FusilatNews– Di media sosial, angka-angka tentang “jutaan umat Islam murtad setiap tahun” sering beredar tanpa sumber yang jelas. Ada yang mengklaim Islam sedang ditinggalkan massal, ada pula yang mengatakan tidak ada pemurtadan sama sekali. Pertanyaannya: apa kata data?
Jawabannya mungkin mengejutkan banyak orang.
Berdasarkan survei global paling komprehensif yang dirilis oleh Pew Research Center pada 2025, tingkat perpindahan keluar dari Islam ternyata termasuk yang paling rendah dibandingkan dengan agama-agama besar dunia lainnya.
Pew menggunakan istilah religious switching (perpindahan agama), yaitu perbandingan antara agama saat seseorang dibesarkan dan identitas agamanya ketika dewasa. Metode ini dianggap lebih akurat daripada sekadar menghitung konversi formal.
Data Negara-Negara yang Memiliki Angka Terukur
| Negara | Keluar dari Islam | Catatan |
|---|---|---|
| Indonesia | <1% | Perubahan sangat kecil |
| Bangladesh | <3% | Mayoritas tetap Muslim |
| Malaysia | <3% | Retensi sangat tinggi |
| Tunisia | <3% | Ada tren sekularisasi muda |
| Turkey | <3% | Muncul kelompok nonreligius tetapi belum masif |
| Israel (Muslim Arab) | Sangat rendah | Stabil |
| United States | ±23% | Angka tertinggi dalam survei Pew |
Pew menyimpulkan bahwa di 13 negara yang memiliki sampel Muslim yang cukup besar untuk dianalisis, perpindahan keluar maupun masuk Islam hanya berada di kisaran 3 persen atau kurang dari total populasi dewasa.
Mengapa Amerika Menjadi Kasus Berbeda?
Amerika Serikat merupakan pengecualian yang menarik.
Sekitar seperempat orang yang dibesarkan sebagai Muslim tidak lagi mengidentifikasi diri sebagai Muslim saat dewasa. Namun fenomena ini hampir sepenuhnya diimbangi oleh masuknya mualaf baru ke dalam Islam. Akibatnya, jumlah Muslim Amerika relatif tetap stabil.
Artinya, meskipun ada yang keluar dari Islam, ada pula yang masuk Islam dalam jumlah yang hampir seimbang.
Timur Tengah Mulai Mengalami Sekularisasi?
Di sejumlah negara Arab muncul fenomena baru yang menarik perhatian para peneliti.
Lembaga riset Arab Barometer menemukan adanya peningkatan warga yang menyebut dirinya “tidak religius”. Angkanya memang belum besar, tetapi menunjukkan perubahan sosial yang sebelumnya jarang terlihat.
Pada 2013, hanya sekitar 8 persen responden Arab yang menyebut dirinya tidak religius. Pada 2018 angkanya naik menjadi sekitar 13 persen.
Negara-negara yang sering disebut mengalami tren tersebut antara lain:
- Tunisia
- Morocco
- Algeria
- Turkey
- Iran
Namun penting dicatat: menjadi “tidak religius” tidak selalu berarti berpindah agama atau menjadi ateis. Banyak responden tetap mengaku Muslim secara identitas budaya tetapi tidak aktif menjalankan praktik keagamaan.
Mengapa Angka Pemurtadan Sulit Diketahui?
Ada tiga faktor utama:
1. Tekanan Sosial
Di banyak negara mayoritas Muslim, mengaku keluar dari Islam dapat menimbulkan konflik keluarga, pengucilan sosial, bahkan ancaman keamanan pribadi. Karena itu banyak eks-Muslim memilih diam.
2. Tidak Ada Sensus Resmi
Sebagian besar negara tidak memiliki data resmi tentang perpindahan agama. Pemerintah hanya mencatat agama saat sensus tanpa menelusuri perubahan keyakinan sepanjang hidup seseorang.
3. Identitas dan Keyakinan Tidak Selalu Sama
Banyak orang tetap menulis “Islam” di dokumen negara meskipun secara pribadi sudah tidak menjalankan ajaran agama atau bahkan tidak lagi mempercayainya.
Fakta yang Jarang Diangkat
Di tengah narasi bahwa Islam sedang mengalami gelombang pemurtadan global, data justru menunjukkan hal yang berbeda.
Menurut Pew, Islam merupakan salah satu agama dengan tingkat retensi tertinggi di dunia. Sebagian besar orang yang lahir sebagai Muslim tetap menjadi Muslim ketika dewasa.
Laporan global Pew juga menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi Muslim dunia masih menjadi yang tercepat dibanding agama besar lainnya. Faktor utamanya bukan konversi, melainkan struktur usia yang lebih muda dan tingkat kelahiran yang lebih tinggi.
Kesimpulan
Narasi tentang “gelombang pemurtadan besar-besaran umat Islam dunia” hingga saat ini belum didukung oleh data ilmiah yang kuat.
Yang terlihat dari penelitian internasional justru lebih kompleks:
- Ada peningkatan kelompok nonreligius di beberapa negara Muslim.
- Ada eks-Muslim yang tumbuh di negara-negara Barat.
- Namun tingkat keluar dari Islam secara global masih relatif rendah.
- Islam tetap menjadi agama dengan retensi penganut yang sangat tinggi.
- Pertumbuhan Muslim dunia masih terus berlangsung.
Dengan kata lain, yang sedang terjadi bukanlah “tsunami pemurtadan”, melainkan perubahan sosial yang berjalan perlahan, berbeda-beda di setiap negara, dan jauh lebih rumit daripada klaim-klaim viral di media sosial.



















