulkan media dan lembaga, seperti Dow Jones, 8,8%.
“Pembeli membayar harga yang lebih tinggi secara tajam untuk berbagai barang pada bulan Juni karena inflasi terus menahan perlambatan ekonomi AS,” kata Biro Statistik Tenaga Kerja dalam pengumumannya dikutip CNBCIndonesia.
Secara basis bulanan, IHK utama naik 1,3% sementara IHK inti naik 0,7%. Kenaikan utamanya karena harga bahan bakar yang melambung hingga US$ 5 per galon (sekitar 4,5 liter).
Sebelumnya, Gedung Putih memang telah memperkirakan data inflasi Juni “sangat tinggi”.
“Kami memperkirakan data inflasi akan sangat meningkat, terutama karena harga gas sangat tinggi di bulan Juni,” kata Sekretaris Pers Karine Jean-Pierre
Dampak Ke Rupiah
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengungkapkan rupiah cenderung mengalami pelemahan, terutama karena ekspektasi inflasi yang meningkat di berbagai negara, dan diikuti oleh kenaikan suku bunga global.
“Hal ini yang kemudian mendorong pelemahan sebagian besar mata uang Asia belakangan. Tidak hanya dari sisi ekspektasi kebijakan moneter global, sentimen risk-off juga mulai meningkat seiring dengan potensi risiko resesi global akibat mulai menurunnya indikator ekonomi negara maju,” ungkapnya dikutip detik.com , Rabu (13/7/2022).
Josua mengatakan pelemahan rupiah ini pada dasarnya didorong oleh faktor eksternal, yaitu dari sisi sentimen suku bunga dan juga kekhawatiran akan resesi. maka kebijakan yang efektif dalam penanganan pelemahan rupiah kali ini adalah kebijakan moneter, yang dapat berpengaruh lebih cepat.
“Salah satu alternatif dalam stabilisasi nilai tukar di jangka pendek untuk bank sentral di antaranya adalah kebijakan intervensi yang lebih agresif untuk menahan pelemahan lebih lanjut, ataupun menaikkan suku bunga, dengan harapan gap suku bunga antara Indonesia dan negara maju cenderung lebih meningkat lagi,” ungkapnya. Kemudian pelebaran gap tersebut diharapkan dapat menarik kembali arus aliran modal asing ke Indonesia, sehingga nilai tukar dapat kembali menguat terhadap Dolar AS.
“Dari sisi fundamental, pada dasarnya transaksi berjalan Indonesia diperkirakan masih solid, terlihat dari neraca perdagangan yang masih membukukan surplus relatif besar, sehingga intervensi untuk mendorong ekspor belum akan terlalu signifikan pada nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Lebih lanjut dari sisi lapangan usaha yang memiliki komponen impor yang tinggi sementara penjualannya dalam denominasi rupiah diperkirakan akan berdampak dari pelemahan nilai tukar rupiah. Beberapa sektor domestik yang memiliki komponen impor yang tinggi antara lain industri tepung gandum, perhiasan, pesawat terbang dan jasa perbaikannya, barang-barang dan elektronik.
Sementara itu, Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan, dampak yang akan terasa dari penguatan dolar AS ini adalah kenaikan harga barang seperti elektronik, suku cadang otomotif sampai obat-obatan yang memang bahan bakunya impor. Bhima mengatakan dengan naiknya harga bahan baku ini maka biaya produksi akan naik signifikan akibat inflasi dan selisih kurs yang membuat perusahaan yang memiliki ketergantungan impor sebagai efisiensi. “Risiko efisiensi ini akan ada potensi gelombang PHK pada industri manufaktur,” kata dia.























