Di sebuah kesempatan acara Halal Bilhalal di Garut, saya berada pada posisi yang tidak bisa dihindari: yang paling “ditua-tuakan.” Maka seperti lazimnya tradisi kita, saya diminta menyambut, lalu memberi sedikit wejangan. Bukan sesuatu yang luar biasa, tapi dari situlah percakapan kecil justru membuka satu renungan besar.
Saya memilih berbicara tentang satu hal yang sering luput dari kesadaran kita sendiri: mengapa bangsa China bisa maju?
Banyak jawaban bisa diberikan—teknologi, disiplin, sistem pendidikan, atau kekuatan ekonomi negara. Tapi ada satu fondasi yang jarang dibahas secara jujur, padahal ia bekerja diam-diam, mengakar, dan menentukan arah: budaya relasi.
Dalam tradisi Tiongkok, dikenal sebuah konsep yang sangat kuat, yaitu guanxi—jaringan hubungan antarmanusia yang dibangun di atas kepercayaan, loyalitas, dan timbal balik. Ia bukan sekadar pertemanan, bukan pula sekadar koneksi profesional. Guanxi adalah investasi sosial yang dirawat dalam waktu panjang, bahkan lintas generasi.
Orang-orang dalam jaringan guanxi tidak sekadar saling mengenal, tetapi saling menjaga. Hubungan tidak dibiarkan dingin, tidak pula bersifat transaksional jangka pendek. Ia hidup, bergerak, dan menjadi jalur mengalirnya peluang, informasi, bahkan perlindungan.
Di titik ini, saya mengatakan kepada hadirin: kita sebenarnya tidak asing dengan konsep itu.
Dalam Islam, kita mengenalnya sebagai silaturahmi.
Sebuah ajaran yang tidak hanya mendorong hubungan baik, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari ibadah. Silaturahmi bukan sekadar memperpanjang jaringan sosial, melainkan memperluas rahman-rahim dalam kehidupan. Ia bukan hanya soal “siapa yang kita kenal,” tetapi “seberapa dalam kita menjaga dan merawat hubungan itu.”
Ironisnya, di sinilah letak persoalan kita.
Apa yang dalam ajaran kita bernilai spiritual tinggi, justru sering kita jalankan secara seremonial. Silaturahmi hadir dalam momen-momen tertentu—Idul Fitri, undangan, atau acara formal—namun jarang menjadi kekuatan sosial yang terstruktur dan berkelanjutan.
Sementara itu, di tempat lain, nilai yang serupa justru dihidupkan secara konsisten dan dijadikan fondasi kemajuan.
Bangsa China tidak lebih “unggul” dalam konsepnya. Mereka hanya lebih disiplin dalam menjalankannya.
Dari relasi yang terjaga, lahir kepercayaan. Dari kepercayaan, tumbuh kerja sama. Dari kerja sama, tercipta kekuatan ekonomi. Dan dari kekuatan ekonomi, terbentuklah peradaban yang kokoh.
Semua itu berawal dari sesuatu yang sederhana: menjaga hubungan.
Di tengah penjelasan itu, saya teringat pada seorang ustadz yang juga dosen lintas budaya—sebut saja Ustadz Ali. Ia selalu menarik ketika berbicara, karena tidak berhenti pada dalil, tetapi bergerak dengan data. Ia menunjukkan bagaimana nilai-nilai yang kita yakini sebenarnya telah terbukti bekerja di berbagai peradaban, termasuk yang tidak menjadikannya sebagai ajaran agama.
Di situlah kita seperti disadarkan kembali—bahwa masalah kita bukan kekurangan nilai, melainkan kekurangan kesungguhan dalam menghidupkan nilai.
Silaturahmi bukan sekadar anjuran moral. Ia adalah infrastruktur sosial. Ia bisa menjadi kekuatan ekonomi, kekuatan politik, bahkan kekuatan peradaban—jika dijalankan dengan kesadaran dan konsistensi.
Pertanyaannya sederhana, tapi tidak ringan: mengapa apa yang kita miliki sebagai ajaran, justru lebih berhasil dijalankan oleh orang lain sebagai budaya?
Barangkali jawabannya ada pada diri kita sendiri.
Bahwa kita terlalu sering merasa cukup dengan mengetahui, tanpa benar-benar mengamalkan.
Dan di Garut, dalam percakapan sederhana itu, saya hanya ingin mengingatkan satu hal: jangan sampai kita kehilangan kekuatan kita sendiri—bukan karena tidak punya, tetapi karena tidak menjaganya.
























