Oleh Prihandoyo Kuswanto | Ketua Pusat Study Kajian Rumah Panca Sila
Situasi dan kondisi negara ini semakin parah ,politik dianggap segala nya dan tidak ada yang berfikir kerusakan yang ditimbulkan nya .
Tragedi di Makamah Konstitusi menjadi triger kemarahan semua orang ,kegaduhan terjadi di seantero negeri .
Yang dulu pemuja sampai sundul langit sekarang membenci dan melontarksn caci maki agar bisa pindah posisi untuk cari makan dengan caci maki .
Kerusakan negeri ini dikarenakan permainan sembilan ketua partai politik yang harus nya bertangungjawab, merekalah yang mengadu domba rakyat nya .
Sejak diganti nya UUD 1945 dengan UUD 2002 dan Pancasila dirobek- robek diganti dengan Individualisme,Liberalisme,Kapitalisme dengan sistem presidenseil yang basis nya Individualisme ,maka kekuasaan dipertarungkan banyak banyakan suara,kalah menang ,kuat kuatan ,kaya kayaan,bandar -bandaran serba perjudian dan curang curangan .
Era Jokowi adalah era
post truth .
Post truth adalah suatu era dimana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran. Caranya dengan memainkan emosi dan perasaan netizen. Apakah Indonesia pernah mengalaminya? Bukan hanya pernah, tapi sudah dan masih mengalaminya saat ini seakan akan terjadi pertarungan politik padahal semua itu hanya skenario yang dilakukan oleh 9 ketua ketua partai itu semua berbagi peran dalam Gimik politik .
Kalau Gilbran itu sudah berkhianat pada PDIP Megawati akan memecat nya seperti Budiman Sudjatmiko ,atau melengserkan Jokowi dari petugas partai .
Jadi semua yang terjadi hiruk pikuk ini hanya pernainan Gimik politik saja.
Semakin hari semakin ramai kepalsuan kepalsuan yangvdi pertontonkan oleh pelsku politik .Indonesia akhir nya juga terpecah lagi kalsu dulu kampret dan cebong sekarang juga terpecah yang pingin statusqu padahal Pak Jokowi dihujat oleh pemuja nya melawan perubahan .
Rupa nya perpecahan ini akan semakin melebar kalau melihat show of force PDIP dengan pasukan Cakra Buana yang dikomandani mantan mantan Jendral dan mantan Komandan Kopasus .yang tidak sepaham dengan PDIP dianggap musuh tentu ini mengerikan perpecahan bangsa ini semakin dititik nadir .
Belum lagi anak anak muda PSI yang mengusung politik ala Ninja dan membangun diksi polutik Jokowisme entah apa yang ada dipikuran mereka padahal Indonesia ini tidak boleh ada isme sekain Pancasila sebab Pancasila sudah menjadi ideologi pilihan bangsa dan isme ya Pancasila yang menjadi pertanyaan besar antitesis apa Jokowisme itu ? Kalau Jokowisme adalah antitesis dari Pancasila sangat gawat begeri ini walau tidak salah juga sebab Pancasila sudah tidak ada dan Jokoisme mengisi kekosongan ideologi sejak UUD 1945 diganti dengan UUD 2002 .
Kembali pada pemilu
Memang aneh negeri ini dan cara berfikir elite politik nya Negara ini didirikan berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa serta didorongkan oleh keinginan luhur.
Tetapi milih pemimpin nya dengan sistem perjudian ,banyak banyakan suara ,pertarungan kalah menang ,curang curangan .Dan lebih aneh lagi ulama nya mendukung dan ikut serta.
Apakah Golkar dengan pengalaman asam garam nya politik di Indonesia begitu bodoh memilih Gilbran sebagai Cawapres nya Prabowo ,Atau Prabowo yang jendral dan mantan komandan Kopasus begitu bodoh memilih Gibran yang kata pembenci nya disebut Bocil ,tidak berpengalaman .
Tentu saja kita hanya bisa melihat dari permukaan tidak bisa melihat dari balik panggung politik .
Kalau kita melihat Megawati seakan tidak perna salah padahal kerusakan negeri ini adalah akibat dari diri nya .
Dimulai dengan diamandemen nya UUD 1945 padahal bukan diamandemen tetapi duganti dengan UUD 2002 sebab 97 persen yang diganti UUD 1945 dan Pancasila dibuang diganti dengan Individualisme ,Liberalisme ,Kapitalisme.dan kemudian Pancasila dimasukan kotak yang namanya BPIP ini post thruth yang dilakukan Megawati kepada bangsa Indonesia. sebuah vidio ..”Pancasila itu dengan ilmu baru itu tidak cocok Pancasila itu apa tidak ada arti nya kita harus rombak kita harus dirikan yang lain sifatnya.
