• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Negara Siapkan Panggung Sirkus: Jokowi, Gibran, dan Lakon Ijazah Amburadul

Ali Syarief by Ali Syarief
October 25, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Kekaburan Ijazah Jokowi dan Gibran: Menggugat Integritas Kepemimpinan
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Kalau negeri ini punya panggung sandiwara, mungkin sudah waktunya diberi nama: “Republik Ketoprak Ijazah dan Silsilah Pendidikan.” Sebab, di atas panggung itu, dua tokoh utama—seorang bapak dan anak—sedang jadi tontonan publik paling heboh sejagat medsos. Yang satu dituduh ijazahnya palsu, yang satu lagi riwayat pendidikannya amburadul. Dan yang lebih lucu: negara memilih diam, menonton sambil ngemil kuaci di belakang layar.

Cobalah bayangkan. Negara yang begitu reaktif kalau ada emak-emak salah tulis status di Facebook, kini mendadak kalem. Lembaga-lembaga resmi yang biasanya cepat bikin konferensi pers, kini seperti sedang puasa bicara. Polisi yang dulu bisa memanggil orang karena “menghina lambang negara,” kini mungkin bingung, karena yang jadi bahan cemoohan bukan lambangnya—tapi orangnya.

Rakyat pun jadi penonton yang terheran-heran. “Lho, ini serius nggak sih?” tanya mereka sambil menatap layar ponsel. Di satu sisi, mereka melihat pemerintah begitu tangguh menghadapi kritik kecil. Di sisi lain, menghadapi tuduhan sebesar ijazah palsu, negara malah seperti pura-pura tuli.

Tapi mungkin, diamnya negara ini justru adalah bentuk pertunjukan terbesar abad ini. Ya, bisa jadi kita sedang disuguhi drama absurd bergaya Kafka: dua tokoh utama berdiri di tengah panggung, disorot lampu terang, sementara penonton bersorak, melempar popcorn, dan bersiul nyinyir.
Negara tidak datang menolong, tidak pula melerai. Hanya menonton dari kejauhan, seperti berkata:

“Rasain, tuh! Kalian dulu yang mengagungkan. Sekarang tontonlah idolamu dibedah publik!”

Kalau ini teater, maka rakyat bukan lagi penonton pasif. Mereka sudah naik ke panggung, membawa mikrofon, dan mulai menulis naskah tandingan. Media sosial jadi arena gladi resik. Twitter, TikTok, dan YouTube jadi sutradara sekaligus hakim.

Dan kita semua tertawa getir.
Sebab di republik ini, ijazah bukan sekadar kertas kelulusan. Ia bisa berubah jadi simbol legitimasi kekuasaan, jadi tiket menuju singgasana politik. Jadi wajar kalau ketika isu itu meledak, masyarakat bertanya: “Kalau ijazah saja bisa abu-abu, bagaimana dengan kebijakan?”

Sementara itu, sang anak, yang riwayat pendidikannya disebut-sebut amburadul, justru melenggang tenang ke panggung politik tertinggi—seolah dunia ini panggung gladi bersih tanpa penguji. Kalau dulu untuk jadi guru saja harus lulus PPG, sekarang untuk jadi pemimpin cukup dengan “lulus dari lingkungan istana.”

Negara masih diam.
Mungkin karena kalau bicara, takut lidahnya keseleo.
Atau mungkin karena diam adalah cara paling aman untuk melindungi wajah sendiri dari tamparan logika rakyat.

Dan di tengah keheningan itu, kita jadi paham: ini bukan sekadar soal ijazah atau riwayat sekolah. Ini tentang rasa malu yang ditunda, tentang sebuah bangsa yang membiarkan panggungnya jadi tempat ejekan global.

Mungkin benar kata kawan saya di warung kopi:

“Negara ini bukan nggak bisa menjawab, tapi takut kalau jawabannya malah makin lucu.”

Karena kalau negeri ini sampai jujur membuka semua naskah drama, kita bisa menemukan babak paling ironis:
Negara yang dulu berdiri atas semangat kejujuran, kini justru menjadi aktor utama dalam kebisuan kolektif.

Dan di situlah tragedinya. Sebab dalam republik yang kehilangan rasa malu, pendidikan bukan lagi soal membentuk karakter, tapi sekadar alat legitimasi. Anak-anak sekolah diajari “jujur dan disiplin,” sementara di atas panggung negara, ketidakjelasan malah disembah.

Mahbub Djunaidi mungkin akan menulisnya begini:

“Bangsa yang kehilangan kejujuran adalah bangsa yang sudah tamat sebelum ujian nasional dimulai.”

Jadi, ketika negara terus diam atas kasus ijazah dan pendidikan yang amburadul itu, mungkin bukan karena tidak tahu jawabannya. Tapi karena jawabannya sendiri sudah menjadi lelucon yang terlalu pahit untuk diucapkan.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bahlil dan Sindrom L’Etat c’est Moi

Next Post

Damai Hari Lubis dan Rizal Ramli: Sikap terhadap Rezim Jokowi

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni
Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Next Post
Damai Hari Lubis dan Rizal Ramli: Sikap terhadap Rezim Jokowi

Damai Hari Lubis dan Rizal Ramli: Sikap terhadap Rezim Jokowi

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist