Jakarta, Fusilatnews.id – Kalau Nahdatul Ulama (NU) sudah turun gunung, berarti negara dalam kondisi genting, terancam chaos. Begitulah asumsi yang berkembang di masyarakat sejauh ini.
Kini, pasca-pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar dan Pertalite per 3 September lalu, apakah situasi keamanan dalam negeri Indonesia terancam chaos atau kekacauan?
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Haji Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengaku maklum dengan kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM.
Pasalnya, menurut dia, keputusan tersebut memang harus dilakukan pemerintah di tengah situasi sulit akibat dampak Pandemi Covid-19 dan situasi global.
“Kebijakan kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah merupakan pilihan sulit di tengah situasi pelik ini. Namun, kami memaklumi kenapa Pemerintah menaikkan BBM,” ucap Gus Yahya, Jumat (9/9/2022), sebagaimana dikutip dari Kompas TV.
Oleh karena itu, kata Gus Yahya, PBNU memilih tidak mengambil sikap yang membebani pemerintah dengan kebijakannya menaikkan harga BBM.
Senada, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, underbow NU, Yaqut Cholil Qoumas mendukung kenaikan harga BBM, mulai dari harga BBM bersubsidi Pertalite dan Solar hingga BBM non-subsidi Pertamax. Yaqut yang juga Menteri Agama dan adik kandung Yahya Cholil Staquf ini menyebut apa yang dilakukan pemerintah merupakan bentuk keadilan subsidi untuk rakyat.
“Di balik penyesuaian ini, Ansor melihat ada komitmen kuat dari pemerintah untuk menata pos-pos subsidi, yang awalnya dinikmati sekitar 70 persen kalangan menengah ke atas berubah untuk masyarakat bawah,” ujar Yaqut Cholil Qoumas dalam keterangannya dikutip dari suara.com,baru-baru ini.
“Ini justru bentuk keadilan subsidi untuk rakyat,” Yaqut menambahkan.
Namun baik Gus Yahya maupun Gus Yaqut tidak menyebut jelas apakah turun gunungnya NU dan Ansor terkait situasi negara yang sedang terancam chaos pasca-harga BBM melonjak atau karena sebab lain. (F-2)


























