By Paman BED
Seorang akuntan duduk bersimpuh di masjid menjelang syuruq.
Langit masih gelap. Matahari belum menampakkan dirinya. Suasana hening, tetapi pikirannya sedang berjalan jauh melampaui dinding masjid dan batas negara.
Di tangannya ada sebuah surat keputusan.
SK pengangkatan.
Promosi.
Penempatan di Singapura.
Bagi sebagian orang, itu adalah kabar gembira. Puncak karier. Pengakuan atas kemampuan dan kerja keras yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Tetapi di dalam dirinya, surat itu justru melahirkan pertanyaan.
Mengapa Allah membawanya ke sana?
Apa yang sedang dipersiapkan-Nya?
Apa pelajaran yang akan lahir dari perjalanan itu?
Ia terbiasa membaca ayat-ayat kauniyah dalam hidupnya. Peristiwa-peristiwa yang tampak biasa tetapi sebenarnya merupakan bahasa Allah yang tidak tertulis. Kadang jawabannya datang cepat. Kadang baru dipahami beberapa bulan kemudian.
Namun kali ini berbeda.
SK Direksi itu terasa seperti lembar soal ujian yang belum diketahui pertanyaannya.
Ia bersyukur.
Tetapi sekaligus beristighfar.
Karena pengalaman mengajarinya satu hal: tidak semua promosi adalah hadiah, sebagaimana tidak semua kesulitan adalah hukuman.
Kadang jabatan hanyalah ruang ujian yang lebih besar.
Kadang fasilitas hanyalah alat untuk mengukur seberapa kuat seseorang mempertahankan prinsipnya.
Dan kadang keberhasilan hanyalah pintu masuk menuju ujian yang lebih berat.
Pagi itu, dalam sujud dan doanya, ia melantunkan sebuah ayat yang sudah lama dikenalnya:
“Rabbi adkhilnii mudkhala shidqin wa akhrijnii mukhraja shidqin waj’al lii min ladunka sulthaanan nashiiraa.”
“Ya Tuhanku, masukkan aku dengan cara masuk yang benar, dan keluarkan aku dengan cara keluar yang benar, serta berikanlah kepadaku kekuasaan yang menolong.”(QS. Al-Isra: 80)
Saat itu ia belum memahami mengapa ayat tersebut terasa begitu dekat.
Jawabannya baru datang setahun kemudian.
Penempatan itu ternyata bukan sekadar perpindahan lokasi kerja.
Di sana ia berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih penting daripada target bisnis, laporan keuangan, atau pencapaian korporasi.
Ia berhadapan dengan hati nuraninya sendiri.
Di hadapannya terbentang pilihan yang sering hadir dalam berbagai bentuk di dunia profesional.
Mendukung kebatilan.
Membiarkan kebatilan.
Atau melawan kebatilan.
Pilihan yang terlihat sederhana dalam teori, tetapi sangat mahal dalam praktik.
Karena kebatilan tidak selalu datang dalam bentuk yang kasar dan terang-terangan.
Sering kali ia datang bersama fasilitas.
Datang bersama jabatan.
Datang bersama kenyamanan.
Datang bersama kesempatan untuk hidup lebih mudah.
Dan justru karena itulah ia menjadi berbahaya.
Dalam situasi seperti itu, seseorang mulai memahami bahwa ujian terbesar bukanlah kekurangan.
Ujian terbesar justru sering datang dalam bentuk kelimpahan.
Bukan ketika tidak memiliki apa-apa.
Tetapi ketika memiliki banyak hal yang bisa hilang.
Alih-alih menjadi bagian dari mekanisme yang membiarkan penyimpangan berlangsung, akuntan itu memilih jalan yang berbeda.
Ia menyusun proposal SOP risk management.
Sebuah sistem yang dirancang untuk menutup celah.
Mencegah penyimpangan.
Mengurangi peluang korupsi.
Mengubah proses agar lebih akuntabel.
Keputusan itu tidak populer.
Karena setiap celah yang ditutup akan mengganggu mereka yang selama ini menikmati celah tersebut.
Setiap sistem yang diperbaiki akan membuat sebagian orang kehilangan kenyamanan.
Dan setiap upaya menjaga integritas hampir selalu memiliki konsekuensi.
Ia memahami risikonya.
Tetapi ia juga memahami sesuatu yang lebih penting.
Bahwa manusia mungkin tidak selalu bisa memilih hasil, tetapi selalu bisa memilih sikap.
Ia memilih tetap berdiri di pihak yang menurut keyakinannya benar.
Dan sebagaimana sering terjadi dalam sejarah, kebenaran tidak selalu menghasilkan kemenangan yang cepat.