Padahat bapak nya Sendiri Bung Karno mengatakan UUD 1945 itu UUD yang keramat .
Kalau seorang anak sudah menjadi Malin Kundang berkhianat kepada bapak nya maka tunggulah kehancuran nya.
Masih banyak para politikus dan pengamandemen UUD 1945 yang tidak membaca sejarah dengan benar. Begitu juga umat Islam yang ikut mengamandemen UUD 1945
Padahal UUD 1945 itu adalah UUD yang dalam pembentukannya memohon petunjuk Allah
Cuplikan pidato Bung Karno di sidang PPKI.
”Alangkah keramatnja, toean2 dan njonja2 jang terhormat, oendang2 dasar bagi sesoeatoe bangsa. Tidakkah oendang2 sesoeatoe bangsa itoe biasanja didahoeloei lebih doeloe, sebeloem dia lahir, dengan pertentangan paham jang maha hebat, dengan perselisihan pendirian2 jang maha hebat, bahkan kadang2 dengan revolutie jang maha hebat, dengan pertoempahan darah jang maha hebat, sehingga sering kali sesoeatoe bangsa melahirkan dia poenja oendang2 dasar itoe dengan sesoenggoehnja di dalam laoeatan darah dan laoetan air mata.
Oleh karena itoe njatalah bahwa sesoeatoe oendang2 dasar sebenarnja adalah satoe hal jang amat keramat bagi sesoeatoe rakjat, dan djika kita poen hendak menetapkan oendang2 dasar kita, kta perloe mengingatkan kekeramatan pekerdjaan itoe.
Dan oleh karena itoe kita beberapa hari jang laloe sadar akan pentingnja dan keramatnja pekerdjaan kita itoe. Kita beberapa hari jang laloe memohon petoendjoek kepada Allah S.W.T., mohon dipimpin Allah S.W.T., mengoetjapkan: Rabana, ihdinasjsiratal moestaqiem, siratal lazina anamta alaihim, ghoiril maghadoebi alaihim waladhalin.
Dengan pimpinan Allah S.W.T., kita telah menentoekan bentoek daripada oendang2 dasar kita, bentoeknja negara kita, jaitoe sebagai jang tertoelis atau soedah dipoetoeskan: Indonesia Merdeka adalah satoe Republik. Maka terhoeboeng dengan itoe poen pasal 1 daripada rantjangan oendang2 dasar jang kita persembahkan ini boenjinja: “Negara Indonesia ialah Negara Kesatoean jang berbentoek Republik”.
Jadi sangat yakinlah kita bahwa UUD 1945 itu dibuat bukan dengan sementara, bukan dengan singkat. Tetapi dengan ijin Allah SWT, hal inilah yang tidak dibaca oleh Megawati dan pengamandemen UUD 1945.
Kedurhakaan Megawati ini apa ada yang berani mengingatkan dimana PDIP dengan menganggap Megawati sebagai Ratu ,yang ditakuti oleh pengikut nya .
Maka sesungguh nya kata tegak lurus ke Megawati yang di ucapkan Ganjar Pranowo adalah menunjukan sikap Megawati yang otoriter Presiden diberi diksi Petugas Partai adalah bentuk bentuk otoriter yang meletakan partai politik diatas negara ,bukan sebalik nya partai politik adalah bagian dari negara .
Yang lebih mengerikan Arogansi partai politik adalah merubah Bhinekatunggal Ika yang tercermin didalam konfigurasi MPR dimana MPR terdiri dari DPR ,Utusan Daerah dan Utusan utusan Golongan duganti hanya satu golongan yaitu Golongan Partai Politik.
Jadi kerusakan negara yang dilakukan oleh partai politik sudah masuk pada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dan menuju musna nya negara yang di Proklanasikan 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta. .
Jadi sama artinya telah durhaka mencabut gelar Proklamator pada Soekarno Hatta sebab UUD 2002 tidak ada kaitan sejarah dengan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.
Pertanyaan besar pada kita semua termasuk pada ketua ketua partai politik apaka kita akan membiarkan negara ini musna ? Atau jita kembali pada Pancasila dan UUD 1945.

























