Pasal 7A, Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Isu pemakzulan Presiden Jokowi yang belakangaan ini kian sater, adalah potret situasi yang gamblang, jadi ada masalah yang serious. Pemakzulan lahir akibat dari beberapa elemen seperti; Penghianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana lainnya atau perbuatan tercela.
Namun demikian, proses pemakzulan, tidak mudah. Ada syarat-syarat yang harus ditenpuh, sehingga memakan cukup waktu. Karena itu yang kenceng disuarakan adalah isu “Perubahan”, oleh Paslon no 1.
Perubahan adalah realitas yang tak terbantahkan dalam dinamika kehidupan manusia. Masing-masing zaman memiliki hukumnya sendiri, sebuah tatanan yang tak terhindarkan setelah masa porak-poranda. Dalam fiksi budaya kita, kita menyaksikan fenomena ini sebagai “Satria Pininggit,” seorang tokoh penuh kebijaksanaan yang muncul dalam situasi krisis untuk membawa keteraturan. Dalam konteks tauhid ke-Islaman, perubahan ini disebut “Mujaddid,” atau pembaharu.
Konsep “Ordo Ab Chao” berasal dari bahasa Latin yang dapat diterjemahkan sebagai “Tertib dari Kekacauan.” Frasa ini mencerminkan ide bahwa seringkali perubahan dan kemajuan muncul setelah masa kekacauan atau keadaan yang sulit. Konsep ini tidak hanya terbatas pada konteks agama atau kepercayaan tertentu, tetapi juga muncul dalam pemikiran filsafat, sejarah, dan organisasi-organisasi misterius.
Selama Pemerintahan rezim Jokowi (Selama 9 tahun), dunia kita tenggelam dalam kekacauan. Terjadi kekisruhan politik, ketidaksetaraan sosial, dan gejolak ekonomi. Namun, sekarang saatnya bagi “Ordo Ab Chao” untuk muncul, mengemban misi membawa keteraturan setelah periode gelap tersebut. Sebagai hukum alam yang tak terelakkan, perubahan menjadi bagian dari sunatullah yang mengatur kehidupan.
Dalam sejarah, kita menemui tokoh-tokoh fiksi seperti Satria Pininggit, yang muncul di tengah-tengah kekacauan untuk mengembalikan keadilan dan ketertiban. Mereka membawa visi yang jelas, kebijaksanaan, dan keberanian untuk menghadapi tantangan zaman. Mereka adalah pionir perubahan yang menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat yang tengah terpuruk.
Konsep Mujaddid dalam ajaran Islam juga mencerminkan kebutuhan akan pembaharuan dan perubahan dalam setiap era. Mujaddid adalah figur yang diutus untuk memulihkan ajaran Islam yang murni dan memberikan arahan baru sesuai dengan tuntutan zamannya. Mereka menjadi penyeimbang ketika masyarakat terjerumus dalam kesesatan atau ketidakadilan.
Tentu saja, Ordo Ab Chao bukan sekadar jargon retoris, tetapi sebuah panggilan untuk bertindak. Diperlukan kepemimpinan yang bijaksana dan integritas moral untuk membimbing masyarakat melewati zaman kekacauan menuju keteraturan yang lebih baik. Perubahan harus dimulai dari dalam diri, dengan menanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan.
Bagaimanapun, hukum perubahan ini tetap adil. Mereka yang berusaha melawan arus waktu, yang ingin mempertahankan status quo yang tidak berkelanjutan, akan menemui kegagalan. Sunatullah mengajarkan kita untuk menyadari bahwa setiap porak-poranda akan diikuti oleh era ketertiban yang baru. Itu adalah siklus alamiah kehidupan.
Dalam era Ordo Ab Chao, kita semua memiliki peran untuk bermain. Setiap individu dapat menjadi agen perubahan dengan berkontribusi pada kebaikan bersama dan keadilan. Bagi mereka yang menerima tugas ini dengan rendah hati dan tekad yang kuat, mereka mungkin akan menjadi bagian dari garis keturunan Satria Pininggit atau Mujaddid masa kini.
Sebagai masyarakat, kita perlu membuka pikiran dan hati kita terhadap perubahan. Kita harus siap menerima Ordo Ab Chao sebagai bagian dari takdir yang tak terhindarkan. Dengan begitu, kita dapat bersama-sama membentuk masa depan yang lebih baik dan lebih berkeadilan untuk generasi yang akan datang.
Dalam banyak kebudayaan dan tradisi, konsep Ordo Ab Chao muncul sebagai bagian dari siklus alamiah kehidupan. Kekacauan atau perubahan mendahului penciptaan kembali dan pembentukan tatanan baru. Ide ini dapat ditemukan dalam pemikiran alam semesta yang dinamis dan terus berubah.
Ide perubahan yang menjadi Ruh Pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar muncul sebagai antitesa situasi saat ini. Mencari solusi baru dan kreatif untuk masalah-masalah ini dapat mengarah pada perubahan positif. Perubahan yang didorong oleh ide-ide inovatif dapat meningkatkan kualitas hidup.
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum – hingga kaum itu sendiri mau mengubah nasibnya sendiri”, nuansa al-qur’an.


