Ketika SOP itu mulai berlaku, masa jabatannya justru segera berakhir.
Ia tidak kehilangan integritas.
Tetapi kehilangan kursinya.
Ia tidak kehilangan hati nurani.
Tetapi kehilangan posisinya.
Bagi sebagian orang, itu mungkin tampak seperti kekalahan.
Namun benarkah demikian?
Di sinilah makna ayat Al-Isra ayat 80 menjadi sangat menarik.
Kebanyakan manusia berdoa agar dimasukkan ke dalam jabatan.
Dimasukkan ke dalam kekuasaan.
Dimasukkan ke dalam keberhasilan.
Dimasukkan ke dalam posisi yang tinggi.
Tetapi Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Allah tidak hanya mengajarkan cara masuk.
Allah juga mengajarkan cara keluar.
Karena ternyata hidup tidak hanya diukur dari bagaimana seseorang mencapai sebuah posisi.
Tetapi juga dari bagaimana ia meninggalkan posisi tersebut.
Banyak orang masuk dengan terhormat tetapi keluar dengan kehinaan.
Banyak orang masuk dengan idealisme tetapi keluar dengan kompromi.
Banyak orang masuk dengan sumpah jabatan tetapi keluar dengan vonis pengadilan.
Banyak orang berhasil mencapai puncak, tetapi gagal menjaga dirinya ketika berada di atas.
Karena itu doa ini bukan sekadar doa kesuksesan.
Ini adalah doa integritas.
Doa agar proses masuknya benar.
Perjalanannya benar.
Dan keluarnya pun tetap benar.
Dalam tafsir para ulama, ayat ini awalnya berkaitan dengan hijrah Rasulullah ď·ş dari Makkah ke Madinah. Rasul berdoa agar keluar dari Makkah dengan cara yang diridhai Allah dan masuk ke Madinah dengan cara yang diridhai Allah.
Namun maknanya jauh melampaui peristiwa sejarah tersebut.
Ayat ini berlaku untuk setiap fase kehidupan manusia.
Masuk ke sekolah.
Masuk ke pekerjaan.
Masuk ke organisasi.
Masuk ke bisnis.
Masuk ke jabatan.
Masuk ke masa pensiun.
Bahkan pada akhirnya masuk ke alam kubur dan keluar kembali pada hari kebangkitan.
Semua membutuhkan satu hal yang sama:
Kejujuran terhadap kebenaran.
Mungkin itulah pelajaran terbesar yang akhirnya dipahami oleh sang akuntan.
Bahwa keberhasilan sejati bukanlah bertahan selama mungkin di sebuah kursi.
Keberhasilan sejati adalah tetap menjadi diri sendiri ketika kursi itu hilang.
Karena jabatan hanyalah titipan.
Fasilitas hanyalah pinjaman.
Kekuasaan hanyalah amanah.
Tetapi integritas adalah sesuatu yang akan ikut pulang bersama kita.
Ketika masa jabatan berakhir, yang tersisa bukanlah nama kantor, bukan pula ruang kerja, mobil dinas, atau fasilitas yang pernah melekat.
Yang tersisa adalah jawaban atas satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita masuk dengan cara yang benar?
Dan apakah kita keluar dengan cara yang benar?
Kesimpulan
Al-Qur’an melalui QS. Al-Isra ayat 80 mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang mencapai sesuatu, tetapi tentang menjaga kebenaran sepanjang perjalanan menuju dan meninggalkan sesuatu tersebut. Kemuliaan manusia tidak hanya ditentukan oleh posisi yang berhasil diraih, melainkan oleh integritas yang berhasil dipertahankan.
Masuk dengan benar adalah kehormatan.
Keluar dengan benar adalah kematangan.
Dan mampu menjaga keduanya adalah karunia yang tidak diberikan kepada semua orang.
Saran
Dalam setiap promosi, jabatan, usaha, maupun amanah baru, mungkin ada baiknya kita tidak hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?”
Tetapi juga bertanya, “Jika suatu hari saya harus meninggalkannya, apakah saya dapat keluar dengan kepala tegak?”
Karena pada akhirnya sejarah tidak selalu mengingat siapa yang paling lama berkuasa.
Tetapi hampir selalu mengingat siapa yang tetap berdiri bersama kebenaran ketika kekuasaan harus ditinggalkan.
Referensi
Al-Qur’an Surat Al-Isra (17): 80.
Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS. Al-Isra ayat 80.
Tafsir Ath-Thabari, penafsiran QS. Al-Isra ayat 80.
Al-Qur’an Surat Al-‘Ashr (103): 1–3.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 7.
Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, pembahasan QS. Al-Isra ayat 80.
By Paman BED


















