Oleh Yusuf Blegur
Mungkin Bahlil Lahadalia dan Immanuel Ebenezer terlalu mabuk jabatan dan terlalu sering meneguk kerasnya perjuangan hidup rakyat. Akibatnya, mereka kehilangan kendali diri dan tak mampu mengontrol ucapannya. Kedua pejabat kementerian itu meragukan nasionalisme generasi muda yang bekerja di luar negeri dan bahkan menyerukan agar mereka tak perlu kembali ke Indonesia. Mereka memvonis miring anak-anak muda yang mandiri, tidak menjadi beban negara, dan justru berkontribusi bagi perekonomian nasional. Ironisnya, Bahlil dan Noel sendiri hanyut dalam sistem korup yang terus mereka nikmati di negeri ini.
Sebagai Menteri ESDM dan Wakil Menteri Tenaga Kerja, Bahlil dan Noel adalah contoh nyata pejabat yang mengagungkan jabatan. Kecintaan mereka terhadap kursi kekuasaan membuat pikiran, ucapan, dan tindakan mereka selalu merendahkan perbedaan pendapat serta sikap kritis. Pernyataan mereka mengenai nasionalisme dalam menanggapi tagar “kabur aja dulu”—yang mencerminkan keinginan anak muda untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri—sungguh memalukan. Tak ubahnya celotehan tak bermutu yang keluar dari mulut pejabat yang kehilangan arah.
Bagaimana tidak? Ekspresi dan aspirasi anak muda yang memilih bekerja di luar negeri justru diragukan nasionalismenya oleh Bahlil. Sementara itu, dengan ketus, Noel menyarankan agar mereka tak perlu kembali ke Indonesia. Pernyataan ini mencerminkan betapa dangkalnya pemahaman mereka terhadap perjuangan rakyat. Selevel menteri dan wakil menteri, mereka justru mengosongkan otak demi mempertahankan jabatan. Tak ada simpati dan empati bagi putra-putri bangsa yang berjuang mencari nafkah di negeri asing. Tak ada refleksi, evaluasi, atau introspeksi terhadap dunia ketenagakerjaan di Indonesia yang masih jauh dari ideal.
Anak-anak muda yang merantau ke luar negeri demi kehidupan yang lebih baik justru lebih mulia dibanding Bahlil dan Noel. Mereka mengandalkan jerih payah sendiri, hidup jauh dari keluarga, dan menghadapi berbagai keterbatasan di negeri orang. Namun, mereka memilih jalan itu karena merasa lebih dihargai di negara lain—di mana profesionalisme diakui, dan keahlian diapresiasi tanpa diskriminasi. Sementara itu, di Indonesia, anak muda kerap diabaikan, tidak dianggap sebagai aset berharga, dan seringkali dihambat untuk berkembang.
Alih-alih menciptakan peluang kerja bagi rakyatnya, pemerintah malah menggelar karpet merah bagi tenaga kerja asing dan investasi yang seringkali mengorbankan kepentingan bangsa. Ini bukan hanya mematikan lapangan kerja bagi generasi muda, tetapi juga perlahan-lahan menjual kekayaan alam serta kedaulatan negara. Bahlil dan Noel hanyalah dua dari sekian banyak pejabat yang menjadi bagian dari sistem pemerintahan yang amburadul. Alih-alih membenahi keadaan, mereka justru sibuk menghakimi anak-anak muda yang berjuang untuk bertahan hidup.
Padahal, fakta menunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) adalah pahlawan devisa, penyumbang terbesar setelah migas. Sementara itu, Bahlil dan Noel, dengan segala fasilitas negara yang mereka nikmati, kontribusinya terhadap kesejahteraan rakyat masih dipertanyakan. Mereka malah sibuk menggerus keuangan negara tanpa memberikan solusi nyata. Sungguh ironis, mereka menepuk air di dulang, tapi justru wajah mereka sendiri yang terpercik.
Justru nasionalisme Bahlil dan Noel yang patut dipertanyakan. Sebagai pejabat publik, apakah mereka bersih dari kejahatan keuangan dan praktik korup yang telah mengakar dalam struktur pemerintahan? Apakah mereka bukan bagian dari lingkaran kekuasaan yang turut merampok kekayaan negara? Jika mereka masih menikmati kue kekuasaan yang lahir dari distorsi dan destruksi negara, sebaiknya mereka diam dan bekerja lebih nyata. Jangan sibuk berkomentar soal nasionalisme sementara mereka sendiri justru menikmati hasil dari sistem yang korup.
Bahlil dan Noel sebaiknya mengisi otaknya yang kosong dengan pemikiran kritis, karya nyata, dan prestasi yang dapat dibanggakan. Jangan terlalu percaya diri dengan status politisi yang mendapat jatah jabatan. Sebab, jika terus larut dalam sistem yang korup, mereka hanya akan menjadi simbol dari nasionalisme palsu—nasionalisme yang dikendalikan oleh kepentingan pribadi dan kerakusan terhadap kekuasaan.
Bekasi, Kota Patriot
22 Syaban 1446 H / 21 Februari 2025




















