Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Seberapa pentingkah Teddy Indra Wijaya bagi bangsa ini?
Mungkin penting. Tapi tidak penting-penting amat. Sebab banyak anak-anak bangsa ini yang siap menggantikannya sebagai Sekretaris Kabinet. Bahkan dengan kapasitas dan kualitas yang lebih mumpuni.
Seberapa pentingkah Teddy Indra Wijaya bagi Prabowo Subianto? Mungkin penting. Bahkan penting-penting amat, sehingga Presiden RI ini kerap memberikan perlakuan istimewa bagi mantan ajudannya itu.
Perlakuan istimewa tak masalah. Asalkan tak memanfaatkan fasilitas negara. Kalau memanfaatkan fasilitas negara, wajib hukumnya untuk dikritik, bahkan dicerca.
Teranyar, perlakuan istimewa Prabowo terhadap Teddy yang patut diduga memanfaatkan fasilitas negara terjadi di sebuah hotel mewah di Paris, Prancis, saat Prabowo berkunjung ke negara itu untuk menemui Presiden Emmanuel Macron.
Hari itu, Selasa (14/4/2026), bertepatan dengan ulang tahun ke-37 pria ganteng yang lahir di Manado, Sulawesi Utara, 14 April 1989 itu. Melalui asisten pribadinya, Prabowo mempersembahkan kue dan lilin ulang tahun untuk ditiup Teddy. Teddy pun meniupnya dengan bahagia.
Kita pun ikut bahagia. Akan tetapi, kebahagiaan itu seketika sirna ketika kita menyadari tarif hotel tempat Prabowo dan rombongan menginap. Hotel itu adalah Four Seasons Hotel George V, salah satu hotel paling ikonik dan mewah di dunia, dengan tarif mencapai Rp500 juta per malam.
Ada atau tidak ada ulang tahun Teddy, Prabowo tetap menginap di hotel mewah itu. Jadi, fasilitas negara untuk acara ulang tahun Teddy tak seberapa. Bahkan mungkin Prabowo akan berdalih kue dan lilin ulang tahun untuk Teddy itu dibeli dengan uang pribadinya. Boleh saja. Tapi menumpang acara pribadi di hotel yang dibayar dengan uang negara itu tetap saja memanfaatkan fasilitas negara. Waktu yang mestinya untuk keperluan negara juga tersita.
Ulang tahun adalah acara privat. Tak ada kontribusinya bagi negara. Tapi mengapa harus memanfaatkan fasilitas negara meskipun tidak seberapa?
Tahun lalu, ulang tahun Teddy juga dirayakan Prabowo di sela-sela kunjungan kenegaraannya ke Jordania.
Inifisiensi
Bukan kali ini saja Prabowo memberikan perlakuan istimewa kepada Teddy, ajudannya semasa menjabat Menteri Pertahanan RI. Kenaikan pangkat Teddy dari Mayor menjadi Letnan Kolonel pun dilakukan dengan istimewa, bahkan dengan menabrak aturan yang ada.
Pun untuk mengangkat Teddy menjadi Sekretaris Kabinet, Prabowo juga perlu membuat aturan khusus. Pokoknya, demi Teddy Wijaya, Prabowo rela melakukan apa saja. Termasuk menabrak aturan yang ada.
Mungkin karena selalu diperlakukan istimewa oleh Prabowo itulah Teddy merasa jemawa. Bahkan seorang jenderal pun harus membungkuk di depan letkol itu. Ada pula jenderal yang ditegur di muka umum.
Pengamat pun menyebut banyak yang mengalami inflasi. Berbanding terbalik dengan dirinya yang mengalami deflasi: seorang letkol bisa menjadi seskab. Ruarrr biasa!
Alhasil, acara ulang tahun Teddy Wijaya dan pilihan Prabowo menginap di hotel paling mahal di Paris menambah panjang daftar paradoks mantan Komandan Jenderal Kopassus itu.
Efisiensi anggaran yang selalu ia gembar-gemborkan pun akhirnya sekadar omong kosong belaka.
Sebagai seorang presiden, sepertinya Prabowo perlu belajar sikap kepemimpinan dari Ki Hadjar Dewantara. Menurut Bapak Pendidikan Nasional itu, ada tiga sikap yang harus diambil oleh seorang pemimpin. Yakni, “Ing arsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani”.
Ing arsa sung tuladha berarti jika seorang pemimpin berada di depan, maka ia harus memberikan contoh atau teladan. Ing madya mangun karsa berarti jika seorang pemimpin berada di tengah, maka ia harus membangun prakarsa atau kreativitas. Tutwuri handayani berarti jika seorang pemimpin berada di belakang, maka ia harus memberikan dorongan atau penguatan.
Adapun bagi Teddy Indra Wijaya, kiranya tak boleh lagi bersikap “adigang adigung adiguna” atau mentang-mentang jadi orang besar, pejabat tinggi dan pintar. Ingat, dunia selalu berputar. Hari ini di atas, esok mungkin di bawah. Begitu seterusnya.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)





















